
Sudah satu minggu sejak hari perkenalan tersebut Adila selalu meminta nasehat dari banyak pihak terutama Mama dan Allah.
Selama satu minggu penuh Adila selalu sholat Istiqarah, Adila tidak tahu harus bagaimana lagi. Bertanya pada mama bagaimana jika dia menolak dan menerimanya.
Pesan mama yang selalu mampir diotaknya.
"Dila, jika kamu menolak mungkin itu kenyataan terburuk atau terbaik, tapi jika kamu menerima tapi hati kamu mengatakan tidak mungkin akan semakin pahit terasa. Zulfikar adalah pria terbaik dipandangan mama, dia anak yang penuh sopan dan santun, dia selalu lembut dan jernih dalam mengambil setiap keputusan, mama sangat bangga jika dia bisa menjadi anak mama."
Malam ini Zulfikar datang lagi bersama Vena, tidak terkecuali gadis cantik usia 3 tahun itu.
Adila si Guru Tk itu malah asik bermain dengan gadis kecil itu, sorot mata Luna sangat indah menurut Adila.
"Kak Zulfikar, bisa kita bicara berempat bersama mama dan tante Vena ditaman belakang." pinta Adila ditengah keramaian ruang tengah saat mereka semua sedang bersenda gurau. Zulfikar tersenyum, senyumnya manis sekali pria tampan bertinggi badan sekitar 180 an itu mengenakan baju koko lengan pendek berwana merah lengkap dengan celana hitam dan rambut yang disisirnya menyamping.
Mereka duduk dikursi taman berempat, Adila dengan gemetar dan degub jantung yang memacu cepat mulai berkata-kata.
__ADS_1
"Saya akan memberi jawaban itu sekarang." Semua mata menatap kearahnya yang hanya bisa tertunduk menyimpan keraguan.
"Saya tau, tindakan saya tempo hari sungguh tidak baik, tapi jujur saya kaget dan sangat binggung, Kak Zul datang untuk mengkhitbah sementara kita baru bertatap wajah 1 kali, bahkan hanya sepersekian menit, saya hanya takut itu hanya emosi atau nafsu semata, karena abang sudah menjelaskan sepenuhnya ke saya." Adila berhenti dan menarik nafas panjang sementara Zulfikar diam mengamati setiap perkataan Adila.
"Maka dari itu saya meminta waktu 1 minggu itu untuk berfikir dan menimbang, lalu saya sudah mendapat keputusan itu, tapi... Kak Zul harus menjawab pertanyaan saya ini dengan sangat yakin dan haruslah tepat, apakah kak Zul siap?" Tuntut Adila pada pria dihadapannya itu.
"Saya siap Adila, mendengar pertanyaan kamu." Hanya kata itu yang keluar Zulfikar lagi-lagi dibuat cemas olehnya.
" Saya... Saya ingin bertanya wanita seperti apa yang Kak Zul inginkan sebagai pendamping hidup, berikan alasannya." Satu pertanyaan mencelos dari mulut Adila.
"Konsep apa yang akan Kakak jalan kan dalam berumah tangga?" pertanyaan kedua.
" Konsep lillahi taàla, dengan begitu semua yang kita lakukan bertujuan ibadah pada Allah.
"Apakah kakak sekarang mencintai saya?"
__ADS_1
"Belum, sampai saat ini saya belum mencintai kamu, karena kamu belum halal buat saya, dan saya juga tidak tau adakah nanti dalam dirimu yang bisa membuat saya jatuh cinta setelah sah menikah."
"Terakhir saya meminta alasan kak Zul mengapa memilih saya?"
"Karena kamu wanita pertama yang menundukan kepala dan mendobrak pintu ketika saya berhadapan dengan kamu, dan setelah melakukan beberapa diskusi dengan Allah saya mendapatkan jawaban." Zulfikar sangat yakin dengan semua jawabannya itu.
"Baiklah, saya menerima khitbah dari kak Zul, karena saat ini saya terus mendapatkan kematang dari setiap pernyataan kakak dan disana tidak ada kata kebohongan."
Mereka yang menyaksikan hanya bisa tersenyum gembira dengan keputusan tersebut, Mami Vena segera menentukan tanggal pernikahan mereka, serta menanyakan mahar yang diminta pihak wanita.
"Adila, pintalah mahar dari kami, karena kamu berhak atas itu." Paksa Mami Vena pada Adila dihadapan seluruh orang yang ada pada ruangan itu.
"Tante, Adila hanya mau apa yang pantas diberikan kepada Adila, saya juga tidak mau memberatkan dengan itu semua, semua terserah seperti apa yang pantas saya terima."
Semua orang bingung termasuk Zulfikar yang memikirkan apa yang pantas untuk seorang wanita seperti Adila.
__ADS_1