Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Abang Arsal


__ADS_3

Kehamilan Adila yang kedua saat ini tidak seperti waktu kehamilan pertamanya yang sangat menyakitkan itu. Adila kini lebih banyak makan dan hanya mau makan makanan pedas.


"Bee, kamu jadi antar aku ke periksa kandungan kan, soalnya gak ada waktu lagi, besok dokter Ema sudah kembali ke Jerman, jadi dia menunggu kita siang ini."


Tanya Adila pada suaminya yang sedang sibuk dengan beberapa berkas.


"Ya sudah, kita ajak Arsal juga?"


"Iya sayang ku, kalau tidak dengan Arsal lalu yang menjaganya dirumah siapa? Di rumah gak ada orang, suster juga hari ini semuanya minta izin." terang Adila.


Sesampainya di rumah sakit dokter Ema memeriksa kondisi kesehatan Adila, si kecil Arsal sibuk sendiri di gendongan Ayahnya.


"Sayang ku, main ini saja ya... Arsal anak baik, ini sayang ini saja ya..." Zulfikar mengalihkan perhatian Arsal yang hanya ingin memainkan peralatan yang ada di meja dokter Ema.


"Hallo, ganteng ku, anak baik, anak sehat, uuhhh... sini dokter kangen sekali dengan anak ini." Dokter Ema mengambil Arsal dari pelukan ayahnya.


"Iya dok, sekarang ganti nama bukan si manis lagi dia." Tukas Adila yang sudah kembali duduk.


"Siapa namanya sekarang?" tanya dokter Ema pada Arsal.


"Bosss.." Jawab Arsal dengan spontan.

__ADS_1


Dokter Ema tertawa. "Aduh... Boss ya, siapa yang ajarkan sayang?"


"yayah... cel." Arsal menjawab lagi dengan bahasanya.


"Siapa lagi kalau bukan pak bos dan ajudannya dok, anak ku jadi begini." jawab Adila.


"Iya, aku lagi yang kena deh..." Zulfikar menjawab dengan lemas.


"Oh ya... Dil, sepertinya itu laki-laki lagi deh. kandungan kamu itu yang sekarang lebih tahan banting sepertinya, soalnya bagus banget perkembangannya." Adila tersenyum lebar mendengar perkataan dokter.


"Berarti pulang dari Jerman, dokter lagi ya?" ujar Zulfikar yang memang telah mempercayakan kondisi sang istri.


"Enggak deh Tuan Fikar, yang menangani nanti dokter Andra, karena saya akan benar-benar fokus disana, kalau mau kamu dan istri yang harus kesana."


"Saya usaha kan deh kalau begitu, tapi kalau priksa bulanan sama dokter Andra tetap, kecuali melahirkan nanti, ya kalau ada masalah tinggal email saja lah." jawab dokter Ema.


Mereka pun pergi dari rumah sakit.


Zulfikar memberhentikan kemudinya di basment sebuah mall ternama.


"Mau ngapain kita ke mall bee?" tanya Adila.

__ADS_1


"Saya mau makan sama beli mainan Arsal."


"Mainan lagi, kamu kemarinkan habis belikan Arsal miniatur kereta listrik, sekarang mau beli apa lagi?" protes Adila karena memang Zulfikar baru kemarin siang membelikan Arsal beberapa dus mainan.


"Biarin aja, orang Arsal juga seneng kok, iya kan sayang."


Arsal hanya tersenyum melihat Ayahnya, Zulfikar menggendong Arsal, Setelah berkeliling cukup lama Arsal tertidur di pelukan Ayahnya.


Mereka pun berhenti di sebuah restoran bergaya Jepang, dengan shabu-shabu.


Arsal yang merem melek tergeletak di sofa.


"Yayah mamam..." Arsal berceloteh minta disuapi makanan oleh ayahnya.


"Iya, baca doa dulu abang Arsal."


Setelah membaca doa Arsal mengambil sendok yang di pegang ayahnya.


"Ehhh, udah gak sabar ya sayang, sini biar bunda yang suapi, kasih sendoknya ke ayah, abang sama bunda sini." Adila hendak mengambil Arsal dari sofa, tapi Arsal malah berontak tak mau dengan bundanya.


"Udah honey, jangan dipaksa dia maunya sama ayah, nih, buka mulut kamu bang." ucap Zulfikar.

__ADS_1


Dengan wajah ngantuknya Arsal mengunyah makan Adila menyenderkan Arsal pada sofa yang diduduki nya.


"Kalau sudah ngantuk tuh bobo aja bang, jangan minta makan." Zulfikar menyentuh hidung Arsal yang sedang asik mengunyah namun memejamkan mata, momen itu di abadikan lewat video oleh sang bunda yang gemas.


__ADS_2