Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Dia Orangnya


__ADS_3

Hari ini Zulfikar makan siang bersama beberapa klien dan Fano disebuah restoran disekitar kantor, setelah meating, Fano dan Zulfikar saling berhadapan. "Bagaimana adek kesayangan gue, lu gak macem-macem kan?" selidik Fano yang memang selalu begitu pada bos sekaligus sahabatnya. "Mana berani gue bro, adik lo itu jago taekwondo, bisa gue yang abis sama dia." Fano hanya tersenyum bangga.

__ADS_1


"Adila bukan belum bisa nerima lo brodher, Dila punya hal yang menyakitkan dalam percintaannya, mungkin itu yang buat Adila sampai sekarang belum bisa nyerahin hatinya buat lo, itu ujian terberat lo ya bro." Zulfikar hanya senyum dan dan menatap keluar jendela, ada sosok yang ditemuinya di resto tempo hari, seorang yang buat Dila meninggalkannya dan beradu emosi dengan batinnya.

__ADS_1


Fano dengan sigap berdiri menghadapi pria yang masih diambang pintu restoran, dia mengepal erat tangannya, "Brengsek!!!" bruak, bruak... bruak, tiga hantaman itu menerpa pelipis sang pria. " Untuk apa kau datang lagi ke tempat ini hah? saya tidak mengizinkan mu untuk menemui Adila dan berbohong lagi padanya, mengerti." Tapi anehnya sang pria malah tertawa. "Fan, udah Fan, gak gini selesaiin masalah." lerai Zulfikar pada abang ipar yang sedang kalap. "Sukur, lo aman sekarang, jangan coba sentuh dan datang dalam hidup Adila lagi, semua yang dia alami itu semua cukup menyiksa dia." ucap Fano yang masih dipegangi Zulfikar.

__ADS_1


"Apa sama Dila?" Fano menyelidik, mendengar kata janggal itu. "iya, tempo hari gue sama Dila ketemu dia di mall, Dila nangis dan berontak dia caci maki tuh orang Fan, ada apa sih sebenernya? gue kepo." Fano diam menatap satu titik didepannya. "Dila itu jatuh cinta sama Refan, orang yang kita temui tadi, saat itu Dila baru balik dari Holland, rencananya mau terus di Indonesia, tapi satu kejadian membuat Dila takut, sampai akhirnya Dila balik lagi ke Holland dan menetap selama 5 tahun disana buat tutupin semua rasa kecewanya. waktu itu gue sama mamah sempet bilang ke Dila kalau dia lelaki gak bener, tapi Dila gak percaya, sampai Dila lihat sendiri waktu dia tau cowok itu balik ke sini. Dila mati-matian minta sama papa biar bisa balik, Saat Dila balik, Dila datang ke apartemen cowok itu, lu tau bro apa yang dia lakuin?" Zulfikar berusaha menduga namun dia tidak sampai berfikir benar. "Apa bro?" "Cowok itu lagi berhubungan badan sama cewek yang mungkin cuma dibayar. Adik gue yang gak pernah liat adegan begitu langsung histeris, karena pintu hotel saat itu gak dikunci dan Adila juga sebelumnya udah janjian sama tuh orang. Sejak saat itu Dila trauma dengan para pria yang sengaja ngedeketinnya, Dila bilang semua pria itu sama cuma bernafsu, mangkanya dia nolak dan kasih pertanyaan ke lo, waktu itu."

__ADS_1


Zulfikar hanya mencerna kata-kata Fano dengan baik, "Jadi dia orangnya yang udah bikin istri gue sampai sekarang gak mau gue sentuh, tenang bang gue gak akan kecewain Dila, bahkan untuk hubungan yang gue ingin tapi Dila belum siap, gue akan selalu buat adik lo jatuh cinta sama gue setiap hari dan gak akan ada penyesalan setelah nya." Fano tersenyum dan menatap sahabatnya itu, "Thanks brother, gue pamit ya, masih ada lagi yang harus gue kerjain dilantai 5, gue titip Adila sama lu brother." Zulfikar hanya tersenyum menatap punggung Fano. "Dila, Dia Orangnya, yang selama ini membuat kamu terus membuktikan bahwa saya benar-benar tidak akan pernah meninggalkan mu dan hanya memaksakan kehendak saya, tidak Dila, saya cinta kamu, kamu tempat terakhir saya.

__ADS_1


__ADS_2