Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Malam Malam Mengesankan (M3)


__ADS_3

Hari ini entah kenapa aku senang sekali melihat video tekwondo di internet, rasanya sudah lama sekali tidak berlatih, ya semenjak satu bulan sebelum aku hamil dulu, aku memang sudah keluar dari club. Banyak yang menyayangkan kenapa harus keluar, jika memang keluar dari club adalah saran terbaik dari dokter, maka aku harus melepas club.


"Uhhh, emmhhh... Aduh kok kamu tendang bunda sih sayang, jangan kencang -kencang bunda sakit nih." oceh ku sambil tertawa.


"Honey, baby itu lagi praktekin yang ada di video tau, kamu sih lihatin itu mulu, baby jadi ingin belajar tuh." Kak Zul menyahut saat aku meringis kesakitan, akibat baby yang terus menendang.


"Kalau baby mau belajar, biar bunda yang ajarkan nanti, tapi kalau sudah lahir dan bisa jalan." ucap ku sambil mengelus perut besar ku.


"Bun kamu serius? mau ajarin baby tekwondo, nanti kalau disalah gunakan bagaimana?" Sahutnya lagi sambil menyingkirkan buku yang masih ia baca.


"Itu tugas kita untuk memberi arahan dan tetap mengontrol baby." Aku pindah ke ranjang duduk di sebelah kak Zul.


"Uhh, berat banget ya honey, sabar ya tinggal menunggu 1 bulan lagi kamu pasti terbebas dari rasa sesak." Dia mengelus perut ku dengan rasa haru, kemudian mengecup kening ku. Sesaat kemudian kak Zul duduk di paha ku menghadapkan wajah ke perut ku, dia bersolawat di sana.


"Baby, kalau sudah besar harus selalu menghormati bunda dan para wanita ya, jangan menyakiti mereka bahkan jika nanti kamu sangat di kuasai nafsu, jangan ya sayang." Aku memekik mendengar perkataan yang terlontar dari mulutnya.


"Bee, jangan ngomong yang aneh-aneh deh, baby gak akan seperti itu, ayah nya saja selalu menyayangi wanita maka baby juga akan begitu." Kesal ku pada kak Zul yang tetap saja tidak perduli dengan ocehan ku.

__ADS_1


Malam berlalu begitu saja dengan cepatnya, hari pun bertambah berat seiring berat badan ku yang juga bertambah.


"Bee, aku lelah sekali menuruni anak tangga yang tidak seberapa itu." Keluh ku pada suami ku yang duduk sambil menikmati siaran televisi malam.


"Sabar, kalau kamu bilang capek, itukan yang kamu inginkan terus ngapai ke sini, bukannya tidur." Jawabnya ketus tapi tetap tersenyum ramah pada ku.


"Aku belum ngantuk, Bee, aku mau tanya?"


"Tanya apa?"


"Kalau nanti setelah melahirkan badan ku tidak kembali ke ukuran semula bagaimana?" tanya ku yang bersandar di dadanya.


"Bee... jangan macam macam, tapi kalau kamu berfikir sampai kesana, aku cuma bisa berharap waktu berhenti sekarang, supaya kita tetap bahagia seperti ini."


"Kalau waktu berhenti berarti semua hanya akan jadi kenangan dong sayang."


"Biar saja di kenang, aku lebih suka kenangan di banding kematian. Bee waktu pertama kali kamu menyentuh ku, aku sudah memutuskan menjadikan kamu tempat terakhir aku untuk mengabdikan hidup." Aku menatap wajah manis penuh seringai berbahaya itu dengan lembut.

__ADS_1


Perlahan ia **** senyum dan membuat ku menikmatinya.


"Honey, jangan pernah berkata atau berfikir aku akan meninggalkan kamu, kamu itu rumah tempat aku pulang, wajah dan bentuk tubuh mu, aku tidak perduli dengan itu, yang terpenting buat aku kamu selalu menjadi solusi dalam setiap masalah ku, kamu selalu memiliki hati yang bersih dan mengerti apa yang aku ingin, jika aku dapat paket lengkap apa lagi yang akan aku cari selain membuat mu bahagia."


Aku memeluknya, sepertinya baby juga sangat menikmati pelukan ayahnya, dia diam dan tak bergerak, pada hal dari tadi aku tidak bisa tidur karena dia terus menendang.


"Bee, aku lapar, temani aku makan ya..."


"Honey, ini sudah jam 1 malam loh? kamu juga bukannya jam 10 tadi sudah makan? lapar lagi?" aku mengangguk, dan kak Zul masuk kedapur membuka kulkas.


Dia mengambil sekotak kue dan segelas susu.


"Hanya boleh ini ya honey!"


"Bee, makan nasi, aku mau makan sate ayam."


"Jangan ngaco deh, ini udah malam banget, makan ini aja, besok pagi baru satenya, saya yang cari besok pagi. ya..."

__ADS_1


Dengan terpaksa akhirnya aku makan kue dan susu yang ia sajikan.


__ADS_2