
Pagi ini Adila sudah bersiap mengenakan seragam tekwondo nya, Adila sibuk mempersiapkan segala hal di aula tempat dilangsukan acara kenaikan sabuk, meski pun pada saat ini Adila tidak ikut tampil tapi dia yang mengurus para junior yang ada dibawah tanggung jawabnya.
Tiba pada acara inti, Alan datang menghampiri Adila yang sedang sibuk mengatur beberapa berkas. "Bagaimana, sudah selesaikan Dil? kalau memang waktunya sekarang tidak cukup biar ku bantu sedikit." Usik Alan yang mengganggu kesibukan Adila, "Oh, tidak usah Lan, ini sudah hampir selesai kok, oh ya nanti kamu langsung aja antar Citra dan Hana ya, nanti aku dijemput soalnya." Alan yang saat itu belum tau jika Adila telah sah menjadi istri orang bingung. "Bukannya kamu bilang bang Fano lagi diluar negri ya?" tanya Alan yang penuh kebingungan, pasalnya baru kali ini Adila mau pulang hanya seorang diri kalau naik kendaraan umum biasanya juga ditemani Hana atau Citra, tak mau panjang lebar mengintrogasi Adila akhirnya Alan pergi meninggalkan Adila.
Pergantian jam kini terus berjalan tepat pukul 19.00 setelah solat maghrib, Adila berpamitan dengan yang lain. "Assalamualaikum, Semuanya Dila duluan ya, sudah di jemput." jelas Dila sambil bersalaman dengan yang lainnya.
"Mana Dil jemputan mu? kok gak masuk, ajak masuk biar kenalan sama kita." tanya Citra, tanpa di pinta seperti itu ternyata Zulfikar masuk kedalam aula, menatap Adila sedari tadi.
"Dil, ayo kamu sudah selesaikan?" tanya Zulfikar dari ambang pintu. Adila menatapnya, "Itu jemputan Dila, semuanya Dila pamit ya?" Alan bingung, "seorang pria siapa dia?" Gerutu Alan dalam bingungnya. "Dila, tunggu siapa dia?" Dila tersenyum, "Kenalin, ini Kak Zulfikar, dia Suami ku." Alan mengangga heran, "Suami? kapan kalian menikah?" Selidik Alan. "Ceritanya nanti aja ya Lan aku mau pulang, capek." Adila tersenyum sambil berjalan keluar menemui Zulfikar.
"Kakak, bawa motor?" tanya Adila yang melihat Zulfikar sedang nangkring mengenakan helem di motor ninja 250FI berwarna putih. "Iya, soalnya tadi jalanan macet, kalo saya pakai mobil nanti telat jemput kamunya, kalau kamu nanti keburu diantar ke rumah saya gagal culik kamunya."
Jelas Zulfikar yang dibarengi dengan candaan dan senyuman. "Ye.. Kakak, masa mau culik istri sendiri." Sambil mengenakan helem yang diberikan Zulfikar Adila menaiki motor itu, "Kak Zul, maaf aku pegang pundaknya ya, Adila gak bisa naik kalo gak pegangan."
"Ya Allah polos amat ya Istri ku ini." Gerutu Zulfikar dalam relung hatinya.
__ADS_1
"Iya Adila, baru pegang bahu aja udah minta izin, orang baru bahu kok." sambil sedikit memegangi Adila yang takut terjatuh. Diperjalanan pulang tiba-tiba Zulfikar berhenti didepan sebuah warung makan dipinggir jalan, awalnya Zulfikar hanya mau mengetes istrinya ini, malu atau tidak makan ditempat seperti ini.
"Dila, kita mampir sebentar ya, saya lapar, dari tadi siang tidak sempat makan sibuk dengan meating dan beberapa klien." Adila turun dengan segera dari motor, di ikuti Zulfikar dari belakang. "Kakak yakin makan disini?" dengan mata terheran Adila menatap keseluruh sudut warung sate kaki lima tersebut.
"iya, yakin kenapa kamu gak mau makan disini?"
"Pak, satenya 1 porsi yang Ayam, kambingnya 1 porsi juga ya, Adila kamu mau apa?" tanya Zulfikar, tanpa persetujuan sebelumnya. "Dila mau jus jeruk saja satu." jawab Adila tanpa keraguan.
Mereka duduk di emperan jalan yang beralas tikar. Tak lama makanan itu datang sate ayam dan kambing, "Kakak pesan 2 sate?" tatapan Adila heran. "Saya lapar sekali, tadikan saya bilang saya belum makan dari siang, kamu juga kenapa gak pesan? satenya enak lo, tiap pulang kerja kalo di Indonesia aku selalu mampir kesini."
"Ayo buka mulutnya, waktu itu kamu yang suapi saya kan? jadi gantian dong sekarang saya yang suapi." Kemudian dengan sedikit malu-malu Adila membuka mulut. "Ini tanda terima kasih saya Dil." Zulfikar mengalihkan pandangan sambil mengunyah kembali sate yang ada ditangannya ya... bekas gigitan Adila tentunya.
"Untuk apa?" Adila mengambil satu tusuk sate lagi dari piring Zulfikar. "Untuk kamu yang memperkenalkan saya sebagai suami kamu." ucap Zulfikar, seketika gigitan Adila berhenti.
"Yakin, hanya karena itu?"Selidik Adila, "Terbiasalah kak, aku memang akan selalu memperkenalkan mu begitu, karena memang kau suami ku kan?" Zulfikar tersenyum malu sambil menatap kedepan jalanan, wajah nya memerah. Suapan demi suapan dilayangkan Zulfikar ke mulut Adila tapi entah kenapa Adila menolaknya lagi dan lagi. "Kak, kita pulang saja ya, perut Adila sedikit tidak enak." Zulfikar segera membayar dan mengenakan helem kembali menuntun Adila agar bisa naik dengan mudah.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Adila segera kekamar mandi, berganti pakaian dengan pakaian tidur, "Aduh, sakit banget ini haid pertama kok nyiksa gini ya, ya Allah kuatkan aku, ini sakit sekali mengalahkan sakit yang sebelumnya, bulan kemarin tidak sesakit ini." Ucap Adila didalam kamar mandi.
Adila keluar kamar mandi, dengan piama dan kerudungnya. sambil menahan nyeri Adila tidur dengan gelisah, seketika pintu kamar terbuka, Zulfikar masuk menatap Adila heran, "Adila, kamu kenapa?" Zulfikar duduk ditepi ranjang, menggengam tangan Adila, mengelus keningnya.
"Kamu kenapa Dila, jangan menangis bicara sama saya, kalau kamu gak mau bicara saya gak tau kamu kenapa?" Ucap Zulfikar kawatir, kembali mengelus puncak kepala Adila, berusaha menenangkan, keringat mulai turun dari keningnya. "Kak Zul, ini sakit sekali Dila gak kuat."
"Kenapa Dil, bicara sama saya." Adila dengan malu menjelaskan, karena sudah terlalu sakit dia berteriak. "Ya Allah kak, sakit sekali, Adila sedang red day." "Red Day, apa itu?" Zulfikar bingung, "Mesturasi kak, ini haid pertama yang sangat menyiksa." Jelas Adila, setahu Zulfikar, Rasya adik perempuannya itu juga dulu pernah mengalami hal yang serupa.
"Tunggu sebentar Dil, saya akan kembali secepatnya." Seketika Zulfikar datang membawa botol berisi air hangat dan handuk.
"Saya kompres dengan ini ya, siapa tau hilang."
"Dila, tidak apa saya buka baju dan celana mu kan?" Adila melotot tidak terima, "Hanya sedikit tidak semua hanya sampai terlihat perut bagian bawah saja." Awalnya Dila menolak karena ia sangat malu. Tapi sakitnya sangat tak tertahan akhirnya Dila bersedia menarik sedikit celana yang ia kenakan, "Sudah enakan? ini terjadi karena perut kamu keram Dila, air hangat akan membantu mengendorkan otot yang tegang." Jelas Zulfikar yang hanya di angguki Adila. Tak lama Adila merasakan kantuk dan posisi nyaman bersamaan Adila mulai terpejam, saat itu juga Zulfikar menghayal.
"Jika suatu saat disini ada kehidupan izinkan aku yang memiliki kehidupan itu Dila, sepertinya saya sudah jatuh cinta sama kamu, sejak tadi kamu mengenalkan saya sebagai pendamping hidup kamu, suami kamu Adila Dilara." Zulfikar tersenyum kemudian membereskan alat yang ia gunakan barusan, dan menyelimuti Adila yang mulai lelap.
__ADS_1