Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Manisnya Keluarga Ku 2


__ADS_3

Keluarga bukan hanya sekedar tempat kita singgah, bukan pula tempat kita untuk melampiaskan kecewa.


Keluarga adalah kehangatan, keluarga adalah dukungan, keluarga adalah tempat dimana kita kembali pulang dan menetap. (Adila Dilara)


Pagi ini aku tau mami menangis lagi, aku pun tau apa yang sedang ada dalam fikirannya. Kepulangan mami dari Sedney bukan lah suatu kabar baik, itu adalah hal yang terpahit untuknya, dimana kepergiannya hanya untuk menjadi saksi perceraian anak pertamanya yang telah memiliki seorang anak perempuan lucu bernama Luna. Mami sekarang sedang duduk di halaman samping sambil menghapus beberapa bulir air mata yang jatuh, jika ada Rasya sekarang mungkin mami akan sedikit gembira, tapi hanya ada aku disini, ini tugas ku sebagai anak menantu, aku harus bisa sedikit membuat mami nyaman, aku pun telah berjanji pada mama aku akan menyayangi mami Vena sama seperti mama.


"Mi, mami kenapa lagi?" Aku bersimpu dihadapan mami, duduk di atas rumput taman, sedang mami duduk di kursi, aku mengenggam tangan mami erat. "Adila bawakan susu supaya mami sarapan dulu, mami senyum ya untuk Adila, jika bukan untuk Adila senyumlah untuk langit serta matahari yang cerah hari ini." Aku mengusap air mata mami, mami mulai tersenyum menatap ku, dia menangkup pipi ku mencium kening ku. "Terimakasih sayang kamu telah menerima mami dan anak-anak mami, Rasya semalam menelpon dan bercerita banyak tentang kamu, Rasya sering curhat sama kamu ya?" Aku tersenyum dan mengangguk, jika di ingat Rasya memang hampir setiap kak Zul lembur selalu berdiskusi bahkan bercerita tentang keluarga mereka yang memang diambang kehancuran waktu itu.

__ADS_1


"Dila mami, tidak sanggup bila harus bicara dengan Fikar, bagaimana jika kamu yang sampaikan, minggu depan Jefrin akan kembali ke Indonesia bersama Luna, mungkin nanti Fikar akan kaget mendengar semua itu, kamu harus memberi tau tentang perceraiannya."


"Mami jangan berfikir yang tidak baik lagi ya Dila akan sampaikan semuanya dengan Kak Zul, Dila yakin kak Zul akan mengerti kok." Kini mami memeluk ku dengan sangat erat, aku mengajaknya masuk untuk sarapan, kak Zul sudah ada dimeja makan bersama selembar roti lapis yang kini ada di tangannya. Aku dan Kak Zul duduk berhadapan, dia menatap ku penuh selidik namun menggengam jemarinya meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.


Aku dan mami pergi ke swalayan untuk berbelanja bahan makanan yang memang hampir habis stoknya. "Mi, mami mau beli apa lagi? Dila sudah selesai." Mami masih bingung dengan apa yang hendak ingin dibelinya. Mami mengambil beberapa kaleng susu dan juga makanan bayi. "Dil, mami ambil ini untuk Luna ya, tidak papa kan?" Kenapa juga mami meminta izin pada ku, aku tak berhak melarang mami untuk membeli apapun untuk cucu kesayangannya itu. Aku hanya tersenyum, melihat kesedihan yang yaris samar di wajah mami.


Sesampainya dirumah aku mendapati kak Zulfikar yang sangat berantakan pada penampilannya itu dasinya sudah entah kemana, rambutnya juga tak tertata dengan baik, aku yang khawatir pada dirinya, menghampiri dan mecoba mengajaknya bicar. "Assalamualaikum, loh kak, kamu sudah kembali?" Sapa ku padanya sambil mencium tangannya. "Dila, masuk kekamar sekarang!" nadanya yang sedikit tinggi membuat ku tau dia sedang tersulut emosi.

__ADS_1


Aku dan dirinya kini sudah ada di dalam kamar kami, kak Zul mengunci pintu dan mendudukan ku di ranjang, sementara dirinya duduk di kursi menghadap ku.


"Apa yang kamu ketahui tentang Jefrina sayang? kamulah yang mampu mengatasi semua kecewa dan tekateki ini." Dia mencium tangan ku air matanya turun, aku menghapusnya, aku menangkup kedua pipinya agar aku dapat mencium keningnya, sejenak menenangkan. Bagaimana pun dia harus mendengar kebenaran dan juga tetap tenang saat ini. "Baiklah, sekarang dengarkan istri mu ini ya suami ku." Dia hanya diam dan menatap ku. "Semua akan baik-baik saja, mami lah orang yang paling hancur sekarang, kamu harua tetap tenang agar mami tidak juga kalut dalam kesedihan. Iya kak, Kak Jefrina memang telah bercerai dari suaminya." "Apa yang membuat si brengsek itu menceraikan kakak ku? Dila bahan karena si brengsek itu kakak ku harus menderita 9 bulan mengandung Luna tanpa suami, bahkan Jefrina tidak pernah mengeluh saat pisikologis nya terganggu akibat perbuatan suaminya, aku tetap memaafkannya, dan mengizinkan dia melihat Jefrina dan putrinya tumbuh, tapi dia malah menceraikan Jefrina hanya untuk wanita lain?" Aku mengelus lengannya memeluknya agar tenang, wajahnya sudah dipenuhi amarah, aku menciumnya, berusaha untuk membuatnya nyaman dan tenang, sekarang dia menyalurkan kemarahannya lewat ciuman kami, ciuman itu semakin menjadi panas, dia meraba dada ku dan mulai membuka hijab yang ku kenakan, dia menciumi leher ku dan membuat ku menyadari seks bisa menenangkannya. Tak berapa lama dia mulai membuat ku meremas sprei, dia menyalurkan kebutuhannya pada ku, dia memasuki ku dengan cara lembut namun cukup dalam membuat ku sedikit meringis, suami ku mulai selesai dari pekerjaannya membuat dirinya klimaks dan membuat ku tak ingin berhenti memainkan peran.


"Dila, biarkan aku tetap pada posisi ini ya sayang, maaf aku mungkin kasar." Dia tertunduk dan bersandar pada dada ku.


"Luna dan Kak Jefrina akan baik-baik saja meski Luna akan hidup tanpa ayah kandungnya, tapi dia bisa hidup dengan penuh kasih sayang dari keluarga dan juga pamannya. iyakan Kak?" ucap ku yang hanya didengar, sambil mengelus tubuh ku yang kini tak mengenakan sehelai benang pun ia berkata. "Terimakasih telah menjadi istriku dan menjadi bagian dari keluarga ini sayang, aku beruntung kamu bukan hanya bisa menjadi istri ku, tapi juga tempat terhangat untuk keluarga ku berlabuh, mami, Rasya, kak Jefrina bahkan nanti mungkin Luna." "Aku yang beruntung bisa hadir dalam keluarga ini kak, keluarga yang saling perduli dan saling melindungi, kamu harus menjadi kuat untuk mereka, kehancuran mu akan membuat mereka semua rapuh, kamu laki-laki dalam keluarga ini kamu pilar dalam keluarga ini." "saya pilar dan kamu atap, kamu yang akan melindungi mereka dari panas dan hujan, maaf telah menyentuh mu tanpa izin, aku melanggarnya." Dia begitu manis, suami ku yang terlihat sebagai super hero ternyata pribadinya seperti ini jika ada yang menyentuh keluarganya dia akan bersikap begini uring-uringan dan emosian. Aku mengecup dahinya dan mengelus rambutnya dia pun tertidur dalam pelukan ku.

__ADS_1


Siang ini aku berakhir dalam dekapan manja seorang Zulfikar.


__ADS_2