
Tiga hari sudah aku berada pada kondisi ini, labil dan frustasi. Tiga hari tak menjejakan kaki dilantai, hanya berbaring saja di bed rumah sakit.
Untuk buang air kecil saja aku harus mengenakan selang, makanan yang masuk dalam perut ku juga dapat terhitung tangan.
Aku tau tugas suami ku bukan hanya mengurusi aku yang lemah, aku sering sekali menyuruhnya pergi dari ruangan ini, karena kehadirannya hanya membuat ku berhutang bahagia padanya, dia selalu ada di pelukan ku saat ini, aku tak perlu bertanya seberapa besar cintanya, aku tau isi hatinya.
"Honey, waktunya makan siang, ayo kita makan." Ajaknya yang mengambil senampan makanan diatas meja.
"Bee, aku ingin makan satu piring bersama mu, bisakah?" Dia hanya tersenyum dan mengambil rantang berisi makanan yang dibawakan supir.
"Ayo, bagaimana kalau saya yang suapi kamu dan kamu yang suapi saya." Sebisa mungkin dia menghibur ku dengan suasana romantis. Kami makan dengan cara yang ia usulkan, makanan rumah sakit yang hambar berubah menjadi sedikit bercita rasa saat suapan itu dari jemarinya.
"Honey, bagaimana? kamu suka makanannya, rasanya hambar ya? tapi kamu belum boleh makan masakan luar." Aku tersenyum menatap dirinya yang sedang serius mengunyah sambil menyuapi ku dengan jemarinya.
__ADS_1
"Bee, apapun yang berasal dari jemari tangan kamu aku akan selalu menikmatinya, walau ya... kamu tau yang kamu suapi ke aku itu nasi tim, pasti orang jijik untuk melakukannya, tapi kamu tidak, kamu ikut mau aku bee."
"Honey, mengertilah sekarang besok, itu sama, kita akan selalu berkorban untuk satu sama lain, saling mencintai, dan jangan pernah menilai saya seperti orang pria lain." Aku kagum dengan suami ku, hanya dia yang mampu membuat ku jatuh sedalam ini.
"Lupakan semua rasa sedih itu honey, kita akan mendapatkannya lagi."
"Bee, maafkan sikap kekanakan ku ya, aku terlalu syok dengan semua ini."
"Jadi kamu ikhlas menerima semuanya?" tanya nya pada ku yang membuat hati ku bergetar lagi.
"Mengertilah honey, semua yang terjadi akan menjadi hal indah yang tidak pernah terduga untuk kita. Dan mengertilah bahwa menikah bukan hanya tentang anak, seks dan uang." Aku memotong perkataannya.
"Tapi tentang belajar, memahami, melengkapi dan bertanggung jawab, aku akan selalu mengingat semua tentang itu bee." Aku sudah sedikit lebih baik sekarang.
__ADS_1
Mama menelfon beberapa waktu lalu, menghubungi ku untuk menanyakan kondisi ku sekarang, tak ingin membuatnya khawatir aku pun mencoba bercanda dengannya, begitu pula dengan kak Zul.
Hari berlalu kini aku di izinkan untuk pulang, mami dan Rasya merapihkan kamar ku, ternyata sprei yang kemarin terkena darah ku sudah diganti.
"Kak Dila pulang, alhamdulillah ya mi, kak, kak Dila tau gak siapa yang rapihkan dan cuci sprei yang terkena bercak darah?" Rasya yang senang sekali dengan kepulangan ku terus bercerita, dan aku hanya terheran.
"Kamu yang cuci? makasih ya Rasya, mami, Dila senang sekali bisa kembali ke rumah lagi."
"Bukan, bukan, bukan Rasya tapi kak Fikar, dia marah sama mbak Darmi, katanya jangan di cuci itu darah milik istri saya berarti hak saya untuk mencucinya, yang lain tidak berhak." Aku tersenyum mendengar pengaduan Rasya.
Mereka keluar dari kamar ku membiarkan aku istirahat. Seketika aku menarik tangan suami ku, "Terimakasih bee atas semuanya."
Dia berlutut di depan ku menangkup pipi ku dan mencium bibir ku.
__ADS_1
"Itu tugas saya honey, kamu milik saya dan saya tidak boleh menzolimi kamu saya hanya bisa merawat kamu semampu saya." Dia pun berlalu dan membiarkan ku beristirahat di kamar.