Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Bodohnya Aku


__ADS_3

Tepat tiga bulan pernikahan kami, kami semakin dekat dan rasanya manisnya rumah tangga baru kami rasakan, aku dan dia seperti orang yang baru saja mengerti jatuh cinta. Aku dan suami ku berkunjung kerumah kerabat kami yang mengadakan akiqah anak pertama mereka. Aku yang mengenakan hijab berwarna grey dan gamis berwarna abu tua, sangat serasi dengan suami ku yang mengunakan koko senada dengan gamis ku.


Dia menatap bayi yang kini ada digendongan sang ayah. "Bro, apa kabar lama gak ketemu, terakhir waktu acara nikahan lo ya?" begitulah sang ayah bayi menyapa, bayi perempuan itu sangat lucu, aku sempat berfikir sejenak tentang hal memiliki bayi. "Iya bro, selamat ya putri lo bener-bener Masyaallah cantiknya luar biasa, sama kaya istri lo." "Wah, bro kan gue udah pernah bilang, dia itu bidadari surga bro." timpal lelaki itu lagi pada suami ku. "Oh ya bro, Dila kapan nyusul nih? kan udah 3 bulan masa belum ada tanda tanda." wajah suami ku jadi murung, seperti mencari alasan, aku mengusap bahunya dan tersenyum. "Mungkin secepatnya, karena gue juga mengharapkan hal serupa." Setelah sekian lama berbincang kami memutuskan untuk pulang, namun berhenti sebentar di sebuah mini market.


Aku mengambil susu dan beberapa keperluan pribadi ku di bulan ini. Tanpa ku sadari ternyata Kak Zul membeli sesuatu yang memang tidak ku duga. Setelah sampai dirumah yang memang sudah cukup larut malam, aku segera berganti pakaian dan naik ke ranjang. Aku mulai berbicara padanya. "Untuk apa beli barang yang gak diperlukan sekarang sih kak?" aku bertanya padanya yang sedang tiduran di sebelah ku. "Belum berguna, nanti pada saat darurat juga berguna." Jawabnya memeluk guling disebelahnya dan menghadap ku. "Memang kapan itu bisa berguna?" "Saat kamu mulai merasakan mual, lelah dan tidak mesturasi, dan itu karena ulah saya." Aku melotot menanggapi ocehannya itu. Kalian tau apa yang sebenarnya di beli Kak Zul tadi? Ya... Dia membeli tespck.

__ADS_1


"Kamu sudah berencana sejauh itu ya kak? Kamu memang mau punya berapa banyak baby nanti?" ucapku kepadanya entah kenapa malam ini rasanya aku hanya ingin mengarang masa depan bersamanya.


"Kalau kamu sanggup saya mau 3 anak saja 2 anak laki-laki dan satu anak perempuan yang istimewa seperti kamu." Aku hanya tersenyum manis mendengar perkataannya.


Aku membaringkan badan, menatap ke arahnya.

__ADS_1


Dia masih ragu terhadap perasaan ku, dia masih menahan semuanya, padahal malam ini aku sungguh akan meyerahkan diri ku bila memang ia menginginkan ku. Sejujurnya memang aku sudah mencintainya, entah sejak kapan, tapi yang pasti cinta itu hadir tanpa permisi, tanpa mengetuk hati ku.


"Kak, kamu lagi apa malam-malam ada di dapur?" Aku bertanya padanya yang bangun di tengah malam dan kini berada di dapur.


"Saya lapar, saya minum susu, kamu mau?" Aku menguap, dan berjalan ke arahnya. Sambil mengamati gelas dan mencium baunya, "Kak Zul! Susu yang mana yang kamu minum?" Dia menunjuk kotak susu di lemari yang sudah ku beri tanda. Aku hanya diam kemudian aku tertawa terbahak. "Kamu kenapa?" dia bertanya dengan nada bingung. "Serius? minum yang ini?" Dia hanya mengaguk, aku memeluknya dan bersandar di dadanya, "Maaf ya kak, itu susu untuk program kesuburan." Dia hanya diam lalu mencubit pipi ku. "Sejak kapan kamu mulai program?" bukannya marah dia malah tersenyum bahagia. "Sejak minggu lalu." aku tertuduk dan mendapat ciuman darinya.

__ADS_1


"Hukuman buat kamu yang gak bilang dan gak izin sama saya, terus apa manfaatnya kamu program kesuburan tanpa saya?" Aku tertawa merutuki kebodohan yang ku buat, benar juga ya. "Sebaik-baiknya ovum jika tidak ada sperma juga gak ada gunanya kan, lain kali pintar sedikit ya, ibu guru." dia meledek ku lagi, dari pada aku malu, aku berjinjit dan mencium pipinya, membalas apa yang dia lakukan padaku.


Dia tersenyum dan tak mengejar ku.


__ADS_2