
Semenjak kejadian di acara Aqiqah baby Arsal, Maharani tidak pernah muncul lagi. Kini Irfano dan juga Utari pun telah meresmikan hubungan mereka lewat jalur pernikahan,karena menurut Irfano jika menghargai dan mencintai seorang wanita cara membuktikannya adalah dengan menikahinya.
"Bee, aku pengen banget makan rujak nanti berhenti sebentar ya kalau ada yang jual." Ucap Adila sambil menidurkan Arsal yang rewel.
Usia Arsal sekarang sudah menginjak 2 tahun, Arsal tumbuh jadi anak yang periang selalu tersenyum.
"Bunda, pone, ayah..." Ucap Arsal dengan bahasa yang hanya di mengerti Ayah dan bundanya.
Adila mengambil ponsel dari dalam sakunya, mereka saat ini akan pergi ke rumah Neni Indira, karena acara tujuh bulanan kak Utari.
"Sini sini anak bunda, mau nonton apa sih?" Adila menganti ganti chanel di youtube, tapi Arsal tetap saja tidak bisa diam.
"Itu loh nda, kasih video tekwondo kamu, dia itu suka banget, dari kemaren liatin itu mulu di ponsel Ayah." sahut Zulfikar yang sedang menyetir.
Adila mendengarkan saran suaminya dan memutar video itu untuk Arsal, aneh Arsal segera duduk diam, tertawa menyaksikan dengan serius video itu.
Di pinggir jalan ada tukang rujak, Zulfikar yang di pesankan Adila menepikan mobil, Adila memilih berbagai macam buah, kemudian melanjutkan kembali perjalanan.
Sesampainya di kediaman mamanya Adila segera mengendong Arsal yang tertidur di pangkuannya. Irfano keluar rumah dan mengambil Arsal dari gendongan Adila. "Sini, biar Abang yang gendong, kangen sama jagoan." ucap Fano.
"Awas bang nangis nanti lagi rewel." himbau Adila.
__ADS_1
Zulfikar menjinjing tas besar berisi perlengkapan putra kecilnya.
Siang itu Adila makan dengan sangat lahabnya, makanan yang ia makan pun adalah makanan bercitarasa pedas, selama ini Adila tidak suka pedas, tapi malah makan makanan pedas. Mama Indira kaget jika putrinya itu sudah berubah, jika dulu Adila selalu menangis ketika makanan yang dimakannya pedas, tapi sekarang Adila justru menikmatinya.
"Honey, kamu gak salah? itu pedes banget loh, kok gak kepedesan sih?"
tanya Zulfikar yang juga mulai heran dengab kelakuan istrinya.
"Ini gak pedes tau, enak banget bee, aku udah nambah 3 kali tapi masih pengen lagi." jawab Adila.
"Hoyo loh... udah tespeck belum tuh?" Sahut Utari yang menyambar pembicaraan mereka.
"Honey, setau aku kamu gak haid udah tiga bulan terakhir ini loh?" Zulfikar menduga karena selama 3 bulan ini Adila rutin melayaninya setiap minggu.
"Memang iya ya Bee, ahh masa sih aku gak ngerasa apa apa deh." sangkal Adila lagi, Fano yang datang juga ikut berkomentar.
"Coba di cek aja dek, tuh Tari masih punya tespeck, mau abang ambilin?" tawar Fano.
"Enggak ah bang Dila takut, kalau hamil bagaimana?" jawab Dila polos.
"Ya ampun Honey, kalau hamil ya bagus dong Arsal jadi punya teman, ya aku tanggung jawab lah." ledek Zulfikar.
__ADS_1
"Bukan masalah itu bee, kalau nanti seperti kasus baby Arsal bagaimana? aku masih takut."
"Coba dites dulu sayang ku, ayo aku temani, biar kamu tau dulu ada atau tidak baby dalam perut mu itu, tapi semalam memang agak keras dan berisi sih, waktu aku..."
Zulfikar diam dan tersenyum menatap istrinya, karena semalam mereka menghabiskan malam bersama.
Akhirnya Adila menurut pada suaminya ia mengecek apakah hasilnya positif atau tidak.
"Bee... Alhamdulillah bee..."
"Kenapa? gak positif, girang banget."
"Aku positif bee, dan gak ada kontraksi apapun di rahim ku, bee kita ke rumah sakit sekarang ya."
Adila berubah jadi semangat, senyuman terpacar di wajahnya, Adila mencium suami dan putra tercintanya.
"Bee, makasih ya akhirnya aku hamil lagi, rumah kita akan sangat ramai nanti."
Zulfikar tak bisa menyembunyikan rona bahagianya juga dia mencium Arsal.
"Abang, adek bayi datang." Dan Arsal mencium perut bunda nya. Arsal memang selalu pintar dalam segala hal termasuk menaklukan hati orang sekitarnya.
__ADS_1