Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Antara Subahanallah dan Masyaallah


__ADS_3

Sudah sebulan pernikahan ini berjalan, rasanya aku belum sepenuhnya mencitai bahkan mengenal dirinya saja hanya sebatas apa yang dia suka atau tidak.


Pagi ini aku mengantarnya ke bandara, para klien dari beberapa perusahaan besar ingin segera bertemu dengannya dinegara masing-masing. Aku bersalaman dengannya, dan belum sempat bertanya kemana saja dia akan pergi, tapi dia sudah menjauh terlebih dulu dari ku.


Aku mulai menelfon abang karena dalam waktu 2 hari ini Kak Zul tidak memberi kabar. Aku kesepian sendirian dirumah sebesar ini meski banyak pelayan, dan ada Rasya pula, tapi tetap saja sepi. Kalau biasanya pada saat malam seprti ini Kak Zul selalu melantunkan ayat suci, sekarang sangat sepi hanya ada aku yang mengaji.


"Assalamualaikum, abang." Suara ku sedikit sumbang. "Bang, sudah dua hari ini kak Zul tidak menghubungi ku, apa abang tau siapa yang bisa dihubungi saat ini."


"Ya dek, kamu bisa hubungi Utari, dia yang mengatur jadwal suami mu saat ini, akan abang kirim nomernya ya." "Iya, bang Utari itu wanita kan bang?" mungkin pertanyaan ku sedikit aneh didengar abang.


"iya, kamu belum kenal sekretaris suami mu? dia tidak pernah mengenalkannya pada mu, dan bukannya dia sudah minta izin pada mu ya dek untuk membawa sekretaris perempuan?" Astagfirullah abang, kok rasanya Dila mau teriak ya, aku tak sanggup mendengar dia bersama perempuan lain pergi keluar rumah.


Beberapa hari telah berlalu, perjalanan bisnis pun telah usai, Zulfikar sangat lelah hari ini.


Ia kembali kerumah, tanpa sambutan hangat dari Adila istri tercinta.


"Adila, Dil dimana kamu? Saya sudah sampai, kata Utari kamu sempat menghubunginya ya?" teriakannya tidak disahuti Dila yang berada di kamar. "Kak, berisik banget sih, orang kak Dila ada dikamar, aku tuh gak konsen belajarnya." geretak Rasya dari ruang keluarga. "Mangkanya, kalau belajar itu di perpus atau di kamar, jadi gak kedengeran dasar bawel." begitulah adik kakak itu jika bertemu seperti tom and jerry, meski begitu sebenarnya mereka sangat dekat.


Zulfikar sampai di pintu kamarnya dia mengetuknya. "Dila, Dil kamu sedang apa? sedang sibuk kah? sampai tidak menyambut saya?" namun Adila hanya menengok berdiri dan mengambilkan baju tidur dari dalam lemari.

__ADS_1


"Oh, sudah pulang? maaf Dila sedang sibuk." padahal Zulfikar tau Dila sedari tadi hanya membalas pesan pada ponselnya sembari tiduran.


Fikir Zulfikar mungkin istrinya sedang PMS.


Setelah selesai mandi Zulfikar keluar hanya dengan handuk yang di lilit ke pinggang, dia lupa dengan baju yang diambilkan istrinya tadi.


"Adila, kamu kenapa sih sedari saya pulang kok wajahnya ditekuk, bidadarinya saya lagi ada masalah ya."


Adila masih diam dan kini mengubah posisinya menjadi tiduran serta membelakangi suaminya yang sedang berganti pakaian. "Dil, saya gak pernah pramuka Dil, jadi saya gak bisa sandi-sandian atau kode-kodean, orang ponsel saya saja gak pakai sandi atau kode pakainya pin."


Zulfikar mencoba mendinginkan suasana. Adila duduk dihadapan Zulfikar yang sedari tadi menunggunya untuk menghadap kearahnya. "Utari? sekertaris kakak kata abang, kakak sudah meminta izin ku untuk pergi bersamanya?" Zulfikar heran dengan pertanyaan Adila,


"Pasti akal nya Fano nih, sampe adeknya sinis sama gue." dalam hati Zulfikar menduga".


"Dila, cemburu? pantas bidadari saya ini cemburu, saya kan tampan dan sudah diakui kamu kan Dil?" Dila mulai kesal dan merutuki suaminya. "Dil, Allah gak suka orang suuzon loh."


"Siapa yang suuzon, benarkan semua yang Dila katakan, memangnya Utari itu seperti apa sih sampai kakak ngajak dia dan gak kasih tau aku." Tangan Zulfikar mulai nakal, mulai berani menyentuh wajah istrinya,


"Cantik, tinggi, langsing, pokoknya buat semua staff memperebutkan dia." Dila mulai terisak saat Zulfikar menyebutkan apa saja yang dimiliki sekertarisnya itu.

__ADS_1


"ohhh... kenapa gak nikahin dia aja? kak Zul, kalau dia bisa memberikan apa yang belum bisa aku berikan untuk kamu, kamu boleh memperistrinya tapi, jangan pernah berzinah dengannya, aku bahkan rela kamu madu." Zulfikar heran mendengar perkataan Adila, bukannya candaannya lucu malah mengundang emosi.


"Dil, maaf ya saya gak pernah berfikir sampai kesana, lagi pula memang dia itu cantik, baik, tinggi, pintar. tapi kamu tau saya bukan staff, saya Dirut. Lagi pula saya tidak pergi dengan dia, dia hanya mengurusi jadwal saja tidak ikut perjalanan, saya ditemani Gunawan." Adila yang menangis segera diam, menatap suaminya itu, kemudian memukulnya manja, kedua lengan Dila kini sudah melekat digenggaman Zulfikar.


"Maka dari itu sekarang, saya mau melampiaskan rindu dan kejenuhan selama perjalanan saya dengan pria membosankan itu." posisi mereka sekarang sudah sangat intim, Zulfikar ada di atas tubuh Adila yang sedang berbaring.


"Kak, lepasin aku." Jantung Dila berdegub kencang, namun suaminya enggan melepaskan atau mengubah posisi, sekarang Zulfikar menciumi Kening, kelopak mata, pipi, dan semakin turun terakhir dia meminta izin.


"Boleh aku mencium mu disini." Dia meminta izin untuk mencium bibir Adila yang sangat menggoda sejak beberapa hari terus ada di fikirannya, saat melihat majalah make up, Zulfikar melihat majalah itu dan membayangkan Adila tampil dengan lipstik yang dibelinya di Prancis.


Adila hanya bisa mengangguk dengan ke adaannya yang terhimpit sekarang, setelah Zulfikar mengecup singkat, yang bisa dibilang hanya menempel. "Dila, sudah ah, nanti kalau saya kebablasan gimana, kamu kan belum siap."


Zulfikar melepas Adila yang masih gemetar dan berbalik membelakangi sang suami.


"Dila, Dil." Panggil sang suami yang posisinya kini dibelakang tubuhnya tapi masih cukup intim. Dila berbalik, dia terkejut suaminya dengan tiba-tiba mengulum bibir mungilnya itu dengan sesuatu yang tidak pernah Adila bayangkan, Subahanallah ya cemburu Adila pada suami nya bisa membuat dia terjebak dengan tidakan yang belum pernah dia bayangkan.


Zulfikar mulai bermain lembut dengan bibir yang membuatnya bergelora sejak tadi berdebat, Zulfikar menarik tengkuk Adila, Adila meremas lengan suaminya itu, Zulfikar yang mulai kalah, mengigit bibir dan memasukan lidahnya ke rongga mulut Adila. Setelah melampiaskan rindunya, Zulfikar menatap lekat istrinya.


"Hukuman buat kamu karena berburuk sangka pada suami sendiri, ini yang pertama dan terakhir ya Dil kamu begini, cemburu itu sifat setan sayang, kalau yang tadi namanya frace kiss, digunakan ketika saya sedang rindu sama kamu, kalau rindu berat berarti, ah.. sudahlah Dil, aku belum bisa rindu berat, kalau aku tau kamu belum siap."

__ADS_1


Adila tersenyum dan sangat malu, rona wajahnya terlihat dan membuat Zulfikar sangat senang. Bagi Adila mungkin cemburu itu Subahanallah, Bagi Zulfikara cemburunya Adila yang terpatahkan itu Masyaallah, indahnya malam ini.


Mereka pun terlelap, walau cara mereka tidur sangat unik tidak saling berhadapan seperti pasangan pada umumnya.


__ADS_2