Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Pisikologi


__ADS_3

Pagi ini aku menatap ibu dan anak yang sedang kejar-kejaran di ruang keluarga. Kak Jefrin mengejar Luna yang hendak dipakaikan baju setelah mandi. "Ayo luna, sini momy pakaikan bajunya, nanti kamu jatuh kalau lari-lari terus." Luna terus menghindar dan sekarang menabrak kaki kak Zul yang sedang menatap mereka dari pilar di dekat tangga, kak Zul menangkap Luna dan menggendongnya. "Nah... Kena juga si chuby nya uncel." Luna diam tidak berontak, "uncel, pakaikan Luna baju, Luna tidak mau sama momy, Luna mau sama uncel." Suara Luna yang sangat khas memenuhi penjuru ruangan "Iya, sini momy biar uncel Fikar yang pakaikan baju luna." pinta kak Zul pada kak Jefrin. Kak Zul mendudukan Luna pada sofa, dia memakaikan minyak telon pada tubuh Luna, celana dan baju. "Nah, tinggal di sisir, sini momy, uncel Fikar mau sisir Luna biar cantik." Kak Zul mengucir rambut Luna yang tidak terlalu banyak. Luna hanya tersenyum dengan prilaku Uncelnya itu.


"Uncel, aunty mana? Luna lapar." Kak Zul diam menatap si kecil Luna, yang mencari ku hanya untuk meminta makan, mungkin Luna sudah hafal jika sedari kemarin hanya aku yang memintanya untuk makan.


"Hallo chuby, ini Aunty Dila siapkan makanan untuk si cantik kesayangan, Luna mau yang mana?" Aku menawarkan senampan kue dan roti isi pada Luna untuk sarapan bersama pagi ini.


Luna tersenyum melihat banyaknya makanan yang aku bawa. "Wahhh banyak, uncel, Luna suapi supaya uncel chuby seperti Luna." tawar Luna yang mengambil roti dengan selai strawberry kesukaannya, dia membelah roti menjadi dua bagian kemudian memasukan kedalam mulut kak Zul, kami bertiga yang menyaksikan ke lucuan Luna pun ikut terbahak. "Luna, ini terlalu besar mulut uncel tidak muat, sedikit-sedikit sayang." Ucap Kak Zul lembut pada Luna, namun Luna enggan mendengarkannya, Luna terus menyuapinya dengan beberapa potongan roti yang masih ada di tengannya hingga kini mulut uncelnya sudah tidak muat lagi.

__ADS_1


Aku memberi kak Zul susu hangat yang memang sudah tersedia di meja.


"Aunty, uncel sama seperti Luna, chuby." Teriak Luna dengan bahagia.


"iya, ya Uncel gemesin kaya Luna, Luna, Luna mau ikut aunty gak ke play group, sama Uncel juga?" tawar ku yang memang sengaja agar Luna bisa berinteraksi dengan cepat pada orang di sekitarnya. Selama ini Luna tinggal di Sedney, bahkan untuk bicara bahasa Indonesia saja sedikit terbata.


Kami pergi ke Play group di tempat aku mengajar, sambil mengawasi Luna bermain dengan beberapa anak dan guru pendamping disana, aku menjelaskan pada kak Zul tentang pisikologi Luna yang memang sedikit terganggu akibat perceraian orang tuanya. "Kak, Luna sebenarnya itu bukan anak yang moody an, Luna anak yang ceria, ada sesuatu dalam diri Luna yang sekarang." "Apa itu? saya tidak menyadarinya." "Dila tau, Luna pernah menolak saat di gendong kakak kan, Luna hanya mau dengan Momy nya atau Dila, dia takut dengan mu, karena mungkin dady nya berlaku kasar pada Luna, Adila tau tatapan mata Luna saat itu penuh ketakutan dan kebencian pada sosok laki-laki, tapi setelah seminggu Luna melihat mu, mengenal mu yang selalu mengajaknya berintraksi dengan ramah dan lembut penuh dengan kasih sayang, Luna luluh dan sekarang dia percaya dan dekat dengan mu."

__ADS_1


"Dila, maksud kamu selama ini Luna mendapat perlakuan tidak baik dari Gefin?" Dengan nada tinggi Kak Zul berujar.


"Tenang, kita sedang bicara tentang pisikologis seorang anak, kita juga harus tenang, boleh Dila lajut." Dia mulai tenang dan mengizinkan ku lanjut berbicara.


"Sepengetahuan Dila, Gefin tidak kasar pada Luna, hanya saja dia selalu berkata keras dengan kesan membentak pada kak Jefrin, anak itu peniru yang ulung, serta tingkat kepekaan emosionalnya terhadap sekitar sangat tinggi, yang Dila ambil dari tingkah laku Luna selama ini adalah, Luna kehilangan stabilitas emosinya, itu yang membuat Luna menjadi anak yang Moody, peran kita sekarang membuat rumah senyaman mungkin, membuat perkataan dan situasi yang yaman serta membuat lingkunagan keluarga yang harmonis dan hangat pada Luna agar dapat berintraksi dengan baik." Kak Zul tersenyum dia menatap Luna sebentar kemudian beralih ke mata ku. "Saya beruntung memiliki wanita sehebat kamu." "Kak, wanita-wanita di sekitar mu memang hebat, kau pun dilahirkan dari wanita hebat itu sendiri."


Dia tersenyum, "Mari kita tangani pisikologis Luna, Luna akan bahagia bersama uncel, aunty, neni dan juga momy nya." Aku tersenyum menatap raut bahagia dari wajah sumi ku ini.

__ADS_1


__ADS_2