Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Piknik Dadakan


__ADS_3

Sekarang aku telah tiba di supermarket, aku sibuk memilih aneka saus untuk bakaran. Seketika aku beralih ke tempat khusus daging.


"Pak, bisa berikan saya sirloin 500 gram dan juga shortplate untuk barbeque." pinta ku pada seorang pelayan diasan, pelayan segera membuat pesanan ku, aku membayar semua belanjaan dan segera menuju rumah.


Sesampaimnya aku dirumah kira-kira setelah isya, aku mencari Adila ke kamar, benar saja Adila sedang mengerjakan beberapa pekerjaan yang belum selesai, maklum profesinya sebagai guru TK banyak laporan bulanan yang harus ia selesaikan. Sambil menunggu dia selesai aku mandi dan solat di kamar sebelah, aku tidak mau Adila terganggu karena kehadiran ku.


Kami sama-sama keluar dari kamar yang berbeda. "Loh, kok, kak Zul sudah pulang? kenapa Dila gak tau ya?" Aku hanya tersenyum menatapnya, aku menuju ke dapur.


"Dila saya sudah beli bahan untuk barbeque, kamu tolong siapkan semuanya ya, saya siapkan bakaran di belakang." Adila segera membuka kantong plastik yang ku serahkan, sementara itu aku memasang bakaran untuk memanggang daging.


"Kak, ini sudah siap semua, kita bakar sekarang? oh ya Dila sudah buat minumannya juga." Adila menyiapkan semua dengan sangat teliti. Aku mulai membakar daging dan beberapa bahan lainnya. "Kak, paprika lebih enak dimasak setengah matang, kalau matang crunchinya tidak ada." Adila mengajari ku membakar bahan lainnya. "Dila, kamu sudah pernah pacaran seperti ini sebelumnya?" Adila tersenyum melihat ku. "Aku? sudah pernah seperti ini." aku mulai kecewa dengan pertanyaan ku sendiri.


"Sudah pernah ya, aku salah." Adila menatap ku penuh selidik.


"Emhhh, bersama papa, waktu di Holland, kalau pacaran..." Adila tersenyum, namun matanya berbinar aneh dia memalingkan wajahnya dari ku.

__ADS_1


"Kak Zul yang pertama mengajak ku berpiknik dihalaman untuk sekian lama aku menunggu Abang mengajak ku atau menyempatkan waktu, namun perusahaannya itu membuat dia tidak punya waktu, aku sangat sebal dengan perusahaannya itu." Aku menyidik kearahnya, benarkah perusahaan ku itu sangat membuat waktu antara adik dan abang ini tersita.


"Dila, kamu boleh sebal sama perusahaan Abang mu, tapi jangan sebal apalagi benci sama yang punya ya." Timpal ku sambil memindahkan daging yang telah matang ke dalam piring.


"Dil, sudah matang, ayo cicipi." Adila mengambil dengan garpu.


"Yang punya perusahaan Abang pasti sangat menyebalkan kan ka?" Adila bertanya pada ku,


"Tidak dia orang yang baik, tampan, profesional, dan kalau kamu melihat dia kamu pasti ingin memeluknya dan ingin memilikinya." Adila tertawa, aku baru pertama kali melihatnya tertawa begitu. "Enak tidak daging bakaran saya?" Adila mengangguk kembali menelan dan bertanya pada ku lagi.


"Sekarang? memangnya dia ada disini."


"Ya, dia ada disini tepat didepan kamu sekarang." Adila bingung dan bertanya-tanya, wajahnya mulai berubah kesal, dia pikir mungkin aku meledeknya.


"Adila kamu bingung ya? aku pemilik perusahaan abang mu bekerja, aku yang menyuruh abang mu untuk lembur di sabtu dan minggu, aku dan perusahaan ku yang menyita waktunya, mana katanya mau peluk?" Aku mengejek dia yang masih terpaku.

__ADS_1


"Kenapa masih bengong? si tampan yang perfeksionis ada disini." Adila tertawa kembali dan bersender ke dada ku. "Sini, peluk."


"No! dasar narsis!" Adila menjauh namun aku kembali menarik lengannya sampai dia kini ada dalam rangkulan ku. "no kak!" Dia terus berontak, namun akhirnya mengalah. "Seperti ini saja diam, jangan bergerak, tidak peluk juga tidak apa tapi tetap seperti ini." Beberapa menit kemudian Adila melepaskan ku. "Sudah habiskan makanannya kita bersih-bersih, aku sudah ngantuk kak." Adila berdiri dan mengambili alat yang kotor untuk dicuci.


Setelah beres-beres piknik dadakan itu Adila mengganti bajunya. "Kak Zul, jangan tidur disofa lagi, tidur di sini saja, kemarin Dila lihat kakak tidurnya tidak nyaman." Adila menyuruh ku untuk tidur disampingnya.


"Yakin? nanti kalau ada yang mepet-mepet gak sengaja dan malah bikin kamu gak nyaman gimana?" Adila tersenyum.


"Gak papa, udah tidur disini aja."


"apa yang buat kamu mengatakan kepada saya bahwa tidak akan apa apa dan sepertinya kamu yakin sekali bahwa saya tidak akan melakukan sesuatu pada kamu, Adila kamu jangan lupa ya kalau saya ini laki-laki tulen, saya juga punya syahwat." Adila yang awalnya ingin marah karena ucapan ku yang mulai menjurus, kini hanya tersenyum.


"Aku yakin sangat yakin, dan aku tau kamu itu pria normal, tapi yang membuat ku berkata yakin adalah karena kamu selalu menepati semua ucapan mu, termasuk tidak akan menyentuh ku tanpa seizin ku." Hah... aku hampir lupa dengan itu semua.


"Tapi sekarang beda kan? kita disini hanya berdua bagaimana jika itu terjadi diluar kehendak mu?" Adila mulai kesal, dan melempar bantal pada ku, aku menangkap bantal itu dan mulai mengapai tangan Adila.

__ADS_1


"Dila, bagaimana kalau itu terjadi?" aku terus menggodanya, dia menggulung badan dengan selimut, "Adila..." "Cukup kak, aku sedang haid mana bisa terjadi sekarang." Aku diam dan aku tau aku sedang melupakan hal yang satu itu.


__ADS_2