
Sudah hampir satu tahun usia pernikahan ini, aku terus berusaha memantaskan diri untuk seorang Zulfikar Malik Arafi, lelaki yang meminang dan mencintai ku sepenuh hatinya.
Semenjak oprasi kuret itu dokter menyarankan kami untuk memulai program kehamilan.
Ini kali ke kedua ku menjalani pemeriksaan.
"Nyonya Adila jangan khawatir, apalagi sampai stres, karena program ini membutuhkan banyak keyakinan dan kesabaran, tuan Zulfikar sudah konsultasi dengan keluhan pasca oprasi waktu itu."
Aku hanya bisa tersenyum, mempercayakan semuanya pada Allah semoga pemeriksaan kali ini mengabarkan sesuatu yang menyenangkan.
"Baiklah nyonya, saya akan menjelaskan, rahim nyoya sekarang sudah seperti semula, hanya saja jika nyoya tidak mau ambil resiko, setelah terjadi pembuahan, nyonya harus melakukan perawatan istensif, supaya kehamilan bisa berlangsung dengan baik."
"Lalu berapa lama dokter saya harus melakukan perawatan lagi?"
"Kurang lebih selama 6 bulan, sampai rahim benar-benar kuat untuk bayi tumbuh."
Penjelasan dokter cukup menyenangkan bagi ku, aku kembali ke rumah.
Sejak aku mengalami keguguran Kak Zul tidak pernah mengizinkan ku untuk mengerjakan pekerjaan rumah bahkan ketika aku menaiki tangga menuju kamar kami, dia selalu memerintahkan Rasya, mami dan mbak Darmi untuk menuntun ku.
__ADS_1
Perasaan haru dan kecewa dengan apa yang ku alami, membuat ku semakin bertekat untuk cepat sembuh dan segera dapat mewujudkan impian kami.
Malam ini dia mengaji dengan penuh penghayatan, air mata yang luruh membasahi pipinya membuat ku juga ikut terisak. "Bee, maaf kan aku yang mungkin selalu mengecewakan mu bahkan sering sekali aku menguji sabar mu."
Dia membuat ku berada dalam pelukannya.
"Sudah saya bilang, kamu itu bidadari untuk saya, kamu itu tidak pernah membuat saya kecewa hanya saja penguji akan rasa setia dan syukur saya pada Allah, kamu ciptaannya yang membuat saya jatuh dan menikmati rasa sakit itu dengan cinta, saya tidak pernah di buat kecewa oleh kamu my honey."
Terimakasih ya Allah kau ciptakan pria sempurna seperti dia, pria yang selalu hebat dimata dan dihidup ku. Pria yang selalu bertanggung jawab dan lembut dalam bersikap. Dia tidak pernah sedikit pun mencaci atau memarahi ku selama ini, aku hanya di buai sabar didalam kehidupan bersamanya.
"Honey, coba tatap aku, lihat mata ku." Aku memandangnya menatapnya, dalam ku lihat mata yang berbinar menunjukan ketulusan.
"Bee, terimakasih atas segala cinta dan pengorbanan mu, kamu pria terhebat yang pernah ku temui, anak kita pasti bangga memiliki seorang ayah seperti mu." Aku mengecupnya dan memeluknya erat, Air mata yang tak terbendung membasahi baju koko yang ia kenakan.
"Sekarang tidur ya, saya sudah mengantuk, apa kamu tidak lelah honey, seharian tadi dirumah sakit, bukankah akan menguras tenaga?" Aku tersenyum dan mengecup pipinya.
Dia menggendong ku ke atas ranjang, mencium kening, mata dan pipi ku.
"Bee, tiga bulan semenjak aku mengalami hal itu, kamu tidak pernah meminta ku lagi, kamu tahan?" Dengan sedikit berbisik dan mulai menggodanya aku bertanya, dia menempatkan diri tepat diatas ku, tapi tidak menindih ku.
__ADS_1
"Honey, kamu menawari saya atau merindukan sentuhan saya?" Dia tertawa dengan jahilnya.
"Saya tidak akan menyentuh kamu sampai dokter menyatakan kamu boleh saya sentuh, masalah kebutuhan saya, saya bisa atasi sendiri, kamu jangan khawatir tentang itu." Dia mengecup ku dan berbaring di samping ku.
Aku menatapnya, memeluknya dari samping. "Iya bee, aku merindukan setiap sentuhan dan getaran yang kau timbulkan setiap kali kau menyentuh diri ku, aku membutuhkan mu." Aku mengatakannya dengan sangat lembut.
Dia berpaling ke arah ku mensejajarkan pandangan, mata teduhnya membuat ku terbuai.
"Honey, apa kata dokter tadi siang?"
"Bee, dokter hanya bilang bila sudah terjadi pembuahan aku harus melakukan perawatan intesif, menurut ku kita sudah boleh melakukannya bee."
"Apakah kamu benar -benar merindukan saya?" Aku hanya mengangguk, kemudian dia menindih ku mengucapkan segala kata cinta, menyentuh bagian tersensitif ku dengan kecupan-kecupan.
"Honey, jika terasa sakit atau menyiksa mu tolong katakan." Aku tidak bisa menjawab, walau sakit pun aku akan diam, karena malam ini di fikiran ku hanya ada bagaimana memuaskan suami ku dan berterimakasih padanya.
Dan kami pun melakukan kegiatan kami, saling memberi kehangatan.
Dia adalah pria terhebat dalam hidup ku.
__ADS_1