
Pagi ini Adila terbangun untuk solat subuh, ia meminta suster mengambilkan air di wadah besar untuk wudhu, Adila menunaikan solat subuh nya diatas bed rawatnya. Setelah selesai solat Adila meminta kantung muntah, karena mualnya sudah tak tertahan.
hueekkk... huek... uekkk
Suara Adila terdengar oleh Zulfikar yang baru saja selesai mengaji, Zulfikar datang di saat Adila sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya yang walau pun saat itu ia sedang duduk di tepi ranjang.
"Honey! kamu sangat pucat, muntah lagi?" Adila hanya mengangguk.
"Bee..." Adila menciumi kerah baju Zulfikar, tidak seperti biasanya Adila begini di depan orang, mengingat saat itu ada suster yang menjaganya.
"Honey, kamu kenapa?" Zulfikar menepuk lembut punggung Adila.
"Bee, aku ingin sekali makan sate ayam yang waktu itu kamu beli di pinggir jalan, rasanya sudah sampai di ujung lidah ku."
"Honey, warungnya baru buka nanti setelah Asar."
"Tapi bagaimana aku menahannya sampai Ashar jika sekarang saja aku menginginkannya dan sudah tidak tahan." Adila terus merajuk, agar segera dibelikan sate, dan tiba-tiba...
Uekkk... uekkk
Adila mulai lagi memuntahkan semua cairan. Wajahnya semakin pucat saja, perut datarnya juga semakin sakit di rasakan.
"Baiklah aku akan meminta Ruri untuk membelikannya sekarang."
Zulfikar meminta Asistan nya itu untuk mencari sate yang Adila ingin kan.
********
__ADS_1
Bersusah payah Ruri mencari penjual sate yang biasa mangkal di pertigan itu, dan akhirnya ketemu.
"Pak, saya mohon buatkan saja 1 porsi untuk saya, istri bos besar saya sedang ngidam pak, bos akan bayar berapapun harganya." Mohon Ruri pada tukang sate itu.
"Siapa memang bos kamu? saya sudah bilang hari ini saya libur, saya mau ke rumah sakit jenguk anak saya yang di rawat karena DBD." Dari dalam rumah sang istri menjerit karena anak mereka yang dirawat harus di bawa pulang paksa karena uang deposit yang mereka taruh di rumah sakit sudah habis dan mereka tidak bisa lagi menaruh deposit.
"Saya akan bantu membayar seluruh perawatan anak bapak, tapi tolong buatkan saya sate, bos saya sangat butuh sate bapak, karena istrinya juga sedang bertaruh seperti anak bapak." Panjang kali lebar sama dengan luas, Ruri menceritakan semua masalah Zulfikar dan Adila.
"Bapak sepertinya kenal dengan bos kamu."
"Jelas bapak kenal, pria tampan pengendara Ninja putih yang setiap senin malam makan di warung bapak, itu bos saya!" Si penjual sate kaget.
"Walah... si mas tampan, yang uang kembaliannya gak pernah diambil, dia bos besar, kok gak keliatan ya, hanya seperti orang biasa pada umumnya, tapi ganteng dan baik sekali mas." Jelas tukang sate yang mulai mengipas bara untuk membakar sate.
Beberapa waktu kemudian sate sudah jadi dan terbungkus rapi.
"Rumah sakit Budi Bakti mas, nama anak saya Anisa, dan ruangannya Seruni 204 mas."
Ruri merogoh saku meraih ponselnya.
"Dengan Rumah sakit Budi Bakti tolong, perpanjang Deposit atas nama Anisa di ruang Seruni 204 sampai semua tindakan medis dan juga perawatannya selesai, semua atas perintah Tuan Zulfikar Malik Arafi."
Ponsel kembali dimasukannya kedalam saku.
"Pak ini sudah jam 7 pagi, saya pamit semoga anak bapak cepat sembuh, salam dari bos dan terimakasih darinya, kau menyelamatkan istrinya pak."
"Mas Ruri, tolong sampaikan juga rasa terimakasih saya kepada mas Zulfikar ya."
__ADS_1
Ruri berlalu dengan membawa sate di tangannya.
Bungkusan sate berpindak ke tangan Zulfikar. Sekarang dirinya telah merayu Adila untuk makan pagi, dan meminum susu tambahannya.
"Honey, satenya datang..." Adila langsung sumeringah wajahnya kembali ceria walau tetap saja pucat.
"Wahhh satenya harum sekali, bee ayo suapi aku, baby nya sudah gak tahan." Zulfikar senang melihat istrinya yang kembali ceria.
"Emmhhh, bee ini benar-benar sesuai dengan keinginan ku." Saat Adila menerima suapan demi suapan sebuah pesan masuk ke ponsel Zulfikar.
"Tuan, sudahkah menerima notifikasi dari rumah sakit Budi Bakti?"
"Belum. Ada apa?"
"Sate itu seharga perawatan seorang yang terkena DBD tingkat lanjut!" Zulfikar tercengang dengan pemberitahuan asistan nya itu, namun dia hanya tersenyum.
"Tidak apa, pak tua itu sudah baik pada ku sudah membuatkan apa yang istri dan anak ku inginkan, dia pantas menerima itu, sampaikan salam ku padanya, istri ku sangat menikmati sate buatannya, aku akan membayar semua perawatannya sampai tuntas, jika perlu rawatlah di ruang VVIP."
Zulfikar kembali tersenyum menatap sang istri yang belepotan dengan bumbu sate, Zulfikar mengelapnya dengan jari... Adila menyambar tangan Zulfikar dan menjilatnya. "Jangan di elap, aku tidak rela setetes pun hilang dari mulut ku."
"Honey, kamu mulai jorok ya? kamu bisa makan semuanya bahkan bisa membelinya lagi jika kurang."
"Tidak! bee, ini sangat nikmat, pokoknya jangan buang setetes pun aku akan menjilati bungkusnya kalau perlu." Zulfikar lelah berdebat dengan Dila hanya karena setetes bumbu sate, "Kuharap bayi ku nanti tidak sejorok kamu ya Honey." ucap Zulfikar yang menggoda Adila.
"Bukankah jorok itu memang dari dirimu ya bee, kamu selalu menjilati tangan sesudah makan bukan, termasuk saus roti di tangan ku bukan?" Adila membalikan situasi.
Zulfikar tersenyum, "Ya.. Honey, kamu menang." Zulfikar sumeringah sekali setelah di buat cemas dan kalah oleh Adila pagi ini.
__ADS_1