
Aku semakin cemas dengan kondisi Adila, selepas oprasi 2 jam yang lalu. Wajahnya yang pucat pasi, bibirnya yang menjadi biru membuat aku gusar dan serba salah dibuatnya.
Aku menciumi keningnya, perlahan menatapnya yang mulai membuka mata. Dalam ku tatap matanya yang tak secerah biasa. "Apa yang terjadi bee?" Dia bertanya pada ku dengan lemahnya. Aku yang tak menjawab, mulai menghapus air matanya, hendak berkata semua baik-baik saja dan enggan membuatnya kecewa, tapi ku fikir Adila harus tau meski akan menyakitkan untuknya.
"Honey, apakah kamu tau bahwa kamu telah mengandung?" Aku awali dengan sedikit bertanya padanya.
"Bee, aku tidak tau? apakah aku sedang hamil? aku tak mungkin hamil kan bee saat ini?" Adila mulai dilanda cemas, raut wajah yang semula tenang kini gusar ku lihat.
"Honey, kamu hamil baru 3 minggu, tapi karena rahim mu sangat rentan, janin itu luruh, honey ikhlaskan ya." Aku menangkup pipinya dan mencium keningnya.
"Tidak bee, tidak, aku tidak mengandung, bahkan aku tidak merasakan apapun bee." isakan yang semula pelan kini semakin menjadi. Aku mencoba untuk menenangkannya dengan kata-kata namun kini dia malah semakin memberontak. Aku memanggil suster yang bertugas. Dokter dan suster datang bersamaan dan kini mereka menyuntikan sesuatu Adila pun menjadi lemas dan terlelap sekarang.
"Maaf tuan Zulfikar, bisa ikut saya sebentar." Dokter meminta ku untuk ikut keruangannya. Dia menjelaskan kondisi rahim istri ku, yang tergambar jelas pada layar monitor di depan ku.
__ADS_1
"Keadan nyonya Adila sekarang sudah lebih baik dari pada saat oprasi tadi, tekanan darah sesudah transfusi pun sudah tidak turun lagi, tapi keadaan rahim nyonya sekarang sangat lemah, kita harus menghindari kontraksi pada rahim, mau itu benturan atau goncangan. Saya minta bantuan dari anda untuk menjaganya, 4 sampai dengan 6 hari ini saya perintahkan nyonya untuk bedrest." Aku syok dengan pernyataan dokter tersebut.
"Bagaimana bisa selemah itu dok? apakah istri saya setelah semua ini masih bisa mengandung?"
"Tenang saja tuan, masih bisa namun ada beberapa hal yang harus dilalui terlebih dahulu." Aku cukup lega dengan pernyataan dokter. Meski harus ada banyak hal, mungkin Allah menegur ku karena sering meninggalkan Adila sendiri di rumah, atau menyuruh ku belajar lebih sabar dan ikhlas.
Aku kembali ke ruangan Adila, kasihan sekali istri ku ini, terlelap namun aku tau sejuta khawatir yang ia fikirkan.
Adila mebuka matanya perlahan, "Bee, bisa lantunkan ayat suci Al-Quran untuk ku, aku ingin mendengar mu mengaji."
"Apa saja supaya hati ku tenang."
Aku memilih surat Ar-Rahman, sambil sesekali memandang Adila yang mulai tertidur lagi efek obat penenang dalam infusnya. Damai sekali istri ku tertidur, aku merebahkan diri di sofa, menghubungi mami dan mengabari Fano agar mereka tidak cemas. "Mi, dalam beberapa hari ini Adila harus di opname selama Adila di opname Fikar akan menemaninya. Mami bisa kirim pakaian ganti dan beberapa kebutuhan kami, dan jangan khawatir Adila sudah lebih baik sekarang." begitulah memo yang ku kirim pada mami.
__ADS_1
Tepat di tengah malam Adila bangun meringis kesakitan, "Honey, kamu kenapa?" Adila meneteskan airmata sambil memegangi perutnya. "Honey, lepaskan tangan mu dari perut mu, itu akan berbahaya untuk mu." paksa ku yang kini memegangi tangannya yang terus memukuli perutnya.
"Honey, jangan begini, ini justru akan memperburuk keadaan mu sayang, kamu harus ikhlas dengan semua kemungkinan sayang." Adila memukuli dada ku dengan tangannya yang bergetar dan lemas.
"Kenapa? kenapa harus aku dari sekian banyak wanita kenapa harus aku yang begini, aku sangat menginginkan bayi itu Bee, aku gak sanggup bee, bahkan sebelum aku tau dia hadir disini, dia sudah pergi bee!!!" Adila terus meronta, sementara aku mencium keningnya, memeluknya dan terus menasehatinya.
"Honey, manusia itu tidak pernah bisa berhenti untuk belajar, kita sedang belajar sekarang, belajar untuk ikhlas, ikhlas menerima semua rencananya dengan baik, ini hanya sebuah ujian sebelum kita menjadi orang tua yang mamapu, kita harus belajar dengan pengalaman yang terberat ini. Kamu harus kuat, supaya Allah dapat memberi kita anak-anak yang hebat."
"Meski bukan dari rahim ku? bee aku tau setelah ini, semua tidak akan semudah itu, aku tau apa yang akan terjadi selanjutnya."
"Honey, hanya sulit, bukan tidak mungkin, kita harus ikhtiar dan berdoa, masih banyak program untuk mengembalikan kondisi rahim mu agar kembali sehat."
Aku terus memeluknya hingga akhirnya Adila bisa berfikir jernih.
__ADS_1
"Honey, kamu tau seberapa cinta saya sama kamu, menunggu mu demi apapun saya mau, apalagi hanya masalah bayi sayang, saya akan terus berada disamping kamu, memperjuangkan keinginan kamu, jika kamu ingin memiliki bayi berapapun harganya termasuk diri saya sendiri, saya akan tebus sayang." Aku menghapus peluhnya dan mencium pucuk kepalanya.
Inilah kami manusia yang sulit untuk ikhlas, sebenarnya ikhlas itu penting dalam belajar untuk kehidupan dan drajad sebagai manusia.