Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Kalut


__ADS_3

Hari ini aku memulai aktifitas ku dengan sepenuh hati, tentunya dengan segala senyuman dan keikhlasan. Anak-anak sudah berada dikelas masing-masing mereka sedang meronce manik-manik ada yang membuatnya menjadi gelang atau kalung, aku juga membuatnya menjadi gantungan kunci. Setelah selesai mengajar aku kembali mengisi waktu senggang dengan berlatih tekwondo. "Loh? Adila kamu latihan lagi, kemana aja satu minggu ini ngilang, sibuk ya sama suami." Citra berkomentar sambil memulai pemanasan.


Ya memang satu minggu ini aku memilih untuk sejenak beristirahat, karena Kak Zul yang selalu membutuhkan ku stay di rumah, pernah sesekali aku berfikir untuk berhenti saja, karena aku akan sangat sulit mengatur waktu, tapi ku urungkan. "Iya, Citra aku memang sedang sibuk, oh ya Cit kamu yang wakilkan kompetisi itu kan?" "Tidak Dila, mungkin antara kamu dan Alan, sebab kaki ku baru sembuh cedra Dil." Aku hanya termenung, tidak mungkin aku ikut kompetisi itu, selain tempatnya yang jauh dan beresiko untuk ku sekarang.


Jam pun berlalu, aku mengemas beberapa atribut yang mungkin tidak akan ku kenakan lagi. Aku kembali kerumah menatap isi kamar ku yang begitu sepi, hanya ada foto pernikahan kami di sudut ruangan. Aku meremas perut ku, air mata ku menetes, teringat kembali perkataan dokter dua minggu lalu, tepat dimana suami ku bergurau tentang bayi. "Nona Adila apakah anda telah menikah?" "Iya dokter saya sudah menikah, tapi belum berhubungan." "Pantas saja nona, lalu kenapa anda mau melakukan pemeriksaan ini."


"Saya hanya ingin tau, apakah rahim saya sehat, ataukah bermasalah, pasalnya beberapa bulan ini saya selalu kesakitan saat mestruasi."


"Baik saya memang sudah melakukan pemeriksaan terhadap nona, dari hasil yang saya dapati tidak ada masalah dalam rahim nona, hanya saja rahim nona sangat rentang, jika ada proses pembuahan maka hal yang harus nona lakukan adalah betrest, jika tidak maka pendarahan akan selalu terjadi dan itu berbahaya bagi nona."

__ADS_1


"Dok, saya ingin memiliki bayi dalam waktu dekat, apakah ada solusi untuk itu?" "Saya hanya akan memberikan kamu treatment dan juga beberapa vitamin serta jadwal untuk kamu melakukan hubungan dengan suami mu, jangan lakukan pekerjaan berat atau olahraga yang bertumpu pada perut."


tok, tok, tok..


Suara ketukan pintu


"Iya sebentar." Adila membukakan pintu dan segera menhapus air matanya. Ternyata Zulfikar yang datang. "Kak, kamu sudah pulang, lelah ya?" Dila bertanya sambil menaruh tasnya di atas meja.


Seketika Adila membalik tubuhnya menghadap Zulfikar, "Iya Dila juga rindu sama kakak." Cup... sekilas Adila mencium bibir sang suami. "Kak, kita perlu bicara sebentar mengenai Luna dan Kak Jefrina, besok mereka akan tiba di Indonesia, Dila mohon, jangan banyak bertanya jika kak Jefrina tidak bercerita ya, bagaimana pun ini hal menyakitkan untuknya." Zulfikar mengangguk dan pergi menjauh dari Adila, dia masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Mana bisa Dila saya hanya diam saat kakak perempuan saya terus disakiti seperti ini, mulai dari kehamilannya di luar nikah, ditinggalkan dan diusia pernikahannya yang baru 2 tahun dia harus menerima perceraian yang bukan atas dasar kehendaknya, saya tidak bisa terus membuat dia semakin tersakiti, saya hanya mau dia tercukupi dari segi apapun." Zulfikar hanya bisa bermonolog kalut dalam emosi yang tidak bisa dijabarkan. Sementara Adila kini bertahan dengan ribuan harapan. Tanpa diketahui Zulfikar Adila memulai program yang disarankan dokter.


Zulfikar keluar dari dalam kamar mandi, tetap dengan kebiasaannya yang hanya mengenakan handuk. Dia menatap Adila yang berada di balkon kamarnya. Zulfikar merengkuh Adila mengecup pipinya. "Ada apa bidadari ku, jika ingin meneskan air mata teteskan di peluk ku, jangan seperti ini, bicara sayang." Adila menerawang jauh dalam lamunan. "Kak aku sangat mencintai mu, aku ingin memberi kado spesial di hari ulang tahun mu, namun sepertinya waktu berkata lain belum saatnya kado terindah itu datang." Adila memeluk suaminya dengan erat dia menangis dalam pelukan.


"Maaf aku telah memulai program kesuburan tanpa sepengetahuan mu, dan tidak memberi tahu mu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada ku." Zulfikar menatap wajah Adila berusaha meyakinkannya bahwa semua kehawatirannya tak akan terjadi.


"Dokter mengatakan rahim ku sangat lemah, dan bila nanti ada pembuahan maka aku akan selalu mengalami pendarahan, bahkan keguguran, bagaimana kak, aku ingin sekali hamil, menimang bayi seperti wanita-wanita lain, tapi dalam kondisi rahim seperi ini, apa aku bisa?"


"Sayang, kamu lupa kamu punya siapa? Ada Allah disetiap langkah kita, jika memang belum waktunya, mungkin Allah punya rencana lain, itu semua bukan ketidak mungkinan, hanya saja Allah menginginkan kita menjadi pasangan yang saling melengkapi dulu, menikmati momen bersama, kamu tau kan beberapa bulan ke depan saya akan sangat sibuk, dan semua itu akan menyita perhatian saya untuk kamu, jadi percaya pada Allah semua akan baik-baik saja."

__ADS_1


Adila menelusup ke dada Zulfikar dia menemukan ketenangan disana.


__ADS_2