
Seperti orang Indonesia pada umumnya acara selamatan pun digelar bertempat di kediaman Zulfikar dan Adila. Acara berupa pengajian dan cukur rambut saat sang bayi setelah 40 hari terlahir ke dunia.
Zulfikar membeli 4 ekor kambing pejantan untuk di sembelih dan dijadikan sajian untuk para tamu undangan dan juga tamu yang ikut dalam pengajian. Dua ekor kambing untuk acara Aqiqah baby Arsal sementara dua lainnya hanya untuk hidangan pemantas untuk tamu yang hadir.
Silih berganti undangan datang, rekan bisnis dan beberapa yang mengetahui kelahiran Baby Arsal dan juga turut di undang Zulfikar datang membawakan hadiah.
Ada seorang tamu tak di undang, niatnya memastikan apakah benar Adila adalah istri dari Zulfikar atau hanya sebagai pemeran wanita yang bersandiwara.
Mama Indira yang mengetahui wanita itu adalah Maharani, segera pergi menemuinya.
"Kamu mau apalagi? putra saya sudah bahagia dan sudah menerima semua keputusan kamu."
"Maaf tante, kedatangan saya di sini bukan untuk Irfano, tapi untuk Zulfikar, jadi jangan besar rasa dulu." Ucap Maharani dengan songongnya.
"Zulfikar telah menikah dengan adik ku Adila, jadi jangan pernah mengusiknya lagi, Zulfikar sudah pernah mengatakan bahwa dia tidak akan pernah salah memilih, jika dia memilih kamu itu adalah kesalahan, mengerti !" Ucap Fano dengan nada kasar lalu membiarkan Maharani sendirian.
Adila yang sedang menggendong baby Arsal tersenyum bahagia saat Deluna dan Jefrina datang. "Assalamualaikum, aduh si cantik ku datang." Adila tersenyum penuh ramah.
"Selamat ya Sayang, baby Arsal tampan ya seperti perpaduan Fikar dan kamu sayang, maaf kakak baru bisa datang, Luna sadang rewel jadi gak bisa keluar rumah." Ucap Jefrina sambil mencium kedua pipi adiknya, dan mengelus lembut Baby Arsal.
__ADS_1
"Iya, gak papa kak, lagi pula juga jarak menjadi penghalang juga kan." Jawab Adila.
"Aunty, dede ganteng, sama kaya Luna, pipu chubby." Deluna menyentuh pipi gembil Arsal.
"Sama ya, kembar bukan? ini yang di perut Aunty."
"Yang di perut Aunty, Aunty mamam dede nya?" jawab Deluna polos.
Adila tak bisa memberi penjelasan hanya tertawa.
Maharani datang menyambar tangan Zulfikar dan memeluk Zulfikar, dengan reflek Zulfikar melempar tubuh Maharani sampai tersungkur.
"Fikar, aku gak percaya kalau wanita adalah istri kamu, kamu hanya bersandiwara kan."
Pertengkaran mereka mengundang perhatian para tamu yang hadir.
"Apa maksud mu dengan kata pura-pura, saya mencintai dan menikahi dia sampai kami punya anak mana mungkin ini hanya sebuah kepura-puraan apalagi hanya untuk menghindari wanita seprti kamu." bentak Zulfikar.
"Fikar, aku cinta sama kamu, waktu itu aku hanya jenuh."
__ADS_1
"Apa jenuh? jika kamu jenuh saat itu setidaknya kamu tidak melukai hati dua pria sekali gus, apalagi hanya karena alasan jenuh, kamu mengerti!" Zulfikar membentak Maharani karena alasan Maharani yang menurutnya di luar nalar.
"Kalian para pria memang terlalu memikirkan dunia kalian sendiri, aku bosan Fikar dengan prilaku mu yang dingin kepada ku." Sangkal Maharani tak mau disalahkan.
"Cukup Mbak Maharani, jangan membuat keributan di rumah ini, ini acara untuk baby Arsal, tidak pantas mengungkit masalalu mu yang memang sudah berakhir sejak lama." Ucap Utari yang saat itu memang sudah berpindah status menjadi kekasih Irfano.
"Kamu, itu siapa? hah?" Tanya Maharani dengan nada tinggi."
"Maaf, saya hanya orang lain yang sangat mengerti masalah ini, saya tau kamu adalah mantan tunangan Pak Zulfikar, saya juga tau kamu mantan kekasih Pak Irfano, tapi hanya mantan kan? masalalu mu bersama mereka berdua memang murni kesalahan mu, hampir 7 tahun saya menemani mereka berdua sebagai sekretaris, saya cukup paham!" Jelas Utari.
"Kamu bertunangan dengan pak Zulfikar kan, setelah itu tanpa sepengetahuan pak Zulfikar kamu berselingkuh dengan Pak Irfano, menjadi wanita pertamanya yang menjadi cintanya, namun ketika Pak Irfano meminta untuk menikahi kamu pak Zulfikar kembali ke Indonesia, dan kamu memilih pak Zulfikar, perselingkuhan pun terbukti di sini, kamu menghancurkan dua orang yang saling menjaga sedari kecil, dan kamu meninggalkan mereka berdua tanpa memilih, dan bertahun lamanya kamu kembali, menyatakan diri sebagai tunangan atau calon istri seorang pria yang telah menikah, sungguh tidak tahu malu." Suara ketus dan kalimat menyudutkan Utari melesak kedalam hati Maharani.
Tapi tetap saja wanita tidak tahu malu itu menampak kan diri.
Adila yang enggan ikut campur hanya menatap sang suami memberi kode untuk menghampirinya. Zulfikar datang bersimpuh dihadapan Adila.
"Ini acara untuk baby Arsal, jangan biarkan ini menjadi hiburan untuk para undangan Sayang ku." ucap Adila sambil mengecup pipi Zulfikar.
"Ya..." Zulfikar berjalan menuju Maharani menarik tangannya membawanya keluar dari tempat berlangsungnya acara, Zulfikar menghempaskan Maharani.
__ADS_1
"Jangan pernah muncul lagi, saya tidak akan menyakiti kamu, tapi tolong menjauhlah pergilah dari tempat ku berpijak dimana pun itu." ucap Zulfikar, dan berlalu meninggalkan Maharani.