
"Bee, hari ini jadikan kita USG dengan dokter Ema?" Tanya ku sambil menyuap nasi dengan sate yang di janjikannya dua malam lalu.
"Jadi, honey... nanti kamu di jemput Gunawan ya, saya ada rapat siang ini, jadi ketemuan di Rumah Sakit saja." Jawabnya sambil meminum jus yang telah di sediakan.
"No.. no no... Bee gimana kalau aku sama Ruri saja yang menjemput mu setelah rapat?" Bujuk ku selain ingin melihat kantor suami ku, aku juga ingin melihat wajahnya saat menjadi CEO.
"Boleh, kamu jemput saya sekitar jam satu siang saja, saya rapat memang di kantor, jadi nanti kamu bisa tunggu di ruangan saya." Gembiranya aku bukan main saat dia mengizinkan.
Dia mengecup kening ku lalu pergi menuju ke kantornya.
***************
Sesampainya di kantor seluruh staff tersenyum menatap sang CEO yang ramah dan tampan ini, Zulfikar memang terkenal akan keramahan dan sikap low profile nya.
"Selamat pagi Tuan, anda sudah di tunggu Mr Alex diruang rapat." Ucap Utari selaku sekretaris pribadinya saat di kantor, hanya di kantor.
Zulfikar berjalan menuju ruang rapat dimana meja panjang yang mampu menampung sekitar 20 orang itu sangat sepi, hanya ada 3 orang disana.
"Selamat pagi Mr Alex maaf menunggu, saya belum terlambat kan, jadwal yang di janjikan jam 9 bukan?"
"Ya, betul tuan Zulfikar, saya hanya memajukan sedikit waktunya, karena ada yang ingin bertemu secepatnya dengan anda." Zulfikar heran siapa yang sangat ingin menemui dirinya.
Seorang wanita menggunakan hills tertutup berwarna putih, dengan rok mini diatas lutut, lengkap dengan blezer yang senada dengan sepatu dan roknya, masuk keruangan dimana ada Zulfikar dan Mr Alex berada.
Zulfikar menatap lalu terdiam, memalingkan muka dan berusaha untuk pergi secepatnya. "Selamat pagi tuan Zulfikar, akhirnya bertemu lagi setelah sekian lama, bagaimana apakah ini menjadi kejutan untuk mu?" Wanita itu tersenyum ramah namun Zulfikar terlihat sangat tidak suka dengan kehadirannya.
Zulfikar hanya mengangguk, dia mengalihkan pembicaraan, dia membahas bisnisnya dengan Mr Alex dan dengan Utari juga tentunya. Setelah beberapa waktu mencari kesepakatan Zulfikar berdiri.
__ADS_1
"Mr Alex saya berharap kerja sama ini saling menguntungkan dan bisa berjalan dengan baik, oh ya Utari tolong bantu saya untuk mengatur semuanya." Utari mengangguk dan berlalu, sementara itu Zulfikar keluar dari ruangan itu.
"Fikar... tunggu sebentar!!" Wanita yang hendak membuat kejutan untuk Zulfikar menghadang langkah kakinya.
"Ada apa? apa mau mu sebenarnya hah?" Sambut Zulfikar namun masih dengan nada sopan.
"Delapan tahun kita tidak bertemu, apakah kamu tidak rindu pada ku?"
"Rindu kata mu? setelah menghancurkan hati sahabat ku, kau bilang rindu? Maaf Maharani, hati ku tidak semudah itu luluh."
"Tapi Zulfikar, yang aku cinta memang kamu bukan Irfano." Jawab wanita itu dengan gamblang nya.
"Ya, tapi saya hanya mencintai satu orang di dunia ini, dan bukan kamu orangnya, pergilah sebelum Fano tau keberadaan mu." usir Zulfikar pada wanita itu.
Zulfikar berlalu, tepat pukul satu siang Adila telah sampai di ruangan Zulfikar dia duduk dan Utari pun menyuguhkan teh untuk sekedar menunggu Zulfikar yang sedang rapat bersama Gunawan.
"Kak Utari, boleh saya tanya?" Sambut Adila memulai pembicaraan.
"Jangan panggil nyonya panggil saja Adila, oh ya kak Utari, apa benar bang Fano itu mulai mendekati mu?"
"Hah? bang Fano? maksud kamu?"
"Iya pak Irfano Darendra, dia kakak saya, benar kah kamu sedang PDKT sama dia?"
Utari sedikit kikuk tapi, dia coba untuk stabil.
"Mbak Dila, maaf saya tidak tahu, kalau kamu itu adiknya, kami memang dekat tapi belum sejauh itu."
__ADS_1
"Saya senang akhirnya kakak saya bisa membuka hatinya juga untuk wanita lain."
Sesaat kemudian Maharani datang dan masuk kedalam ruang kantor Zulfikar, dia heran dengan kehadiran Adila dan Utari yang sedang bercengkrama dengan heboh.
"Maaf, nona jangan masuk kedalam sembarangan, siapa yang memberi mu izin." Ucap Utari dengan tegas.
"Izin? saya harus minta izin untuk masuk kedalam ruangan calon suami saya?" Ucap Maharani dengan nada sombong.
Kemudian Zulfikar dan Fano datang dalam waktu bersamaan. Mereka melihat Maharani yang sedang beradu argumen dengan Utari. Adila masih duduk diam mengamati.
"Apa apaan ini, kenapa kalian ribut di ruangan saya?" Tanya Zulfikar pada dua wanita jenjang di hadapannya.
"Tari, mana Adila?" Fano menanyakan keberadaan adiknya.
"Adila ada di sana Mas." Jawab Utari yang menyebut Fano dengan sebutan yang bisa ia gunakan saat tidak di kantor.
"Maharani, saya harap kamu bisa keluar dari ruangan saya secepatnya.!" Ucap Zulfikar yang menatap Adila penuh cemas.
Maharani yang bukan keluar malah menggandeng tangan Zulfikar.
"Saya akan keluar kalau kamu yang antar sayang, lagi pula kita akan segera menikah bukan?" Adila berdiri dengan susahnya di bantu Fano.
"Apa bee? apa yang dia katakan? tolong jelaskan." Adila mulai tersulut emosi meminta penjelasan.
"Saya atau Fano tidak akan menikahi wanita yang salah, saya sudah mencintai dan memiliki cinta itu, jadi saya tidak perlu cinta yang lain, Honey, dia Maharani." Dengan menyebut namanya saja Adila sudah mengerti.
Wanita ini yang membuat abangnya menderita patah hati dan berpisah dari sahabatnya.
__ADS_1
"Mbak maaf ya, saya sudah ada janji dengan dokter untuk memeriksakan buah cinta kami, jadi saya pinjam dulu ya cinta halusinasi kamu." Adila memotong perdebatan dengan nada mengejek.Adila mengandeng lengan abangnya dan juga suaminya.
Wanita yang di sebut Maharani ini pun masih tak percaya dan mematung di tempatnya berdiri menunggu security menjemputnya.