
Pagi-pagi sekali Adila sudah menyiapkan dirinya, pernikahan ini begitu cepat hanya selang 1 bulan tapi semua rampung dengan mudahnya. Adila yang dibalut gaun pengantin muslimah dengan warna putih itu terlihat sangat cantik, Adila nampak seperti seorang ratu, kini jam tepat di pukul 08.00 rombongan pria sudah datang.
Zulfikar mengenakan jas bernuansa putih dengan kerahnya yang berwarna abu, serta bunga mawar putih yang diselipkan Indira di kantong jass tersebut.
Tak lama acara di mulai, Fano menjabat tangan Zulfikar dengan tegas, jujur Fano sangat gugub, bahkan dirinya juga belum pernah melkukan hal seperti ini.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan dengan adik perempuan saya yang bernama Adila Dilara binti Furqon Asegaf dengan cincin emas putih seberat 6 gram yang bertahtakan berlian seberat 1 gram dibayar tunai." Sentakan tangan keduanya terjabat semakin kencang, dengan yakin Zulfikar lantang mengucapkan ijab kobul.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Adila Dilara binti Furqor Asegaf dengan mas kawin cincin emas putih seberat 6 gram yang bertahtakan berlian seberat 1 garam dibayar tunai."
__ADS_1
Segenap keraguan Adila luntur sejak mendengar kata sah dari para wali nikah.
Air mata Adila berjatuhan, dia tak tau harus berkata apa, mama Indira dan Mami Vena, mengantarnya kedepan suami sahnya sekarang ini. Zulfikar keringat dingin saat Adila memasuki ruangan tersebut, Zulfikar terpana dengan kecantikan alami Adila.
"Sekarang kalian berdua telah sah menjadi sepasang suami istri, bisa dipasangkan cincin pernikahannya." pak penghulu yang berbicara, mama Indira mengambilkan cincin tersebut, Zulfikar memasangnya dengan gemetar.
Setelah selesai prosesi akad nikah, mereka melangsukan resepsi di sebuah gedung. Dekorasi yang disuguhkan sangat indah, bahkan semua orang tidak menyangka 1 bulan adalah waktu yang cukup singkat untuk mempersiapkan semuanya.
"Selamat atas pernikahan mu ini ya putra ku, cepatlah punya baby supaya mami mu tidak kesepian." Sindir papi Zulfikar pada mami Vena.
__ADS_1
"Terimakasih papi bisa hadir, bukannya selama ini sangat sibuk ya." sindir Zulfikar ketus.
Adila merasa sangat lelah sore ini, namun acara belum berakhir, setelah sholat Asar, Adila mengganti pakaian ke 3 nya, gaun bernuansa abu itu terlihat sangat baik ditubuh Adila, para undangan nyaris hadir semua, tapi Adila menatap sendu mertuanya yang hampir menangis. "Mami, ada apa? ini hari bahagia kami mi, mami jangan menangis." Adila memeluk dan mengusap air mata Vena.
"Kalian janji sama mami, kalian tidak boleh gagal ya, ini sangat menyakitkan sayang."
"Mami, Adila yakin Kak Zul akan selalu berusaha untuk yang terbaik, dia imam ku kan mi."
Waktu berganti hari sudah larut, para tamu juga sudah hadir semua, ya hanya beberapa kolega yang hanya mengirimi hadiah pernikahan.
__ADS_1
Adila sangat lelah, dia memasuki kamarnya, betapa kagetnya dia melihat kamarnya terangkai rapih, ada satu buket mawar merah disana, bunga kesukaan Adila, Adila yang sudah berpakaian rumah sedari tadi menciumi bunga itu dan menaruhnya pada vas diatas meja riasnya.
Adila tidak pernah berfikir sesi ijabkobul tadi sangat membuatnya terharu hingga meneteskan air mata, bahkan Adila sangat cemas ketika Zulfikar mengucapkan kata-kata romantis itu.