
Melihat mami dan mama yang kembali kerumah dengan membawa berbagai macam perlengkapan bayi, membuat aku sangat senang dan bahagia.
"Dila, lihat deh mami belikan baby baju bagus ya?" kata mami sambil menuang satu tas belanja yang penuh dengan baju bayi.
"Sayang lihat deh, mama juga belikan kasur buat baby, jadi kalau dia gak betah di boks dia bisa tidur disini." sambung mama dengan sejuta kecerian.
"Iya, iya semuanya bagus, terimakasih ya mami dan mama yang sudah mau repot berbelanja untuk baby." Kata ku sambil memilih baju-baju bawaan mereka.
Perut ku sekarang sangat besar, berat badan yang semula hanya 40 sampai 45 kini malah menjadi 60 kilo, aku jadi susah untuk berdiri, bahkan menuruni anak tangga pun aku selalu meghela nafas panjang.
Kak Zul datang dengan membawa beberapa barang, ternyata dia juga sedang mempersiapkan kamar bayi kami senyaman mungkin.
"Bee, itu buat apa? kamu mau ngecat sendiri, kenapa gak minta bantuan sama orang lain aja?" Tanya ku yang melihatnya membawa 2 kaleng cat, dan peralatan untuk memperindah kamar.
"Anak ku itu spesial, jadi harus ayah nya yang mempersiapkan semua, bunda sabar aja ya, jaga baby biar sehat." Dia berjalan membawa semua itu ke lantai dua.
Kemudian sebuah mobil pick up datang membawa belanjaan yang mama dan mami pesan.
__ADS_1
"Mah, ini apa? banyak banget? ma, mi baby belum perlu itu semua." aku berkomentar karena barang yang datang berupa, tempat tidur baby berupa boks, stroler, baby chair, lemari baby, dan juga barang-barang yang tidak kami perlukan sekarang.
Kak Zul yang datang hanya cengar cengir, aku memutar bola mata, bukannya tidak suka tapi terlalu berlebihan.
"Sudahlah honey, biar saja biar mereka senang, lagi pula ini cucu pertama buat mama, wajar dia lebih antusias."
"Lalu? ini cucu ke dua mami, seharusnya mami lebih mengerti."
"Saat Deluna lahir, mami tidak bisa berbuat banyak, lagi pula Deluna lahir penuh dengan keadaan yang tidak stabil." Kak Zul memberi pengertian agar aku bisa menerima semua pemberian mereka.
Aku membuka online shope karena aku tidak bisa pergi kemana pun saat ini.
"Kamu kenapa honey? senang banget?" Tanya kak Zul yang ada di sebelah ku kini, dia mengelus perut buncit ku.
"Enggak, cuma lagi bayangin baby pakai baju tidur yang aku beli di online shope bee."
Kak Zul tertawa dan mengusap perut ku kali ini sedikit meraba raba."
__ADS_1
"Emangnya kamu sudah tau wajahnya seperti apa honey? uhhh.. Aduh!"
"Kenapa bee?" Aku kaget saat suami ku berteriak seperti itu.
"Ini, baby gak suka ya kalau ayah godain bundanya, baby bergerak bun."
"Haha, dia memang suka seperti itu jika di usap usap, biar pun bunda belum lihat baby tetap saja anak bunda pasti yang terbaik." Kak Zul mencubit pipi ku, aku malah membalas menciumnya.
"Oh ya, bee kamu cat kamar baby dengan warna apa?"
"Biru tua, dengan nuansa putih, bagus deh kalau ayah yang kerjakan, baby pasti suka, ayah bela belain ambil cuti sampai baby lahir, biar saja uncel Fano yang handel semuanya."
"Ih, kamu jahat banget sih bee, kalau kerja terus kapan abang bisa cari calon istri bee?"
"Biar saja, kamu gak tau abang mu itu sedang PDKT sama Utari ya?" aku menggeleng, masa sih selera abang menurun?
"Udah ah, kita bobo, biar besok kita bisa jalan pagi ke taman, taman samping maksudnya." Aku tertawa dengan ejekannya, sikapnya yang semakin kelihatan punya jiwa humor semakin ia tunjukan untuk menggoda ku.
__ADS_1
Kami pun harus memejamkan mata, karena hari sudah semakin larut di tambah besok pagi akan ada pekerjaan untuk kak Zul.