Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Bahagia


__ADS_3

Hari ini kali pertamanya Adila dibolehkan untuk keluar ruangan sterilnya, senyuman terpancar dari wajah bahagia itu, Zulfikar mendorong kursi rodanya. Mami yang kembali lagi kerumah juga sangat bahagia.


"Bee, boleh tidak aku cium luna, sebentar saja, Luna duduk di pangkuan ku." Wajah sedih muncul saat Zulfikat menolak semua permintaan Adila, namun tak sampai hati membuat Adila sedih lagi.


"Boleh tapi hanya cium saja tidak untuk memangku Luna, kamu fahamkan apa yang dokter bilang." Adila sudah lumayan tidak sekeras dulu, pada waktu trimester ke 2, di trimester ke 3 ini dia lebih lembut dan sabar.


Mami datang membawakan senampan buah dan beberapa kue untuk kami yang sedang berkumpul di taman, keluarga besar dan tetangga datang untuk menghadiri acara syukuran 7 bulanan Adila. Kalau waktu usia kandungan Adila 4 bulan dulu kami melaksanakannya di pondok pesantren, sekarang dirumah.


Zulfikar berlutut menghadap Adila,


"Honey, kamu mau makan apa?" Nafsu makan Adila sekarang sangat kuat, bahkan jika malam terbangun Zulfikar harus membuatkan makanan untuknya yang lapar.


"Aku mau puding saja bee." Zulfikar menyuapi istrinya dengan penuh kasih, Rasya yang mengamatinya terharu melihat kakaknya itu.


Pundak Rasya di tepuk dari belakang,


"Hardi?" Rasya kaget dengan kehadiran Mahardi yang memang diundang Adila hari itu.


"Rasya, gue bisa kok menjadi pria manis seperti kakak lo."


"Hardi, lo itu cowok kaku, mau seperti apa pun juga lo gak akan bisa sama seperti kak Fikar." Jawab Rasya ketus.


"Sya, dengerin gue dulu dong." Rasya berbalim arah mengikuti perkataan Mahardi.

__ADS_1


Mahardi menarik tangan Rasya menuju tempat sanak saudara berkumpul.


Mereka semua menatap Mahardi dan Rasya.


"Ada apa dengan kalian?" tanya Zulfikar pada dua orang yang terlihat tidak akur itu.


"Maaf kak, waktu itu kak Dila pernah bilang sama saya jangan pernah dekati Rasya jika tidak dengan kelembutan, dan jangan pula dekati Rasya tanpa persetujuan dari walinya."


"Maksud kamu apa Mahardi, saya wali syah Rasya, mau kamu apa?" tanya Zulfikar yang mulai sinis.


"Saya hendak meminta izin pada Kak Zulfikar, dan Tante Vena, untuk meminang Rasya." Ucap Mahardi dengan tekad yang matang.


"Hardi? lo kepentok apa? lo udah gila, gue masih kuliah, gue belum wisuda, gue belum..."


"Rasya, cukup nak." ucap mami dengan lembut menyambar perkataan anak perempuannya itu.


"Apakah kamu benar-benar serius menginginkan adik saya?"


"Benar kak Fikar, saya jatuh cinta pada Rasya sejak mengenal dia lebih dalam."


Zulfikar tertawa meremehkan Mahardi.


"Sejak kapan memangnya kau mengenal adik ku dengan sangat dalam? mungkin kau hanya mengerti hal yang dia suka atau tidak, hanya itu saja, tidak cukup untuk memulai rumah tangga."

__ADS_1


"Pernikahan tidak membutuhkan cinta, cinta itu konsepnya bertumbuh, sementara pernikahan hanya butuh ke ikhlasan bukan?" Jawab Mahardi, yang tetap menghormati Zulfikar.


"Rasya, kamu mau menggadaikan masa depan mu dengan pria ini?" tanya Zulfikar pada Rasya yang bersih keras tidak mau.


"Tergantung, sekuat apa anak ini bisa meluluhkan hati ku, tapi setelah pernikahan." Zulfikar dan semu yang ada di sana terkaget dengan pernyataan Rasya.


"Maksud kamu Sya?" tanya Mahardi,


"Aku mau menikah dengan mu setelah wisuda, tapi buat hati ku luluh seperti kak Dila yang luluh dengan kata dan kelembutan kak Zulfikar." Lalu Adila menjawab dengan memojokan.


"Rasya, aku luluh oleh kakak mu karena dia orang yang sangat penyabar dan ikhlas menerima ku, bukan karena rayuan gombalnya, yang seperti Mahardi lakukan pada mu." Ucap Adila dengan bahagia karena mampu membuka fikiran Mahardi yang saat itu sudah lelah mengejar Rasya.


"Rasya kak Dila buka satu hal tentang Mahardi ya."


"Apa itu kak? Hardi lo simpen apa di belakang gue?" Tanya Rasya yang mulai janggal.


"Sebenarnya sebulan lalu Hardi nyaris mundur, karena Hardi bilang kamu seperti singa, dan Hardi bukan pawang yang cocok untuk mu, dia juga bilang kalau Alan lebih bisa menaklukan mu, tapi kakak bilang, wanita itu akan luluh dengan sesuatu yang pasti, kakak juga bilang, kalau Rasya sebenar juga sudah sedikit lunak dengan perlakuan mu, kakak suruh Hardi datang hari ini untuk memberi keputusan tentang apa yang ia dapat selepas istiqoroh nya."


Rasya bersemu merah mendengar penjelasan Dila, ia berlutut memeluk menciumi perut Dila.


"Ahhh... kakak makasih banyak ya kak telah mengubah Hardi menjadi yang lebih baik, debay, kamu beruntung punya Ayah dan Bunda sebaik mereka."


"Emh.. iya kalau kak Dila tuh di sayang kalo kamu ngucapin trimakasih, lah kalau aku kakak nya sendiri di pukul, Hardi lo harus ekstra sabar ya sama adik gue, Rasya minggir entar anak gue nular kaya lo, gak bisa diem." Celetukan Zulfikar yang mengundang tawa semuanya, Rasya juga memeluk Zulfikar, Zulfikar juga membalas pelukannya, Rasya mencubit pinggang kakaknya. "Auuu... Rasya masih aja begini, malu sama calon tuh.." Teriak Zulfikar namun Rasya masih mengumpat di ketiak kakaknya. "Hardi, nanti kalau udah sah, jangan mau di peluk, Rasya bau bangke." Ucapan Zulfikar di lempari plototan tajam adiknya. "Kak Fikar!!!" Rasya mengejar Fikar yang berlari kedalam ruangan.

__ADS_1


Bahagia yang menghampiri mereka adalah buah dari kesabaran serta ke ikhlasan dalam menjalani kehidupan yang seperti roda, berputar dan selalu berputar.


Percayalah kesedihan adalah bahagia yang tertunda.


__ADS_2