Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Tindakan


__ADS_3

Setelah dua hari menjalani perawatan di rumah sakit kondisi Adila semakin menurun karena air ketubannya yang terus merembas.


"Bee, aku minta maaf ya jika selama aku mengenal mu, mungkin ada prilaku atau ucapan ku yang menyakiti hati mu." Adila menggenggam tangan Zulfikar yang dingin karena air wudhu.


"Honey, selama saya mengenal kamu hanya ada cinta dan kesabaran yang terpancar dari dirimu, kamu jangan kahawatir, kita akan melalui ini bersama." Zulfikar meneteskan air matanya karena melihat Adila yang saat itu memaksa ingin melahirkan normal.


Dokter melakukan tindakan suntik perangsang agar Adila bisa segera melahirkan karena air ketuban hampir habis. Zulfikar masih menatap cemas penuh kegundahan.


"Bee, jika ini harus mengorbankan salah satu dari kami maka selamatkan saja baby, aku sangat yakin itu keputusan yang terbaik." Adila mencengkram kuat lengan suaminya, menarik nafas panjang, menahan rasa sakit yang sangat luar biasa.


Zulfikar menatap dalam ruang kaca dimana sang istri terkulai lemah dan penuh harapan. "my Honey, jangan pernah tinggalkan kami, aku tak sanggup, Ya Allah perbaikilah keadaan istri hamba, kasihanilah hamba dan putra hamba ya Allah."


Air matanya berjatuhan membuat mami Vena tak sanggup melihat keadaan putranya yang saat ini penuh dengan rasa takut dan cemas.


"Fikar, kamu sudah mengazankan putra mu nak? jangan terus begini, ini hanya akan membuat Adila lemah sayang, kamu harus kuat, supaya Adila juga kuat." mami Vena mengusap pundak anaknya dengan sekuat hati.


Zulfikar tak menjawab pertanyaan dari siapapun, sampai dokter mengabarkan sesuatu tentang kondisi Adila.


"Tuan Zulfikar, bayi anda dalam keadan yang sangat sehat, tuan sudah lihat sendiri tadi kan, dia sangat tampan, dan oh ya.. tentang ibunya, nyonya Adila sudah bisa kami pindahkan ke ruang perawatan, kini pendarahan dan kondisinya sudah mulai membaik dari pada 7 jam yang lalu." jelas dokter.


"Alhamdullilah, bisa saya temui istri saya dok?"


"Tentu, tapi nanti setelah keluar dari ruangan ICU."

__ADS_1


"Baiklah dokter, terimakasih sudah banyak membantu kami."


"Saya permisi dulu tuan Zulfikar."


Dokter pun berlalu, Zulfikar mencium kedua tangan mama dan maminya yang sedari tadi menguatkannya.


Adila membuka matanya, samar ia melihat mereka yang ada disekelilingnya, Adila tersenyum, menatap dalam wajah tampan yang sangat ia rindukan.


"Bee, kamu kah itu?" Dengan pelan Adila membuka suara, bahkan nyaris tak di dengar. Zulfikar mengangguk, menyalurkan emosi bahagianya.


"Saya disini honey, selamat ya baby sudah lahir, dia sangat tampan, senyumnya manis seperti mu."


"Benarkah, dia sehat? terimakasih ya Allah kau selamatkan kami berdua, bee dimana dia, aku ingin memeluknya." tak lama Adila berucap, seorang suster datang bersama boks berisikan bayi laki laki yang sangat sehat dan bermata tajam.


Mata bayi tampan itu menguci pandangan Adila, mata hitam pekatnya seperti Zulfikar sementara senyumnya mirip sekali Adila hidung mancung dengan alis yang sudah terlihat, membuat bayi ini sangat tampan.


"Assalamualaikum." kata pertama yang terlontar dari bibir Adila, sejak menggendong bayinya.


"Baby, sekarang kamu sudah lihat bunda kan? bagaimana bunda cantik tidak?" Adila tersenyum.


"Honey, kamu akan selalu jadi yang tercantik untuk kami." sambar Zulfikar, kemudian duduk dihadapan Adila.


"Baby, sudah lihat Ayah belum? mata mu sama seperti dia, hidung mu juga sayang."ucap Adila.

__ADS_1


"Honey, saya kalah tampan dengan baby ya?" Adila hanya tersenyum.


"Bee, beri nama anak kita? Aku mau nama depannya Arsal, kamu beri nama belakangnya ya..." usul Adila.


"Kenapa Arsal?"


"Entahlah, papah datang dalam tidur ku, waktu pertama kali aku tau aku sedang mengandung, dan nama itu yang di berikan papah untuk baby." Zulfikar mencium kening istrinya yang mulai belajar menyusui putranya di bantu suster.


"Baiklah, apapun yang kamu inginkan akan saya kabulkan."


Adila tersenyum manis.


"Saya sudah memilih nama untuk baby, Bagaimana kalau Arsal Ibrahim Arafi?"


"Aku setuju, itu bagus bee, jadi panggil baby sekarang Arsal ya..." sahut Adila yang diiringi senyuman.


"Hello baby Arsal, ini oma, sayang." panggil Mami Vena.


"Hey... Arsal cucu kesayangan neni." ucap mama Indira.


"Gak nyangka aku Ve, akhirnya aku punya cucu, langsung laki-laki tampan lagi ya Ve."


"Iya In, aku juga seneng ini cucu laki-laki pertama ku, tampannya, cucu ku." ucap mami Vena dan Indira yang memancarkan raut kagum pada cucuk laki-lakinya.

__ADS_1


Zulfikar dan Adila hanya bisa tersenyum bahagia, menatap mami dan mamanya yang berebut ingin mengendong baby Arsal.


__ADS_2