
Tepat pukul 04.45 aku terbangun, aku bingung kenapa aku sudah ada dalam selimut bersama kak Zul ya? padahal semalam aku kan sedang duduk dan mengompresnya. Aku melihat ke sebelah ku, kak Zul tidur dengan lelapnya, baru kali ini aku memandang dirinya yang sedang tertidur. Dia begitu manis jika seperti ini, bulu mata lentiknya, pipi tirusnya, hidungnya yang nyaris sempurna, bahkan bibir yang waktu itu mengambil ciuman pertama ku, sebenarnya aku belum bisa menjadi istri mu yang sesungguhnya maaf ya kak, teruslah bermimpi. Aku hanya bisa mengelus dahinya, aku tidak bisa mengecupnya, sama seperti apa yang selalu dia lakukan kepada ku, karena sesuatu yang tidak bisa ku paksa.
"Dil, kamu sudah bangun, jam berapa solat subuh sudah lewat belum?" Dengan nada lemas dia bertanya pada ku, "Belum ini masih jam lima lewat sepuluh, kak Zul mau solat?" Dia hanya mengangguk dan bangun dari tidurnya. "Mau Dila bantu gak? kakak masih lemas?" Dia hanya tersenyum lalu masuk kekamar mandi. Lalu keluar, mengenakan sarung dan melaksanakan solat subuh, setelah solat subuh kami berdua keluar kamar.
"Kak Zul, kamu laper gak?" "Laper sih, tapi emang kamu udah masak?" aku mengeleng, "Kalau kamu belum masak saya mau makan apa?" Aku hanya tersenyum dari meja makan, sementara dia duduk di sofa ruang keluarga yang hanya berjarak sekitar 6 meter.
"Adila mau beli bubur di seberang jalan dekat toko buah didepan gang, sekalian beli buah dan sayuran, kakak kan harus banyak asupan gizi, nanti siang mau makan apa biar aku masakin." Aku kini duduk disampingnya.
"Gak usah masak Dil, nanti kamu kesiangan ngajar lagi." Aku hanya bisa tersenyum kali ini, bukan saja perduli dengan kesehatannya, lagi lagi dia memperdulikan pekerjaan ku.
__ADS_1
"Selama kakak dalam tahap penyembuhan Adila akan temani kakak, Adila ambil cuti dadakan kak." Kini dia menatap ku tajam, dan aku hanya bisa membalas tatapannya.
"Terimakasih ya bidadari ku, kamu kenapa sih Dil sekawatir itu sama saya?" tanyanya yang mulai mencari tau alasan ku.
"Karena Adila belum bisa memberikan hal itu, mangkanya sebaik mungkin Adila akan memenuhi kewajiban Adila yang lain kak, bahkan Adila tau kakak sangat membutuhkan hal itu kan, tapi kakak selalu menahannya, jujur Adila sedih dengan keadaan ini, Adila mau memberikan diri Adila seutuhnya, namun di fikiran Adila selalu terbayang dia kak."
Dia menutup mulut ku dengan jemarinya. "Sudah, kita pergi sekarang, beli bubur dan belanja untuk hari ini, saya gak mau kamu mengingat masa lalu, karena ada masa depan di hadapan kamu." Aku tersenyum, terharu dengan perkataannya, mungkin dia yang memang harus menjadi tempat terakhir ku untuk percaya bahwa tak semua pria itu sama, Kak Zul berbeda, dia begitu penyabar dan romantis, dengan perkataan sederhananya, dia menarik hati ku perlahan.
"Kenapa kak, gak suka? ya sudah biar kakak makan punya Dila, ini belum di apa apain kok belum dimakan juga, makan aja kak, biar yang itu Dila yang makan." Tawar ku padanya. "Biar pesan lagi saja Dil, masa kamu makan bekas saya." Aku segera mengambil mangkuknya dan ku tukar dengan punya ku. "Gak apa-apa nanti mubazir, sayang masih banyak orang yang gak bisa makan, kakak malah buang makanan."
__ADS_1
"Maafin saya ya Dil, saya belum pernah makan itu seumur hidup saya, saya cuma makan daging saja Dil." Aku hanya tersenyum menatap kepolosannya, bila di ingat mama juga gak pernah masak ini buat aku bisa dibilang aku juga nyaris gak pernah makan hati, tapi tak apa yang penting aku masih menerima makanan ini.
Kak Zul sedari tadi sibuk memilih buah, banyak sekali yang ia beli, Ada Anggur, Jeruk Sunkis, pisang, Alpukat, Mangga, dan buah Appel. "Kak, buah sebanyak itu untuk apa? Mami lagi gak ada dirumah, Rasya juga lagi di luar kota, nanti mubazir kak kalau busuk.
"Hemmm, saya yang makan semuanya, saya mau buat jus Dil, kamu beli wortel gak?" Tanyanya yang memang memesan wortel.
"Ada, yaudah pulang yuk, lagian juga udah siang nih." Kami pun kembali kerumah, Kak Zul yang sedikit berkeringat melepas baju dan membiarkannya tergeletak begitu saja. Aku kembali ke dapur membersikan buah dan sayur yang tadi di beli, Kak Zul dengan wajah segar sehabis mandi membantu ku di dapur.
"Dil, saya mau buat jus kamu mau tidak?" "Aku mau kak, tapi maunya Alpukat, sudah matang belum alpukatnya?" Dia mengecek keadaan alpukat, "Sudah masak Dil, biar saya buatkan pasti rasanya enak kamu masak sayurannya saja, karena saya akan makan banyak hari ini." Aku hanya mengacungkan ibu jari ku.
__ADS_1
Hanya ini waktu bersama yang kami punya, sejak piknik dadakan itu, selama dua bulan pernikahan ini, memang kami selalu bertemu namun tidak berkesempatan seperti saat ini saling memandang menebar senyum dan menjalan kan aktifitas layaknya pasangan. Selama ini kami hanya bertatap dan sibuk dengan dunia masing-masing. Semoga kita akan punya waktu kebersamaan lebih panjang dan selalu dalam keadaan baik.