
Dengan lemah aku tertatih meminta maaf kepada suami ku, aku tau dia bersedih, dia terluka, namun ini saatnya aku mengatakan.
"Bee, terimakasih sudah menemani ku selama 5 tahun terakhir ini, kamu sudah menjadi suami dan ayah yang sempurna untuk keluarga kecil kita, kamu memberi kehangatan di tengah hujan menghantam diriku. Bee, bila memang kita harus berpisah dengan cara seperti ini ku mohon rawatlah mereka dengan cinta dan kasih mu." Aku hanya bisa menampilkan air mata yang semakin lama tak terbendung lagi.
Kak Zul hanya bisa mentap ku dengan pandangan penuh harapnya, aku hanya bisa mengenggam tangannya dengan segala lemah ku, aku mencitainya, bahkan dia pelabuhan dan tempat terakhir ku menambatkan hati, aku yakin walau nanti kami terpisah pun itu hanya untuk sementara karena surga yang kekal pasti akan menyatukan kita kembali.
Senyum nanar yang hadir di hari itu membuat semua bercucuran air mata.
"Fikar, ikhlaskan sayang, mama pun sudah mengikhlaskannya, ini adalah kuasa Allah nak."
"Ma, maafkan Fikar dan Adila bila selama kami berumah tangga selalu saja merepotkan mama, atau bahkan perkataan Filar atau Dila sering menyakiti mama."
Zulfikar bersimpuh di hadapan mama dan Maminya, dia belum bisa menerima kenyataan bahwa semua alat yang dipasang ke tubuh Adila sudah akan di lepas oleh perawat.
Dua jam lalu, kondisi Adila semakin menurun, sempat membaik namun hanya untuk mengatakan sesuatu pada suaminya.
Zulfikar harus menerima kenyataan yang membuatnya tak mampu berdiri.
Adila adalah cinta pertama untuknya, Zulfikar sangat amat mencintainya, walau pun banyak wanita yang menguji kesetiannya semenjak menikah, namun Adila tidak pernah marah atau bahkan mengomel, mengejek atau semacamnya, rasanya rumah tangga mereka sangat damai.
__ADS_1
Sanak saudara dan krabat berdatangan memenuhi kediaman Adila, Zulfikar hanya terdiam menatapi istrinya, "Bidadari ku, saya tau dan saya yakin ini hanya sementara, saya pastikan kita sekeluarga akan kembali berkumpul di surga nanti, saya tidak akan pernah mencari pengganti mu, saya berjanji akan selalu menjaga dan mendidik kedua putra kita dan putri kita Honey, saya sangat mencintai kamu, saya tau saya tidak akan seimbang tanpa kamu, tapi saya akan berjuang sampai garis finis."
Zulfikar mengecup kening dan pipi Adila rona merah tak lagi bersemu disana, hujan mengiringi pemakaman bidadarinya.
Rasa kehilangan itu semakin menyeruak masuk ketika dia membayangkan Adila tersenyum menatapnya, minggu lalu.
"Mi, apakah ini sungguhan? Fikar rasa ini hanya mimpi kan mi?"
"Tidak, sayang ini sungguhan, mami juga tidak percaya, menantu kesayangan mami yang melahirkan putra mahkota mami, malah harus pergi secepat ini." Mereka semua yang hadir hanya bisa menatapi kepergian Adila.
Hari berlalu tanpa disadari, cepat nya waktu membuat pria tampan, mapan dan rupawan yang sedang asyik bermain di taman belakang bersama putra dan putrinya semakin dewasa.
Zulfikar selalu meluangkan waktu sepulang kerja atau weekand untuk bersama dan mengurus mereka, Abang Arsal yang semakin pintar dan kritis dengan pelajaran-pelajaran di sekolahnya, Si kembar Tama dan Vara yang selalu saja menuntut pelukan dan kecupan dari ayahnya.
Saat ini suasana sedang sunyi si kembar di bawa sang oma untuk menginap, sementara Arsal di bawa neni nya untuk menghadiri acara keluarga di Australi, dan sang Ayah Zulfikar Malik Arafi, hanya terdiam menatapi bingkai foto.
"Pernahkah kau mengingat ku honey, bidadari ku?" senyum getir, tatap sepi penuh cinta dan kesunyian memporak porandakan suasana sekejap.
"Saya tidak pernah... tidak pernah sedetik pun melupakan kamu,bidadari ku, berdoalah untuk saya mohonkan pada Allah sayang supaya saya bisa mendidik mereka menjadi anak yang mampu mempertemukan , menyatukan kita kembali pada surganya Allah." Tetesan air mulai tak terbendung lagi, awan pun perlahan meneteskan juga airnya, sama seperti Zulfikar.
__ADS_1
"Honey, saya merindukan kamu, merindukan senyum lembut mu, merindukan tatap teduh mu, saya juga merindukan sentuhan mu, suara mu yang mengalun merdu di sepertiga malam ku, Ya Allah aku ingin menatapnya lagi." Zulfikar perlahan memejamkan mata.
Matahari mulai terbit, kicauan burung pliharaan Arsal sudah memanggil manggil sang majikan.
Arsal tanpa mengetuk pintu berlari mencari Ayahnya yang sudah dua minggu terakhir tidak ia temui.
"Ayah... ayah... bangun." Ketika menemukan ayahnya tertidur di sofa Arsal menaiki badan ayahnya dan terus mengecup ayahnya sambil berbisik.
Zulfikar mengerejapkan matanya.
"Uhhh Abang udah pulang ya? kok gak kabari ayah? biar ayah jemput nanti di bandara." Tanya Zulfikar pada putra tertuanya.
"Emmm ayah kata neni, ayah itu butuh banyak istirahat, supaya ayah tetap sehat dan bisa jadi super hiro abang, Tama, sama Vara." Ucap Arsal dengan semangat.
"Bang, Rindu ayah tidak? emmm?"
"Abang Rindu Ayah, tapi, lebih rindu sama bunda." Wajah Arsal berubah mendung, dan membuat hati Zulfikar tercabik.
"Arsal rindu bunda?" Arsal mengangguk.
__ADS_1
"Ayah, tapi sekarang udah gak rindu lagi, karena kata neni, sebenernya Arsal bisa ketemu bunda, asalkan Arsal selalu berdoa, solat tepat waktu, dan selalu baca Quran, pasti nanti Arsal ketemu bunda, benar kan yah kata neni?" Zulfikar hanya tersenyum menatap anaknya yang semakin lama semakin bertekad untuk bertemu sang bunda.