
Setelah kurang lebih hampir tujuh bulan pernikahan ini berjalan, aku merasakan banyak perubahan dalam diriku mau pun hidup ku. Kesabaran, keberanian serta kematangan berfikir ku menjadi lebih terasah.
Pagi hari ini tepat pukul 08.00 Jet pribadi Zulfikar mendarat di Indonesia. Pagi itu Adila tidak tau pasti kepulangan suami tercintanya.
Zulfikar sedang menghubungi asistannya untuk memesan kamar di sebuah hotel bintang 5, tak lupa Zulfikar juga meminta kamarnya itu di dekor dengan tiga macam bunga mawar.
Pukul 15.30 Zulfikar sedang berada di tempat biasa Adila berlatih tekwondo, dengan mobil sportnya Zulfikar banyak mencuri perhatian mereka yang berlatih disana. Adila melihat suami tercintanya itu, Adila tertawa bahagia, tanpa ia duga suaminya itu datang dengan sangat bersemangat dan dalam keadaan sehat. Tak menunggu waktu lama Adila datang menghampiri, Adila memeluk suaminya dengan sangat erat.
"Kamu merindukan saya Honey?" Adila segera melepaskan pelukannya. "Tidak." Namun Adila tersenyum dengan banyak arti.
"Tapi memeluk saya seperti tadi? saya fikir kepulangan saya seperti ini akan membuat surprise buat kamu ternyata..." Cup.
Adila mencium pipi suaminya seketika.
__ADS_1
"Kak Zul, ini membuat aku bahagia, sangat bahagia, Dila memang sangat rindu, jangan tinggalkan aku selama ini lagi ya?"
Zulfikar tersenyum dan mencium kening istrinya lagi, "Mau saya juga begitu, kalau kamu mau ikut dengan saya, kita tidak akan berjauhan kan?" "Tetap saja Dila tidak bisa bagaimana dengan anak di sekolah, mereka lebih dulu jatuh cinta dan menyayangi ku di banding kak Zul."
"Honey, kamu lupa panggilan kamu ke saya?" Zulfikar melupakan sesuatu pada sebutan Dila ke dirinya, terasa aneh sedari tadi dia mendengar Dila memanggilnya dengan sebutan Kak Zul.
"Iya my bee, aku hanya belum terbiasa lagi, jika berhadapan seperti ini aku jadi grogi."
"Sudah bisa pergi sekarang? saya ingin mengajak mu pergi." Tanya Zulfikar pada Dila yang masih rapih dengan seragam tekwondonya.
"Bee, ayo kita berangkat." Zulfikar kaget dengan rangkulan sang istri yang telah tiba di sebelahnya.
Mereka pun menuju tempat yang sudah Zulfikar sediakan. Adila penasaran, karena tempat itu begitu jauh menurutnya. 4 jam sudah perjalanan yang mereka tempuh dengan kecepatan di atas rata-rata, sepanjang perjalanan pun Zulfikar menciumi tangan Adila.
__ADS_1
"Honey, kita akan berbulan madu hari ini, saya sudah mengurus semuanya." Adila hanya bingung dibuatnya.
"Tapi aku tidak membawa pakaian bee."
"Saya sudah sediakan semuanya untuk kamu my honey." Perjalanan itu mengubah semua pandangan Dila terhadap suami bukan saja pengertian namun juga romantis.
Sesampainya di tempat tersebut, Adila terkagum dengan tempat yang dipilih suaminya, tempat di puncak gunung yang di dominasi udara dingin dan pemandangan hijau dari ketinggian melengkapi ke romantisan diantara mereka.
Selepas solat isya, Zulfikar mengajak Adila untuk mengaji, alunan suara merdu tentang surat-surat dalam Al Quran mengiringi malam syahdu diantara mereka.
"Honey, masih maukah kamu mengandung baby dari benih yang saya sebar?" Adila tersenyum menandakan dia masih ingin dan sangat ingin.
"Ini honey moon ya Bee? tapi ini lebih romantis dari apapun buket mawar ini sangat cantik, dekorasinya juga sangat indah, tentu saja aku mau menjadi ibu dari benih yang kamu sebar, aku mencintai mu bee, dengan segala kekurangan mu, aku mencintai mu dengan seluruh hati ku."
__ADS_1
"Honey, jangan pernah berhenti untuk terus mencintai dan melengkapi ku. Aku butuh kamu untuk terus menjadi pria yang seutuhnya." Mereka memeluk satu sama lain, menyatukan rindu dan melampiaskan rasa diantara mereka.