
Hari ini aku kembali bekerja walau hanya di dalam ruang kerja ku saja, para asistan dan sekretaris di kantor juga silih berganti datang ke rumah hanya sekedar meminta tanda tangan untuk beberapa dokumen.
Aku tidak sanggup jika harus meninggalkan Adila hanya untuk sebuah pekerjaan di luar rumah, mendadak rumah sepi ku menjadi seperti kantor. Beberapa ART ku pun ikut turun tangan untuk sekedar memasak dan beberes rumah.
"Sudah jam makan siang tuan, tuan mau makan apa biar saya yang pesankan."
tanya seorang sekretaris yang sedari pagi sudah stay di sini.
"Tidak perlu ART saya sudah memasak, lagi pula masakan rumah lebih aman." Aku berlalu menuju ruang steril perawatan Adila, setelah mencuci tangan, aku masuk dan melihat Dila yang bertengkar dengan susternya.
"Honey, ada apa? kamu berkata kasar pada suster, kamu harus tahan emosi sayang." ucap ku yang mengelus kepala Adila.
"Aku hanya tidak ingin suster memaksa ku makan nasi, bee nasi itu seperti bergerak-gerak, aku jijik seperti belatung."
"Yasudah, mau makan apa? emm?"
__ADS_1
"Aku mau makan daging panggang, tapi bakarnya di sini." Aku hanya diam mencari ide bagaimana bisa di bakar di depan mata Adila, ini ruang steril.
"Kamu mau makanan yang lain kah? tadi pagi sudah makanan yang dibakar, kamu harus makan yang lain, bagaimana kalau rendang atau semur mau?"
"Baiklah mungkin aku berpindah keinginan sekarang bee, bagaimana kalau buatkan aku roasting chickend, itu hanya di oven kan bee."
Baguslah dia hanya mau makan ayam dan daging dari kemarin, sayuran dan buah pun tidak disentuh, menambah repot diri ku saja.
Aku membuatkan roasting chickend terlebih dahulu untuk nya, setelah itu kami makan siang bersama.
Papi menelfon ku, tidak seperti biasanya dia menelpon, untuk apa ya? apakah hanya untuk memberi tahu bahwa dia gembira dengan perceraian dan kesengsaraan putri pertamanya?
"Hallo ada apa pi?"
"Hallo Fikar, papi hendak memberi tahu jagoan papi telah lahir, kau harus menemui adik mu dia sangat tampan." Zulfikar sangat kesal, bayi yang tidak diharapkan lahir dari seorang wanita yang merebut papi dari maminya.
__ADS_1
"Adik? Adik ku hanya Rasya, tidak ada selain Rasya, itu hanya anak mu bukan adik atau kau anggap apalah dia." Suara ku ketus menanggapi semua bualannya itu, Rasya yang berada disamping ku kini mulai mengerti apa yang sedang kami perbincangkan.
Rasya mengkode ku untuk menyerahkan ponsel, aku memberikannya pada Rasya.
"Jangan pernah anggap kami anak mu lagi, karena saya sangat membenci anda, dan jangan pernah berharap bayi itu akan memiliki tempat di kerajaan kami!"
Rasya menangis menandakan rasa kecewa yang begitu dalam pada papi, papi adalah orang yang tak pernah Rasya harapkan kehadirannya, yang ada di mata Rasya papi hanyalah seorang yang selalu menjadi algojo kala menyiksa batin mami.
"Rasya, lihat kakak, kendalikan sikap bencimu terhadapnya, dia tetap ayah mu, di darah mu mengandung darahnya Rasya."
"Dia pantas untuk ku benci, 20 tahun hidup bersama mami dengan damai, apakah dia tidak luluh, mami mengorbankan 29 tahun hidupnya bersama dia, lalu dia mengabaikan mami hanya untuk seorang wanita yang dia kenal selama 2 bulan, kemudian dia menyiksa dan mengorbankan waktu 9 tahun, waktu yang kufikir hanya singkat tapi panjang untuk keperihan mami kak. Didalam darah ku ada darahnya, namun dalam Agama kontak dalam darah itu sudah terputus, dia bukan wali ku sejak 9 tahun lalu, dia bukan muslim lagi kak, dia sudah berpindah keyakinan bukan, aku hanya punya diri mu kak sebagai wali sah ku secara agama." Rasya pergi dari hadapan ku dengan sejuta emosinya.
"Rasya sudah tumbuh dewasa tau mana yang benar dan salah, dik aku akan selalu mencintai mu seperti Fano mencintai istri ku." Ucap ku saat dirinya pergi.
Rasa kacau mampir dalam otak dan hati ku aku hanya bisa menatap senja dari balkon, menatap sampai akhirnya aku kalut sendiri.
__ADS_1