Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Beruntungnya Aku


__ADS_3

Seorang dokter dan 3 orang perawat wanita datang sore itu, dokter memeriksa keadaan Adila yang sore itu kelihatan sangat pucat, lemas dan tentunya masih merasakan kontraksi pada perutnya.


"Bagaimana keadaan Adila dok? apakah dia dan bayinya sehat?"


Tanya Zulfikar yang saat itu cemas, bahwasanya semenjak Adila tau dia positif hamil, Adila terus muntah, bahkan makanan apapun yang ia inginkan hanya di endus dan digeletakannya begitu saja.


"Tuan anda tidak perlu kawatir, bayinya sehat, namun kondisi ibunya lah yang sangat menghawatirkan, kami akan memasukan sejumlah vitamin untuk menopang tumbuh kembang janin, agar dapat bertumbuh sebagaimana mestinya."


Zulfikar kembali kedalam ruangan yang menjadi tempat perawatan istrinya di rumah itu, ruangan itu steril, bersuhu dingin.


"Honey, jika merasa sakit maka sebut nama Allah, dia yang maha memberikan segalanya. Selamat atas kehamilan mu ya, apapun akan ku lakukan untuk mu."


"Bee, aku hanya ingin mengucapkan selamat hari jadi pernikahan kita yang pertama ya bee."


"Benarkah sudah satu tahun kita menikah? cepat sekali rasanya baru kemarin kita menikah."


"Waktu berjalan cepat jika kita menikmatinya." jawab Adila yang menatap suaminya, tak lama dokter menyuntikan obat, dan menyuruh Zulfikar pergi.


"Tuan, sebentar saya ingin menyampaikan sesuatu."

__ADS_1


"Apa itu dokter?"


"Betrest sudah mulai dilakukan, ini akan berlangsung selama 4 atau 6 bulan, sampai saat itu kami akan tetap memantau kondisinya, tuan saya harap tuan dapat membantu menyetabilkan emosinya."


Mendengar penjelasan dokter Zulfikar menghubungi Fano.


"Assalamualaikum, Fan gue mau ngabarin kalau Adila positif hamil, sudah menginjak usia 4 minggu, tapi sekarang dia tersiksa Fan dengan kehamilannya, gue minta lu balik sebentar sama mama buat kasih dia semangat sebentar aja, 2 atau 3 minggu lah."


"Waalaikum salam, bro baiklah mungkin lusa gue sama mama balik, lu jaga ade gue ya jangan sampai ponakan gue kenapa-kenapa, lo juga yang sabar jangan stres."


Waktu pun berlalu, Adila masih tertidur karena efek obat yang disuntikan tadi sore.


"Nak tumbuhlah menjadi tauladan yang baik ayah dan ibu mu menunggu di sini, menjaga mu untuk selalu di samping kami."


Adila mulai membuka matanya, "Bee, kamu disini? kamu gak capek, ini sudah malam kan?" Zulfikar tersenyum.


"iya memang sudah malam, tapi saya gak bisa tidur kalau kamu gak temani saya, kamu kenapa? haus?"


Adila tersenyum dengan wajah pucat yang masih singgah itu.

__ADS_1


"Aku haus, tapi aku mau minum air teh manis tapi yang dinginnn sekali." Adila masih dengan wajah memohon.


"Ya, aku buatkan sebentar ya." Zulfikar pergi ke dapur dan bertanya pada perawat yang masih tetap menjaga Adila sampai selarut ini.


"Sus, istri saya minta di buatkan minuman dingin apa boleh?" tanya Zulfikar.


"Boleh pak, tapi saya harap bukan minuman bersoda atau minuman dengan gula buatan."


"Tenang saja suster Adila hanya ingin es teh manis." Zulfikar berlalu membuatkan es teh manis untuk istrinya.


"Honey, ini es teh pesanan kamu." Zulfikar menyodorkan segelas besar yang penuh dengan teh manis dan es batu yang cukup banyak. Wajah Adila sangat gembira, sepertu anak yang di belikan mainan yang ia sukai. Ditenggaknya habis minuman itu, tanpa tersisa hanya ada bongkahan es batu di sana.


"Bee, makasih ya ini segar sekali." Wajar Adila sangat senang sejak tadi siang hanya es teh ini yang dapat masuk ke perutnya dan tidak di muntahkan.


Zulfikar yang mulai lelah menggenggam tangan istrinya lalu pulas tertidur di kursi tepat di sebelah Adila. Adila kini membelai lembut kepala sang suami dengan rasa haru tak berkesudahan.


"Bee, jika kamu bukan pria yang menjadi suami ku mungkin saat ini aku adalah wanita yang paling menderita, bee sekarang atau seterusnya tetap perlakukan aku seperti seorang ratu." Adila malam itu benar-benar merasa bersyukur, ia mengelus perut ratanya dengan lembut.


"Maafkan bunda sayang, bunda sangat rapuh, tapi kau harus menjadi kuat disini, jangan tinggalkan bunda dan ayah ya nak, kami sangat mengharapkan dan membutuhkan kehadiran mu, ya Allah biarkan kami menjaga dan membesarkan titipan mu ini ya Allah jadikan kami orang tua yang amanah, menjaganya ya Allah."

__ADS_1


Adila ikut terlelap bersama sang suami disampingnya.


__ADS_2