
Malam ini Fano dan mama kembali ke Indonesia, mama sangat cemas dengan keadaan Adila yang sekarang, wajah pucat dan tubuh ringkih Adila membuatnya menangis sedari tadi ia menginjakan kaki di rumah ini.
"Ma, sudahlah, kita hanya bisa berdoa untuk Adila, semoga Adila dan janinnya sama-sama kuat, jangan terus menangis, kasihan Fikar yang juga khawatir akan keadaan Adila ma." Fano menasehati mamanya, aku juga mulai sedikit tenang dengan keberadaan mereka sekarang, setidaknya Adila tidak lagi manja pada ku seorang.
Pagi ini Adila meminta mandi, jujur saja sudah hampir 1 bulan semenjak bedrest, badannya hanya di elap dengan air hangat.
"Bee, ayolah, aku mau mandi sekarang aku sudah lebih sehat bukan, dokter juga bilang aku boleh keluar ruangan tapi dengan kursi roda, mandi sepertinya sangat segar."
Aku mengikuti kemauan Adila, aku memandikannya, air hangat jatuh menguyur tubuhnya yang semakin kurus itu.
Menuang sampo lalu memijat lembut kepalanya, menyabuninya kemudian ku bersihkan tubuhnya, tubuh Adila tidak boleh dingin, dia harus selalu hangat.
Aku memakaikan baju untuknya, dia tersenyum sangat bahagia.
"Bee, terimakasih ya, sudah merawat ku." Aku hanya tersenyum tak kalah bahagianya dengan dia.
Setelah itu aku meminta perawat membawakan makan pagi Adila, menyuapinya dengan susah payah, karena satu suapan masuk dan suapan lain keluar dari mulutnya, Adila masih seperti itu menolak makanan yang tidak di inginkan, tapi bagaimana pun makanan harus masuk supaya nutrisinya cukup.
"Bee, sudah rasanya sangat tidak enak, aku mau makan buah saja." kali pertamanya selama dia mengandung akhirnya Adila makan buah, ku irisi apel merah untuknya, namun dia muntah lagi , seperti orang yang terkena anoreksia saja jika seperti ini terus kasian janinnya, begitu pula dengan dia.
__ADS_1
Dokter menyarankan ku untuk tidak menuruti semua kemauan Adila, karena mau bagaimana pun nutrisi dari makanan itulah yang paling baik untuk janinnya, vitamin hanyalah pelengkap saja.
"Ma, tolonglah bujuk Adila supaya mau makan, paling tidak minum susu, Fikar sudah kehabisan cara untuk membujuknya." Keluh ku pada mama yang saat ini tengah beristirahat di sofa.
" Fikar, mama sudah membujuknya berkali-kali tetap saja Adila muntah, bahkan makanan kesukaannya sekali pun ia menolak."
Aku mencoba membujuknya kembali untuk makan malam, "Honey, kamu makan apa? malam ini pokoknya kamu harus makan."
"Bee, aku ingin sekali makan nasi kucing, tapi kamu yang suapi aku, pleas."
"Nasi kucing? itu apa?" Fano yang berada diruangan itu langsung saja menyambar dan meledek ku.
Adila terus saja merengek seperti anak kecil, bang Fano juga kemana sih lama sekali, nasi kucing itu apa lagi, masa istri ku dikasih makanan kucing, bodo amat lah yang penting Dila mau makan.
Cukup lama kami menunggu dan bang Fano datang dengan membawa senampan penuh lauk pauk ada sate telur, ceker bakar, tempe tahu bacem, ada mendoan, sate usus, telur gimbal, rempeyek kacang.
"Fano, lu yang bener aja istri gue, lu kasih makanan kayak gini? ini sehat?"
"Banyak cakap lu, tenang aja aman, yang penting sekarang Dila mau makan kan."
__ADS_1
Aku tambah heran ketika Fano membuka bungkusan nasi dengan sambal serta ikan tongkol yang hanya sebesar jari. Tapi lagi-lagi Adila menyantapnya dengan sangat nikmat, dia makan dengan lahab tanpa di suapi oleh ku, memang efek orang yang mengandung itu luar biasa.
"Fan, jadi nasi kucing itu kaya gini?"
"Bukan, nasi kucing itu nasinya aja tuh yang di bungkus, ini cuma lauk-lauk pendampingnya."
Adila menuang semua sambal yang ada di piring, menyantapnya dengan sangat nikmat, ini sudah bungkusan ke 2 yang dia habiskan, lauknya juga hanya tinggal tahu saja.
"Honey, kamu makannya pelan-pelan, seenak itukah nasi kucing, sampai kamu lahab sekali makannya."
"Haduh bee, ini bener-bener enak, pokoknya jangan ada yang ganggu aku makan." tukasnya sambil menahan pedas karena sambalnya nyaris memenuhi piring, dan Adila sekarang tengah ke kenyangan di atas ranjang rawatnya.
"Fan, thanks ya, gue gak ngerti kalo gak ada lo nyari nasi kucing dimana yang ada gue beliin makanan kucing."
"Mangkanya jangan kebanyakan tinggal di negara orang sampe makanan khas aja gak tau, nanti kalo Dila minta di beliin yang aneh-aneh lagi gimana?"
"Tinggal calling lu lah, atau searching aja dulu di google."
"Gini nih, kalo bos besar bebas..."
__ADS_1
Aku dan Fano menertawai ke lucuan kami masing-masing dan Adila jinak hanya dengan dua bungkus nasi kucing.