
Pagi ini aku terbangun dengan sangat amat bahagia, entah apa yang memenuhi rongga dada ku sehingga senyum selalu ingin mengembang. Cup...cup... cup...
Aku membuka mata, Dila sedang menatap ku dari dekat diatas dada ku. "Sayang? kamu sudah bangun, jam berapa ini?" Aku mengelus rambut hitamnya dan mencium keningnya. "Sudah jam lima ka, kita solat subuh berjamaah ya." Aku bangun, pergi dari ranjang, kami melaksanakan solat subuh berjamaah.
"Dil, kamu masih merasa sakit tidak? kalau masih sakit kamu tidur lagi aja." Adila menatap ke arah ku, dia mengusap punggung tangan ku.
"Lalu, kalau aku tidur lagi siapa yang akan siapkan sarapan pagi ini? mami hari ini juga sudah kembali kan, aku mau masak untuk mami." jelasnya, dia mengenakan hijabnya dan pergi meninggalkan aku.
__ADS_1
Aku melihat Adila sedang memasak sarapan untuk ku, dia menghidangkannya. "Ayo minum jusnya, jangan lupa kak rotinya dimakan juga." Dia menyuguhkan semua itu di depan ku. "Dil, sini." Aku memegang roti isinya, dan menyuruh dia diam serta duduk di sebelah ku. "Aaa buka mulutnya, Saya mau kamu makan dari tangan saya." Adila membuka mulut dengan malu-malu. "Oh ya sayang, saya lupa mami hari ini mendarat pukul sembilan, biar kamu dan supir saja yang jemput ya, hari ini saya ada meating sama klien dan juga Utari, kamu gak marah saya pergi sama Utari?" Adila tersenyum mengusap pundak ku.
"Dila kan sudah jadi milik kakak jadi kalau kakak macam-macam.. anak kakak gak akan boleh lihat papahnya." Ucap Dil sambil mengelus perutnya. Aduh istri ku ini benar-benar ingin memiliki bayi rupanya, tapi kan kami berhubunga juga baru tadi malam, lucunya Adila.
Kini aku harus secepatnya menuju kantor, aku lebih suka motor ninja ku dibanding mobil saat harus terburu-buru seperti ini. Sesampainya di kantor aku segera menuju ruang kerja ku dilantai 15, aku segera menghampiri labtop dan mengecek beberapa bahan untuk meating, Utari datang dan memberi ku flasdisk yang berisi beberapa grafik dan profil perusahaan kami.
"Utari, dimana pak Fano sekarang apakah sudah menemui tamu kita dari Jerman?" aku bertanya pada sekertaris ku, yang juga sama repotnya dengan ku. "Iya pak dia berada diruangannya sedang berbincang dengan tamu yang bapak maksud." Aku merasa lega, karena beliau adalah pemilik perusahaan besar yang akan menjalin hubungan bisnis dengan kami.
__ADS_1
Zulfikar sekarang berada didalam ruangannya menunggu Fano yang memiliki janji dengannya, tak lama menunggu kini Fano ada di hadapannya. "Hallo bos, kenapa tuh muka?" Zulfikar hanya tersenyum tak bersemangat.
"Bukan ucap salam malah hallo hallo dasar abang jamuran." "Rese lo Fik, ngatain gue jamuran emang situ udah gak berjamur?" timpal Fano, "Huh... gimana yak, semalem sumpah yak gue abis kerja keras sama Dila." Fano bingung, "Kerja? ngapain?" Zulfikar membisikan sesuatu ketelinga Fano. "GILA LU!!!" Fano yang kaget berdiri dari hadapan temannya itu. "Kenapa gila? gue suaminya, itu hal biasa kali, sumpah ya Dila itu lembut banget, gua yakin kalau benih-benih gue bakalan nyaman tinggal disana, makasih ya bro udah jagain istri gue selama 20 tahun." Fano masih tidak percaya bahwa adiknya sudah lepas dari trauma.
"Lo kasih apa sama adek gue?" "Kasih apa sih bang? gue cuma kasih, perhatian, pengertian itu aja." Fano duduk lagi dan membahas beberapa hal tentang pekerjaannya. "Kar, minggu depan gue sama nyokap bakalan pergi ke Kanada, untuk proyek cabang kita yang disana, gue harap lu bisa jaga Dila ya, kita akan komunikasi jarak jauh mulai minggu depan Fikar." Fano mulai memikirkan cara menjelaskan pada adiknya nanti berharap Zulfikar bisa membantu.
"Gue akan jagain Dila sama calon keponakan lu yang baru semalem gue buat kok Bang, lu tenang aja." Secepat mungkin Fano memukul kepala Zulfikar dengan map. Mereka terkekeh bersama menertawakan beberapa hal yang mungkin membekas dihati mereka.
__ADS_1
"Bersahabat selama 16 tahun, bisa dihitung tahun kita sama sama ya Kar, 6 tahun sama-sama, 3 tahun pisah karena lu yang pergi, ketemu 1 tahun dan giliran gue yang pergi selama 4 tahun, ketemu 6 bulan dan lu pergi lagi selama dua tahun, sekarang lu balik malah gue yang harus kabur." Zulfikar tertawa dan memeluk sahabat sekaligus Abang iparnya itu. "Tapi sekarang gue udah punya bini, lu masih jomblo." ucap Zulfikar yang segera mendapat pukulan ringan dari Fano.
Zulfikar bersiap untuk pulang karena hari sudah sore, "Bang, main-mainlah kerumah, ada nyokap sama Rasya, kali aja nyokap terhibur dengan adanya lo." ucap Zulfikar yang hendak keluar ruangan. Dan hanya di acungi jempol oleh Fano.