Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Lahirnya Si Kembar


__ADS_3

PYARRR.... BRUGGGGG...


Suara piring yang beradu dengan lantai dapur memecah keheningan malam ini, Adila merasakan kontraksi pada perut besar nya itu ketika hendak merapikan piring yang telah di cucinya.


Zulfikar berlari kedapur hendak melihat apa yang terdi, ia melihat sang istri yang memegangi perutnya dan bersender ke lemari tempat menaruh piring.


"Honey, kamu kenapa? kita kerumah sakit sekarang ya..." Dengan penuh rasa khawatir Zulfikar membopong istrinya itu menuju mobil.


"Pak Aris, tolong kabari mama dan mami, serta Mbak Darmi untuk menjaga Arsal di dalam ya."


Pak Aris yang juga sama paniknya melihat darah pada baju majikannya segera berlari kedalam rumah dan menggendong Arsal, serta menghubungi semua orang seperti apa yang di perintahkan majikannya itu.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit Adila segera di larikan ke dalam ruangan bersalin. Dokter Ema yang tidak ada di Indonesia membuat Adila terpaksa melahirkan dibantu oleh dokter Andra.


"Tuan, secepatnya kita harus melakukan oprasi cesar, karena kondisi nyonya Adila yang tidak memungkinkan dan terus menurun, saya takut ketiganya tidak selamat, pendarahannya cukup parah, saya minta anda untuk mencari pendonor tambahan takut stok darah kita tidak cukup." Terang dokter Andra pada Zulfikar yang panik.


"Baiklah dok, saya minta lakukan yang terbaik agar mereka semua selamat." Tak lama para sanak keluarga berdatangan mama Indira yang mulai cemas dengan keselamatan putrinya tak pernah putus mengucap nama Allah, sementara mami Vena, mondar mandir bersolawat.


Zulfikar terus berdoa sambil menggendong putranya Arsal, yang datang dengan bantuan Mbak Darmi." Hampir empat jam oprasi berlangsung, didalam ruangan terlihat Adila yang sudah tak sadarkan diri.


"Honey, bertahanlah demi kami berempat, kami tidak bisa jika harus tanpa mu, ayolah bidadari ku, kau harus kuat menghadapi semua ini." Zulfikar berucap lirih dalam hatinya, mengingat bisa saja Adila meregang nyawa di meja oprasi karena kondisinya yang terus saja melemah.


"Lalu bagaimana dengan istri saya dokter, apakah dia baik"saja?" ucap Zulfikar yang panik.

__ADS_1


"Pendarahannya sudah berhenti, namun dia masih pingsan dan harus menjalani perawatan intensif, baiklah tuan saya permisi, silahkan Azani anak anda." Dokter berlalu sementara itu Zulfikar menatap putra dan putrinya yang sangat menawan itu, putranya mengenakan kain pembungkus berwarna biru tua, sementara sang putri dengan pembungkus berwarna biru muda.


Tanpa tersadar saat ia mengendong keduanya airmata Zulfikar terus menetes, mengingat kondisi sang istri yang belum juga pulih. "Anak anak ayah, kalian semua kunci dari tangguhnya seorang Adila Dilara, ayah mencintai kalian semua." Setelah itu Zulfikar mengazani kedua anak kembarnya itu, sementara di ruang rawat Adila masih belum sadarkan diri.


Mami Vena, mama Indira, Bang Fano, Rasya, Utari dan juga menantu baru keluarga mereka Mahardi.


"Fikar, masuklah keruangan Adila dia membutuhkan mu sekarang." ucap mama Indira pada menantu kesayangannya itu.


Zulfikar lekat menatap Adila yang tidak ada respon sama sekali matanya masih tertutup, bahkan selang oksigen masih terpasang bersama alat monitoring jantung.


"Ya Allah berilah kesembuhan untuk istri hamba ya Allah, sadarkan dia dari tidur nya, hamba belum siap untuk kehilangannya, Adila my Honey, bidadari ku sadarlah, tatap anak anak kita yang sangat membutuhkan mu." Perlahan mata Adila terbuka, namun ia masih dalam kondisi yang sangat lemah sekarang.

__ADS_1


Zulfikar tersenyum namun tak bisa sedikit pun menahan air matanya, dia menciumi Adila dengan sejuta haru dan rasa syukur.


Adila tersenyum dan menggenggam tangan suaminya itu.


__ADS_2