
Adila kini berada diruang guru, Adila sedang mengobrol dengan beberapa orang guru disana. "Oh iya bu, anak-anak sudah diberikan kostumnya belum untuk acara pentas minggu besok?" tanya seorang guru pada guru lainnya. "Sudah, sudah saya berikan, oh ya, bu Dila mau kemana? gak nyantai dulu nih? baru juga jam tiga, nanti saja pulangnya bantu saya rapihkan agenda dulu ya bu..." Ajak seorang guru yang tiba-tiba terculik perhatiannya pada Dila yang sedang bersiap untuk pergi. " Maaf ya semuanya, saya lagi buru-buru, suami saya baru pulang dari luar kota." tolak Dila tapi tetap ramah.
Sesampainya dirumah Adila mencari ke seleruh penjuru ruangan namun suaminya belum juga dia temui. "Apa mungkin kak Zul belum datang, apa pesawatnya dilay?" tak mau khawatir berlebihan kini Adila merapikan rumah. Sampai tiba waktu nya solat maghrib Adila semakin cemas suaminya itu juga tak kunjung sampai. Masuk ke waktu isya, Adila segera solat kemudian dia menonton salah satu chanel dakwah di youtube. Adila mengerenyit, saat ustad di youtube memberi penjelasan tentang hubungan suami istri, Adila perlahan meneteskan airmata.
Tepat pukul 08.30, "Assalamualaikum, bidadari saya, apa kabarnya empat hari ditinggal?" Adila kaget karena tanpa suara langkah kaki sang suami memeluknya dari belakang padahal dirinya sedang asik dalam dunianya.
"Waalaikum salam, kak kamu ngagetin tau, untung aku gak jantungan! kemana aja ditunggu dari jam empat sore baru muncul jam segini?" tanya Dila yang mulai membuat Zulfikar merasa bersalah. "Dil, ke kamar yuk, saya mau nyegerin badan habis itu saya mau istirahat." Zulfikar terus mengandeng tangan istrinya itu. Seketika Zulfikar masuk ke kamar mandi, Adila duduk ditepi ranjang memikirkan perkataan ustad di youtube tadi.
Zulfikar keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang di lilit ke pinggang.
__ADS_1
Zulfikar duduk di samping Adila yang masih diam. Dengan menyentuh pipi Adila dengan bibirnya, "Ada apa sih sayang, kamu diam aja? kamu marah sama saya?" Adila tersentak mendapat perlakuan seperti itu dia menatap Zulfikar dengan serius, Adila refleks memeluknya yang tidak mengunakan kaos atau semacamnya.
"Maaf ya kak, Adila gak bermaksud untuk menyiksa kakak selama ini, maafkan Dila ya kak." "Tersiksa apa sih sayang? kamu kenapa?" Adila melepas pelukan dan menatap sang suami selekat mungkin.
"Adila tau setiap sepuluh hari ****** itu harus dikeluarkan, Adila juga tau kalau laki-laki itu 60 persen memikirkan tentang **** setiap harinya, lalu bagai mana kakak bertahan dengan itu padahal setiap hari ada Adila yang tidur disamping kakak, dan mungkin menggoda kakak tanpa sengaja." "Adila, saya itu memegang komitmen sejak kita menikah tidak ada sentuhan lain sampai kamu siap kan? saya bisa menahan syahwat saya karena saya tidak mau kamu terancam dengan itu semua."
Zulfikar mulai menyentuh bibir istrinya, dia mengamati istrinya yang mengenakan lipstick pemberiannya beberapa bulan lalu. "Cantik, manis, boleh saya menyentuhnya untuk yang kedua kali? Saya merindukannya." Izin Zulfikar pada sang istri.
Zulfikar membelai rambut hitam panjang milik Adila, merebahkannya hingga posisi mereka sangat intim. "Dila, kamu yakin dengan ini semua? saya tidak memaksa kamu jika kamu belum siap." Dila menarik tengkuk suaminya dan mencium kening, mata dan pipinya terakhir Dila mengecup tepat dibibir suaminya.
__ADS_1
Zulfikar mengeratkan rengkuhannya, bahkan kini Adila terlihat menikmati ciumannya.
"Adila, saya tidak sanggup kalau hari ini kamu menolak saya, Dila saya mencintai kamu, terimakasih telah memberi begitu banyak perhatian dan kehangatan untuk saya."
Adila mengangguk membelai dada telanjang milik suaminya. Zulfikar melucuti semua yang dikenakan Adila, Adila hanya diam menerima apa yang dilakukan suaminya, "Kak, jangan begitu, Adila tidak nyaman." protes Adila saat Zulfikar membuka baju yang Adila pakai tanpa menutupnya dengan selimut.
Zulfikar yang sadar segera menutupnya.
"Dil, kamu sangat indah, saya tidak akan pernah melupakan ini yang membuat saya semakin bergelora."
__ADS_1
Adila dan Zulfikar menuntaskan semua hasrat yang terpendam itu, hak dan kewajiban pun telah terpenuhi di malam itu.
Bahkan setelahnya Zulfikar lah yang membersihkan ranjang dan mencuci spreinya , setelah bersih mereka tertidur sambil memeluk dengan damai.