Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Keluarga Kecil Ku


__ADS_3

Hari ini aku melakukan USG, aku melihat dua bayi kembar ku yang saling berhimpitan di dalam rahim ku, aku senang dan terharu begitu melihat mereka bisa tumbuh sehat di sana.


"Abang, lihat itu dedenya ada dua, abang mau punya dede ya." ucap kak Zul pada Arsal yang tidak bisa diam ingin berada dalam dekapan ku, Arsal pun menangis meminta di gendong oleh ku.


"Iya sayang, sebentar ya, bentar lagi selesai kok, bunda kan sedang di periksa, biar tau dedenya abang sehat atau gak." Aku yang sudah selesai dengan pemeriksaan berusaha memangku Arsal yang terus rewel.


"Udah ah... jagoan ayah kenapa jadi begini, sini kasian bundanya kalau abang begini terus." Bujuk kak Zul pada Arsal, sampai akhirnya Arsal tertidur dengan lelap dalam pelukan kak Zul.


"Nyonya Adila kedua bayi kembar kalian baik-baik saja, namun saya perkirakan mungkin bayinya akan lahir prematur, karena bobot bayi yang cukup besar dan ada dua di dalam, jadi nyonya harus lebih banyak istirahat agar tidak terjadi kontraksi sebelum waktunya." Jelas dokter Andra pada ku dan kak Zulfikar.


Kembalinya kami dari rumah sakit kak Zul mengambilkan ku minuman dari lemari pendingin. "Honey, ini sari kedelai yang mami buatkan kemarin."


"Terimakasih suami ku tercinta, bee Arsal masih tidur?" tanya ku yang tidak mendengar tangisan atau melihat Arsal sedari kami tiba di rumah.


"Belum bangun dia, capek kali bun, coba liat aja, udah ya Saya mau ke ruang keja dulu, kamu mau ke kamar Arsal atau tetap di sini, kalau mau ke atas, ayo biar saya pegangi."

__ADS_1


"Yasudah bunda ke kamar Arsal dulu, takut dia bangun." Aku pun menuju kamar Arsal sambil terus di pegangi, takut jatuh karena berat ku.


Aku membuka pintu kamar putra ku, dia tampak nyenyak dalam tidurnya, botol susu yang masih ada pada mulutnya, ku ambil perlahan, dia merenggangkan badan nya dan menatap ku yang berada di sampingnya.


"Unda..." Dia memanggil ku dan memeluk ku seperti guling.


"Jagoan bunda, tidur lagi ya... masih ngantuk?" Dia hanya tersenyum dan mencium pipi ku, kemudian dia terlelap lagi dengan senyuman yang membuat ku hampir meneteskan air mata, seketika aku menginggat saat dia hadir pertama kalinya dalam hidup ku.


Bayi merah yang ku perjuangkan dengan segenap jiwa dan raga ku sudah tumbuh menjadi balita yang cerdik dan tampan, sudah berubah menjadi penghibur lelah semua penghuni rumah, senyum ramah yang selalu ia tunjukan membuat ku selalu bangga pada balita ku.


Hari sudah sore Arsal terbangun dari tidur siangnya, dia mengucek metanya dan menatap Kak Zul penuh harapan dan senyuman. "Uhhh boss kecil sudah bangun, minta di gendong ya..." ucap kak Zul sambil mengulurkan tangannya, dan segera Arsal berdiri meraih tangannya.


Kak Zul memandikan Arsal sampai baju yang ia kenakan menjadi basah semua.


Arsal terlihat senang dimandikan oleh ayahnya.

__ADS_1


"Ayah... sudah, jangan lama-lama memandikan Arsal, nanti dia demam." Ucap ku dari luar kamar mandi.


"Dah selesai Abang, sekarang kita pakai baju ya..." ucap kak Zulfikar yang menggendong Arsal menghampiri ku yang menunggu di ranjang.


Aku memakaikan pakaian untuk Arsal, dan kak Zul meneruskan mandinya.


Arsal sudah siap dengan pakaian santainya, kaos berwarna merah dengan lambang macan kumbang, serta celana selutut yang melengkapi nya sore ini.


"Wahhh anak Ayah udah ganteng aja nih, bunda ayah kalah pamor ya semenjak abang lahir."


"Uhhh... ayah bisa aja ya bang, abang kan keren juga bakat dari ayah ya bang, tapi kalau buat narsisnya jangan ya bang." Ledek Adila pada suaminya, yang memang sudah di ketahui publik bahwa Zulfikar adalah orang yang paling narsis jika sedang sendiri.


"Bun, ayah mau sekolahkan Arsal di tempat tekwondo yang waktu itu kita diskusikan, sepertinya Arsal memang meniru bakat mu bun, Ayah selalu kalah kalau bercanda sama dia." Jelas kak Zul pada ku.


"Iya masa sama Arsal aja kalah, emang dasar aja ayah yang payah." ketus ku pada suami ku, saat bersama ku Arsal itu anak kecil yang lembut dan paling kalem.

__ADS_1


"Belum pernah aja rasain di tendang dia, ya Arsal kan emang selalu lembut sama perempuan, sama luna aja begitu, Luna rese malah di cium di sayang, kalo ayah yang godain langsung di tonjok." Jelas Zulfikar pada Adila, yang hanya di tertawai oleh istrinya itu.


__ADS_2