
Pagi ini setelah mandi dan berpakaian rapi aku baru sadar kalau sekarang Adila sudah ada didapur. Aku menghampirinya, "Adila, kamu ngapain disini? bukannya perut mu itu masih sakit ya, sebaiknya kamu istirahat saja, mungkin semalam juga terasa sangat sakit karena kamu yang terlalu lelah." Aku duduk di hadapan meja makan, ada roti isi, jus wortel dengan campuran jeruk, ada juga kotak makan, "Adila, ini kamu mau kemana? kok disediain kotak makan?" Adila berbalik badan dan menuju ke arah ku, membuka kotak makan itu yang isinya, nasi, sayuran, ikan dengan bumbu kuning ada juga tempe serta sekotak salad buah dan beberapa camilan. "Ini buat kak Zul bawa ke kantor, hari ini jangan telat makan siang ya, Adila sudah buatkan." Aku tersenyum bahagia sekali pernikahan ku ini, istri ku sangat pengertian, aku bahagia ya Allah.
"Makasih ya kak, semalam sudah baik sekali sama Dila, maaf juga Dila ketiduran." ucap Dila dengan malu, aku mengangkat dagunya, menatap matanya, dia masih malu dengan ku bahkan hanya untuk berterima kasih, "Dila, jangan berterimakasih itu kewajiban ku sebagai suami mu, memberi kenyamanan, lain kali kalau kamu memang sakit atau tidak enak badan cobalah terus terang, jangan menahannya, saya berangkat dulu ya, sudah siang." Adila tersenyum dan menarik tangan ku menciumnya, aku hanya dapat melayangkan Salam dan menciumi dahinya.
Setibanya di kantor para staff menyapa, aku pun membalasnya dengan senyuman, sedikit melonggarkan dasi, aku duduk di kursi ternyaman di kantor ini. Terpampang jelas nama ku di meja ini Zulfikar Malik Arafi Direktur Utama Independen Accaunting Group. Sebuah perusahaan audit keuangan terbesar di Indonesia dan juga beberapa negara maju dan berkembang. Aku adalah direkturnya dan juga pemilik dari perusahaan ini, dan Fano adalah sahabat yang membantu serta ikut bertanggung jawab mengembangkannya.
Hari telah siang, memang sudah masuk jam makan siang, ada pesan watssup masuk
__ADS_1
"Assalamualaikum, Kak Zulfikar, jangan lupa makan siangnya, jangan dirapel seperti semalam ya, jangan menzolimi organisme yang ada didalam sana ya." Aku tersenyum menatap pesan yang Adila kirim, bisa juga istri ku yang pemalu ini bercanda. Aku segera menyambung telpon padanya sambil membuka kotak makan.
"Assalamualaikum." seru ku memulai percakapan.
"Waalaikum salam, loh kok kakak jadi telpon, memang tidak sibuk?" Aku tersenyum.
"Sibuk sih, tapi dapet pesan dari kamu saya segera berhenti sibuk, karena saya juga gak bermaksud menzolimi seseorang disana yang sudah perhatian sama saya."
__ADS_1
"Terus sudah dimakan, makanannya?" tanya Adila. "Kamu gak denger suara kunyahan dari mulut saya?" "Coba ganti ke vidio call aja kak, supaya Dila tau makanannya habis atau tidak." aku segera mengganti ke Vidio call, terpampang jelas wajah bidadari ini, cantik sekali padahal dia pasti sedang lelah saat ini.
Aku memperlihatkan kotak makan yang isinya tinggal setengah. "Enak gak kak?" tanyanya yang hanya ku tanggapi dengan anggukan.
"Dila, jangan dimatiin vidio callnya sampai saya selesai makan. kamu sudah makan siang belum, sudah solat Zuhur?" "Kak? Adila sedang tidak solat, kalau kakak?" tanyanya balik pada ku, "Setelah makan saya baru solat, habis itu lanjut meating sama klien dari luar." "oh begitu, wahhh makanannya sudah habis, nanti malam kakak mau makan apa biar Dila yang buatkan?" Aku bahagia sekali istri ku sangat perhatian seperti ini.
"Jangan repot-repot Dil, perut kamu nanti kalo kecapean sakit lagi, nanti saya kawatir."
__ADS_1
"Ini udah gak sakit ko kak, sebut saja apa yang kak Zul inginkan untuk makan malam." Aku tersenyum padanya sambil berfikir.
"emmh, gini aja saya lagi kepengen makan daging, nanti sepulang saya dari kantor biar saya mampir ke supermarket untuk beli bahan barbeque, bagaimana? kita barbequan di halaman belakang." Adila setuju dan mengakhiri video callnya.