Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Manisnya Keluarga Ku 1


__ADS_3

Sore ini Zulfikar kembali kerumah, ia mendapati maminya, serta istrinya sedang bercengkrama di sofa ruang keluarga. "Assalamualaikum, hallo mami ku tersayang, apa kabar? Bagaimana Sedney?" Zulfikar memeluk serta mencium pipi maminya. "Emh.. anak mami selalu saja begini, gak malu ya di lihat istri." Zulfikar hanya tersenyum, begitu pula Adila yang ada di sebelahnya. "Kak, kamu mau minum apa?" Adila menawari suaminya yang masih terlihat berantakan sehabis bekerja. Zulfikar merengkuh pinggang Adila dan mencium pipinya juga. "Gak usah sayang, saya mau langsung bersih-bersih, kamu sediakan baju saya saja." Mami Vena menaikan alisnya, "Hei... masa istri disuruh siapin pakaian kamu, kamu ambil sendiri dong manja banget." "Gak apa lah mi, Adila itu selalu memenuhi kebutuhan ku, jadi ya... begitulah."


Mereka berlalu dari ruang keluarga, Adila menyiapkan baju suaminya itu. Zulfikar yang keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah serta hanya mengenakan handuk, mengagetkan Adila dari belakang dengan memeluknya. "Kak!!! biasa banget deh, basah tau, baju Dila." Dengan spontan Dila memajukan bibirnya, "Biasa juga dong bibirnya, mau dihukum emang?"


Adila bersikap biasa lagi, dan Zulfikar membalikan badan sang istri agar menatapnya. "I Love you..." perkataan itu membuat Adila tertawa, dan menutup mulutnya dengan tangan. "Gombal, dasar laki-laki semuanya sama."


Zulfikar mencumi Adila dalam pelukannya, dahi, kedua pipi, terus begitu sampai wajah Adila memerah. "Jangan bilang semua laki-laki sama, Saya berbeda, saya rela menunggu kamu demi apapun, saya gak akan pernah rela para perempuan di bawah naungan saya menderita, ingat sayang, saya tidak seperti mereka." Cup. Adila membungkam mulut sang suami dengan kecupan kilatnya.


Zulfikar terdiam mengamati wajah sang istri yang begitu cantik, dan semuanya terpatahkan ketika sanga mami datang tanpa permisi membuka pintu. "Aduh... maaf sayang mami gak tau kalau..." Jebret...

__ADS_1


Adila melepas pelukannya, Zulfikar tertawa.


"Cuma mami kok, gak usah malu gitu kali."


Adila mencubit lengan suaminya yang masih telanjang.


"Yah istri ku, baru mami, lagian juga mami ngerti kok, apa lagi kalau mami tau kita baru melakukan malam pertama kemarin malam, jelas mami akan mengerti kalau aku sedang menggoda kamu lagi, lagi pula kita kan sudah halal, mau apapun yang kita lakukan mami juga pasti dukung." Zulfikar tertawa dan bergurau sendiri sambil mengenakan baju.


Mami Vena dan Adila sedang menyiapkan makan malam untuk hari ini, semua makanan kesukaan sang pria kesayangan siapa lagi kalau bukan Zulfikar Malik Arafi.

__ADS_1


Zulfikar mengendus bau masakan dari ruang kluarga yang posisinya memang dekat dengan dapur dan ruang makan. "Kalau di dunia ini ada yang lebih bahagia dari Fikar sekarang, pastilah hanya gurauan saja, Fikar jauh lebih bahagia dari siapapun hari ini, mami ku tercinta dan istri ku tersayang menyediakan makanan faforit ku." Zulfikar meracau di depan kulkas sambil meminum jus jambu buatan Adila tadi siang, Zulfikar memang selalu meminta di sediakan jus setiap harinya, bahkan buah-buahannya dia yang pesan ke toko untuk diantar ke rumah.


"Fikar, mami dan Adila pastilah lebih bahagia jika kamu bisa menghabiskan semuanya sendiri." Mami Vena tersenyum melihat Fikar yang sedang berfikir untuk menghabiskan semuanya sendiri. "Mami, mulai deh, mana bisa mi, Fikar habiskan semua, Fikar juga harus berbagi dengan mami, Adila, Pak Ari (tukang kebun/penjaga rumah), terus sama mbak Darmi (ART) mereka kan juga pasti ingin makan." Mbak Darmi hanya tersenyum mendengar kicauan tuannya itu. "Aduhh... memang deh Tuan muda ini paling baik sedunia, perhatian sekali dengan saya dan pak Ari." ucap mbak Darmi yang sedang membersihkan peralatan bekas masak.


"Oh ya, mi, bagaimana Kak Jefrin? Bagaimana juga keadaan Luna sekarang?" Mami Vena hanya diam ketika mendengar pertanyaan Fikar. Adila yang tau keadaan hati Maminya segera mengalihkan pembicaraan.


"Ayo kak, makan dulu, ceritanya nanti saja sebentar lagi waktu Isya, nanti juga makanannya keburu dingin." Adila tersenyum ramah pada suaminya, yang sudah di sediakan sepiring nasi berikut lauk pauk yang ada. Mami Vena hanya tersenym dan menelus punggung tangan menantunya, Adila membalasnya dengan senyum yang sangat menenangkan.


Setelah solat Isya mami Vena berbincang di ruang keluarga, gurauan kecil mampu memecah keheningan malam ini, setidaknya beliau bisa melupakan sejenak masalah yang terjadi pada putri tertuanya itu Jefrina Maysara.

__ADS_1


__ADS_2