Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Nafsu atau Hormon


__ADS_3

Usia kandungan ku kini sudah melewati trimester pertama, senangnya, kata dokter aku sudah bisa mendengar detak jantungnya sekarang.


"Bagaimana nyonya, anda senang dengan kemajuan ini, bayi anda sekarang sudah memiliki detak jantung dan sudah memiliki ruh, nyonya harus lebih perhatian kepadanya, harus sering diajak bicara dan banyak makan juga, agar tumbuh kembangnya optimal." Aku hanya meneteskan air mata mendengar suara jantungnya yang kencang.


Entah kenapa siang hari ini aku sangat merindukan Kak Zul, dia pasti sedang sibuk di ruangannya, hari ini jadwal meatingnya bersama klien, sekretaris dan asistannya pun sudah mondar mandir dari pagi tadi.


"Suster, bisa tolong panggilkan suami saya? saya ingin bertemu dengannya." Pinta ku pada suster yang bertugas hari ini.


Tak lama Kak Zul datang dia mencium kening ku. "Hanya di kening saja?" lalu dia mencium bibir ku.


"Huhh... Hanya sebatas itu, kamu tidak merindukan ku lagi ya bee?" Aduh ada apa dengan ku kenapa jadi bicara seperti ini.


"Terus kamu mau apa, di cium sudah, mau di peluk?" Aku hanya diam, sebenarnya ingin sekali di peluk bersandar di dadanya.


Dia memeluk ku, namun aku malah menciumi lehernya, sampai dia mungkin merinding.


"Honey, kamu kenapa sih?" Aku berfikir, salah tidak ya jika aku mengatakannya sekarang, gengsi ah kalau aku duluan yang bilang.

__ADS_1


Dia masih menatap lekat mata ku, aku mengenggam tangannya dan menuntunnya sampai ke bagian dada ku, "Bee, ini rasanya tegang sekali, aku tidak nyaman."


Dia tersenyum sambil mengelusnya dengan lembut, "Seperti ini sayang?"


Desahan lolos begitu saja dari mulut ku. Astagfirullah, apa yang aku lakukan, ini bisa bahaya untuk janin ku, tapi aku sangat menginginkannya.


"Bee, kamu sudah kunci pintu belum?"


"Kenapa? saya tidak akan melewati batas, saya gak tega sama kamu."


"Bee, tapi aku butuh kamu sekarang, bee aku mohon, aku gak tahan." Kak Zul hanya bingung dengan ocehan ku yang diluar kendali.


"Beneran gak bisa di tahan?" Aku hanya mengangguk, dia pergi mengunci pintu ruangan ini.


Dia mencumbu leher ku.


"Saya akan melakukannya untuk kamu, tapi tidak dengan kamu, saya tidak akan melakukannya, tapi hanya akan membuat kamu... kamu tau ini sangat berbahaya untuk anak kita kan?"

__ADS_1


Aku mengangguk dan pasrah di buatnya, aku juga dibuat mabuk, tapi tetap saja ada rasa tidak puas didalam hati ku, rasanya tidak perduli dengan apapun sekarang. Aku beristigfar taku kalau ini hanya halusinasi saja. Tiba tiba aku membuka sabuk miliknya dan membuka celana hitamnya, aku seperti orang yang kalab, aku mengelus lembut miliknya, dia pun berkomentar.


"Dila kamu mau apa?"


"Aku hanya mau tau rasanya... bee boleh ya? rasanya aku ingin sekali mencium aromanya."


"Dila saya tau hormon kamu sedang tinggi tapi jangan seperti ini, saya tidak bisa honey." Aku terus memohon padanya dan aku tau dia juga menahan sesuatu.


Dan akhirnya dia menuruti apa yang ku inginkan kami melakukan hubungan suami istri meski pada awalnya aku yang memaksa, namun dia benar-benar sangat lembut, dia sangat menjaga janin kami.


"Honey, dalam keadaan hamil seperti ini kamu bisa sehebat ini sayang, apa tidak sakit?" "Tidak, malah terasa nikmat dari sebelumnya."


Cukup lama kami berhubungan siang itu.


Setelahnya Kak Zul memandikan ku, dia khawatir dengan diri ku yang sangat agresif tadi.


"Kita tidak pernah sedasyat tadi honey, kamu luar biasa tadi." Aku hanya menunduk malu mendengar pujiannya, ini hal aneh menurut ku, aku tidak pernah seperti ini di suasana seperti apapun.

__ADS_1


Dokter kembali memeriksa dan menerangkan apa yang terjadi kepada ku tadi siang, katanya itu hanya kenaikan hormon sex ku, dan bayi kami sehat-sehat saja selama tidak ada pendarahan atau kontraksi aku masih dalam tahab aman.


__ADS_2