Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Bidadari Ku.


__ADS_3

Pagi ini Aku membangunkan wanita yang sangat dicintai Mama dan Abangnya itu, untuk melaksanakan solat subuh. Selesai mandi dan hanya mengunakan handuk yang ku lilitkan pada pinggang, aku membangunkan seorang wanita, malu memang tapi ku fikir, aku sudah sah dia memang harus melihatnya cepat atau lambat, semalam adalah malam panjang untuk ku dan dirinya di malam pengantin ya... kalian tau lah malam pengantin itu biasanya suami istri yang baru menikah seperti kami, jika tidak ada halangan pasti melakukan hubungan itu.


Tapi tidak dengan ku dan Adila, kami dengan susah payah memulai tidur, Aku tidak nyaman dengan keberadaan nya, bahkan aku memilih tidur disofa.


Pukul 04.15,


Aku mengusap punggung tangan perempuan yang telah ku nikahi ini dengan sangat lembut, dia mulai membuka mata, aku baru sadar jika wajahnya sangat cantik, Allah sangat baik mempertemukan ku dengan bidadari ini.


Kami melaksanakan solat pertama kami sebagai suami istri, dengan berjamaah. Ketika selesai solat aku meminta izin untuk membatalkan wudhunya, aku sangat faham apa yang membuatnya memalingkan muka dan menunduk tak mau mentap mata ku, tapi dia secara tiba-tiba mengangguk. Aku memungut dagunya agar mau mensejajarkan pandangan, aku membaca doa lalu ku cium pucuk kepala nya, dan turun ke dahinya. Dasyatnya ya Allah jantung ku berdebar menahan malu dan entah apa seperti ada yang penuh dalam emosi ku, bukan amarah tapi sesuatu yang indah dan tak ingin ku lepas untuk selamanya. Aku memutuskan untuk tidur lagi karena kantuk yang menyerang, seingat ku kami baru tidur sekitar 2 sampai 3 jam malam tadi.


"Kak, Kak Zul, bangun kak ini sudah jam sembilan, Kak, bangun." Aku memicingkan mata dan mulai bangun dari tidur ku, aku merenggangkan otot, aku senang dia mulai berani menyentuh tangan ku, jemarinya lembut sekali. "Hemmm, maaf ya aku tertidur sampai sesiang ini, ini jam berapa ya?" Aku bertanya padanya dan duduk diam di sofa, kini dia ada dilantai berlutut menghadap ku.


"Sudah jam sembilan, ini kamu sarapan dulu Dila sudah membuat nya tadi, Dila fikir kakak akan bangun dan makan tetapi sudah 2 jam Dila tengok kakak juga belum beranjak dari tadi." Jelas istri ku dengan wajah lembutnya.

__ADS_1


" Kamu gak tidur lagi ya Dil?"


"Tidur kak, tapi bangun lagi sejak jam tujuh tadi, Dila takut kalo nanti kesiangan bangun bagaimana dengan mama, mami dan abang kalau tidak sarapan." Jelasnya yang mulai beranjak dari tempatnya, dia duduk disebelah ku memegang senampan sarapan yang isinya jus jeruk, roti isi dan juga potongan salad buah yang menggoda. Dia menyodorkan jus air putih kehadapan ku, aku meneguknya sedikit.


"Dil, kamu jangan repot-repot saya bisa ambil sendiri." Alih-alih menolak dia sekarang malah menyuapi ku roti isi daging ke mulut ku, aku tidak sanggup menolak, rasanya enak sekali, sejak dulu tidak ada yang berlaku begini terhadap ku. Suapan demi suapan dilayangkannya untuk ku, di jemarinya ada sedikit saus begitu juga dengan ujung bibir ku.


"Emmm.. haha." Dia menunduk malu tersenyum.


" Kenapa? ada yang aneh ya?" aku bertatap heran dengan kelakuannya.


Aku meraih jemarinya,


"Tangan mu kotor, mubazir jika dielap." wajahnya terkejut saat aku menjilati ujung jarinya, rona merah menjadi saksi di pipinya. Ohhh Ya Allah apa yang ku laku kan tadi.

__ADS_1


"Kak... kenapa kakak melakukan itu? itu sangat jorok tau."


"Jorok? jemari mu bersihkan? Terbiasalah seperti itu, kau tau sunah rasull jika makan mengunakan tangan? tak ada makanan yang tersisa bahkan jika hanya sisa saus ditangan." Dia kembali merona, memberikan ku semangkuk salad buah.


"Dila tidak mau menyuapi saya lagi?" Tanya ku yang membuatnya keluar dari ruangan begitu saja dengan wajah merahnya.


Dia itu seperti bidadari memang, mungkinkah sekarang aku sudah jatuh cinta kepada istri ku ini.


Saat makan siang Dila masih menunduk malu dihadapan ku, sambil bertanya lauk apa yang hendak aku makan, dia menyendoki apa yang aku tunjuk, Mama dan mami juga menatapi hal yang sama mereka menggoda ku dengan senyuman dan tatapan.


Aku menunduk tanda malu, sumpah demi apapun aku salah tingkah dibuat mereka berdua.


Adila masih berdiri disebelah ku padahal dia sudah meletakan piring berikut isinya dihadapan ku, aku menyentuh telapak tangannya, menatapnya sebentar aku terkejut telapaknya sangat lembut dan basah karena kringat. "Adila, kamu sakit?" Adila menengok menatap ku, "Tidak." aku menyuruhnya duduk disebelah ku.

__ADS_1


"Dil, makan ini sepertinya kamu kelelahan deh, ayo aku yang suapi." Titahku kepadanya yang saat ini duduk disamping ku.


"Cie... mesranya, Mami juga mau disuapi boleh gak Kar?" goda mami yang terus di timpali oleh mama. Aku hanya bisa tersenyum menanggapinya. Adila tidak kunjung membuka suara sedari tadi dan dia memilih makan dari piringnya sendiri.


__ADS_2