Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Perginya Dirimu


__ADS_3

Pukul 12.30


Siang ini suami ku harus pergi meninggalkan ku bersama kakak, mami dan adiknya.


Perjalanan bisnisnya kali ini akan banyak menguras waktu dan fikirannya, kami tak sempat untuk hanya sekedar bermesraan sejenak, sebelum kepergiannya yang cukup lama itu. Tiga bulan kedepan aku harus terbiasa tanpanya lewati malam hanya sendir, bertahajud memohonkan kesehatan serta keselamatannya disana.


Dua bulan kemudian.


Waktu terasa berjalan lambat, rasa hambar dan hampa dalam hari ku selalu membujuk ku untuk bertanya kapan kembali. Kak Zul selama 2 bulan ini selalu sibuk bahkan untuk hanya sekedar menghubungi ku dia harus menunggu sampai pekerjaannya selesai.

__ADS_1


Malam ini aku sangat merindukannya tapi apa daya 34 panggilan suara sudah ku lontarkan padanya, namun hanya nada sambung tunggu dan pesan suara. Aku mengambil wudhu, aku mengerjakan solat malam bertujuan agar rasa rindu yang mencekam ini hilang, berharap dia merasakan hal yang sama dan menghubungi ku. "Ya Allah jagalah suami ku dari segala perbuatan yang tidak kami harapkan, berilah dia kekuatan jika dia merasakan apa yang juga sedang aku rasa, Ya Allah kau lah sebaik-baiknya zat, aku serahkan semua rasa ini pada mu ya Allah, sampaikan padanya bahwa aku juga sangat menderita dengan rindu yang membelengu ini."


dretttt... dretttt...


Ponsel ku berbunyi, tanda panggilan masuk.


"Assalamualaikum..."


Suara salam terdengar merdu di telinga ku, hati ku sangat gembira, memandang wajah di layar ponsel ku.

__ADS_1


"Waalaikum salam my bee, kamu apa kabar?" mata ku sudah berkaca-kaca saat ini ingin sekali memeluk dan mencurahkan segala rindu. "Saya baik honey, my honey apa kabar, kamu sedang apa? sehatkan disana?" "Alhamdulillah my bee, kami semua dalam lindungan Allah, bee aku ingin memeluk mu sekarang, aku rindu kamu." Dia tersenyum nyaris tertawa melihatkan rentetan gigi putihnya itu, tampannya pujaan hati ku ini.


"Sabar ya my honey, mungkin pekerjaan ku akan selesai dengan cepat, mungkin seminggu lagi, maaf tidak sempat menghubungi mu, supaya pekerjaan saya cepat selesai dan bisa pulang lebih cepat dari waktu yang diperkirakan, kamu sabar ya honey." Aku tak kuasa menahan air mata karena alasan suami ku tidak bisa menghubungi ku. "Loh... kenapa? jangan sedih kita pasti akan bertemu nanti, kamu harus tetap kuat supaya aku semangat untuk pulang, Adila Dilara my Honey, istri ku , bidadari surga ku, jangan bersedih, saya juga rindu dengan kamu, saya janji ketika saya kembali, saya akan ambil libur selama 1 minggu untuk terus bersama kamu." "Bee, aku tidak perlu waktu 1 minggu mu, jika aku ingin selamanya dengan mu, bee jaga diri dan hati mu untuk Allah dan aku ya, aku selalu menanti mu dengan sejuta doa." "Manisnya, my honey saat ini kata cinta tidak bisa menjadi pelampias rindu kita, hanya doa kan? aku selalu berdoa supaya aku bisa terus menjaga Cinta dan membuktikannya pada mu." Aku mengusap air mata ku yang semakin deras mendengar kata manisnya itu.


"Jangan tutup dulu." larang ku padanya yang hampir mengakhiri panggilan.


"kenapa?" "Temani aku sampai tertidur, sudah tiga malam aku tidak bisa tidur, kumohon temani sampai aku tertidur." "Baiklah, saya akan bersholawat untuk kamu, temani kamu sampai tertidur pulas." Aku merebahkan tubuh ku di ranjang, dia masih terus bersholawat sampai aku tidak sadar bahwa senyuman dan suaranya terbawa sampai ke mimpi ku.


Kepergiannya membuat ku kehilangan banyak konsentrasi dan semangat. Ternyata sosoknya membawa pengaruh besar untuk ku.

__ADS_1


__ADS_2