Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Rebutan Neni


__ADS_3

Siang ini Indira dan Vena datang bersamaan ke kediaman anak mereka, Vena memang belum pernah menemui cucunya lagi semenjak tiga bulan lalu, karena sekarang ia tinggal di luar kota bersama Jefrina dan Deluna.


"Assalamualaikum cucu oma yang tampan dan lucu, mana bunda sayang kok mainnya sama suster?" tanya Vena pada cucunya yang sedang asik bermain.


"Itu nyonya besar, nyonya Adila ada dikamar, sepertinya baru selesai mandi." jelas suster yang selama ini membantu menjaga Arsal.


"Oma kedalam dulu ya tampan." Ucap Vena sambil mencium gemas cucu laki lakinya itu.


Vena membuka kamar Adila dan Zulfikar tanpa mengetuk lagi, Zulfikar terperanjat kaget bagun dari rebahannya.


"Mami? kok dateng gak bilang" sih, ketuk pintu dulu kek." Adila yang keluar dari kamar mandi dengan perut yang sudah membuncit itu membuat Vena terheran.


"Dil, kamu hamil lagi? perut mu besar sekali." Adila hanya tertawa mendengar pernyataan mami nya yang belum tau bahwa menantunya telah berbadan dua.


"Iya, aku lupa kasih tau mami, aku taunya aja aku hamil lagi udah 11minggu, dan itu juga pas mami pergi."


" terus itu udah berapa minggu sayang? kok gede banget sih?"

__ADS_1


"Ini udah jalan 7 bulan mi, kata dokter sih kemarin aku priksa babynya ada 2." jelas Adila lagi.


"Kembar? Ya Ampun, aduh sayang berarti nanti Arsal udah gak jadi rebutan dong?"


"Iya mi sengaja biar Arsal gak di rebut" kasian kalau mami sama mama rebutan Arsal pasti demam." Sanggah Zulfikar.


Adila menghela nafas karena rasa lelah yang mengurungnya sedari tadi karena Arsal tidak mau di tinggal walau hanya untuk mengambil minum ke dapur, Arsal terus memeluk bundanya, tidak mau bersama omanya, yang sedari tadi bicara menggodanya.


"Assalamualaikum, cucu neni yang tampan, bagaimana kabar mu hari ini sayang." Sapa Indira pada cucu laki-lakinya.


"Aduh... neni datang Arsal, Indira kamu apa kabar, lama ya tidak bertemu." sahut Vena yang menyuapi Arsal dengan cream soup.


"Babynya perempuan ya In? aku lihat sih di IG nya Fano, mirip sekali Fano ya In."


"Iya, mirip banget, kalo nangis juga sama sama Fano waktu masih bayi."


Mereka pun berbincang di ruang keluarga sampai hari sudah sore.

__ADS_1


"Ma, Asar dulu jangan ngobrol terus mami juga mama pakai di ledenin." Tegur Adila yang berjalan sambil memegangi pinggangnya yang sering sekali pegal.


"Dil, kamu sudah minum vitamin belum, dari tadi mama gak liat kamu minum."


"Ma, bisa tolongin Adila bentar gak?"


"Kenapa, pinggang ku sakit banget tolong kompres pakai ini ma." Adila melangkah ke kamar sambil di ekori mamanya.


"Kamu begini terus Dil?"


"Iya mama, gak sakit sih, gak kaya waktu hamil Arsal yang makan atau aktivitas dikit aja lemes dan sakitnya Allahuakbar, tapi ya gini, kak Zul tuh tiap pulang kerja capek, malah ngelusin pinggang aku ma."


"Ya memang mama gak salah pilihkan suami buat kamu kan? mama juga jadi dapet cucu ganteng dan pintar."


"Ma, lain kali jangan seperti tadi ya, rebutan Arsal sama mami, mama ngalah aja kalau sama mami, soalnya Arsal gak mau sama mami dari tadi." bujuk Adila pada mamanya yang memang merebut paksa Arsal dari mami Vena.


"Iya deh, Dil tapi Arsal kan memang cucu mama, mama kangen lagi juga Arsalnya mau sama mama."

__ADS_1


"Iya ma, Dila ngerti tapi gak enak, mami kan baru sampe dari Surabaya tadi pagi, dan Arsal baru mood main sama mami tadi pas mama dateng, terus mama langsung gendong Arsal kaya boneka milik mama."


"Iya sayang, mama ngerti tapi kami memang selalu begitu dari dulu." Jelas mama sembari mengompres pinggang Adila dari belakang.


__ADS_2