
Adila senang sekali pagi ini, dia diantar sang suami pergi ketempat dia mengajar, TK Al Rabbani. "Dil, saya antar sampai disi saja? tidak boleh masuk ke dalam." tanya Zulfikar yang menatap sang istri yang masih ada disampingnya. "Iya, disini saja, untuk apa sampai kedalam, kak Zul mau belajar lagi di TK?" Zulfikar mulai mendekat, cup... "Boleh kalau gurunya kamu, aku rajin sekolah deh." Rona merah dan degub jantung Adila mengiringi mereka berdua didalam mobil. "KAK Zul... ih genit banget sih..." Zulfikar hanya tersenyum dan membiarkan Adila keluar dari dalam mobil. Kaca mobil pun terbuka, "Sampai nanti siang ya... Saya jemput jam satu Dil, jangan pulang dulu." Dila hanya menegakan ibu jarinya tanda setuju, lalu anak-anak datang pada Dila memecah fokusnya pada sang suami.
Adila menggiring mereka masuk kelas, kali ini Dila mengajarkan tentang adab makan dan minum sesuai sunnah rasull. "Teman teman sudah bawa makanan masing-masing kan sesuai dengan apa yang sudah ibu bilang?" Adila bertanya sambil duduk bersila di tengah lingkaran para murid. "Ayo, sekarang kita cuci tangan di wastafel depan ya..." bergantian Dila mengajari para muridnya, "Setelah ini kita buat lingkaran lagi." mereka semua duduk sama seperti tadi. "Siapa mau pimpin doa makan yang kemarin ibu ajarkan?" "Amir ibu, Amir mau pimpin baca doa." "Iya boleh anak baik, silahkan ayo kita mulai." lalu anak yang bernama Amir memimpin doa untuk makan, kegiatan berjalan dengan baik.
Sampai tiba pada pukul 12.30, ada pesan masuk di WA Adila, "Adila, saya didepan gerbang sekolah." Adila melihat pesan itu segera keluar, benar saja pangerannya itu sedang berdiri didepan mobil Fortuner putihnya itu, Adila mengkode untuk Zulfikar menunggu sebentar.
Setelah mengambil tas Dila pamit untuk pulang.
__ADS_1
"Kak, katanya jemput jam satu?"Adila memulai pembicaraan diantara mereka. "Saya gak mau kamu menunggu, karena menunggu itu tidak enak Dil." Sebenarnya ucapannya ini untuk menyindir sang istri yang belum bisa memberi apa yang seharusnya diberikan kepadanya.
Sesampainya mereka disebuah pusat perbelanjaan elit yang menyuguhkan Resto dan merek ternama. "Dil, kamu mau makan dulu atau cari sesuatu dulu gitu?" tanya Zulfikar yang mulai bingung dengan kepadatan pengunjung. "Kita langsung makan aja kak, Dila kan gak mau cari apa-apa." Mereka akhirnya memutuskan untuk makan disalah satu restoran. Ketika sudah mendapat kursi dan memesan Adila pamit untuk ketoilet, tak lama dia pun datang, ketika Dila berada tepat di pintu masuk resto, Dila terpaku.
Dila mulai meneteskan air mata dan hanya diam disana menatap seorang pria yang berdiri tepat di depannya, Adila sesegera mungkin berlalu. Kini dia mulai tersulut emosi, mengambil tas. "Dil, tunggu Dil kamu mau kemana." tanya Zulfikar yang bingung melihat istrinya panik dan menangis seperti itu, pasalnya baru kali ini Zulfikar melihat bidadarinya itu menangis.
Tanpa terduga, dia melihat sang istri bersama seorang pria yang berdiri mematung mendengarkan semua cacian Adila.
__ADS_1
"Kamu fikir kamu siapa bisa datang lagi dikehidupan ku, susah payah aku melupakan semua, dengan sakit aku menerima, sesuatu yang memang pada dasarnya tidak bisa untuk aku teruskan!" Dila terus meluapkan emosinya pada pria berdasi itu. "satu tahun, Dua, sampai 3 tahun kamu pergi, aku masih bersabar dengan semua itu, sampai aku tau bahwa semua ini hanya semu buat aku, kata cinta, sayang dan semua perhatian yang kamu buat untuk aku, semua itu hanya omong kosong, aku sadar, mama itu benar kamu hanya hanya seorang yang terbuai nafsu, aku benci dengan mu." Perkataan Adila tidak pernah di dengar Zulfikar selama hampir dua bulan dia bersamanya, saat itu benar-benar Adila menumpahkan kekesalannya.
"Adila, kamu benar, itu bukan cinta, hanya sekedar rasa yang singgah lalu pergi seketika, aku pergi karena aku tau aku tak pantas untuk wanita seperti mu, maaf atas kejadian yang pernah kamu lihat waktu itu." hanya itu penjelasan yang keluar dari mulut pria itu, dia pergi meninggalkan Adila yang masih terisak.
Sesampainya di rumah Dila terlihat murung, itu yang membuat Zulfikar tidak kembali ke kantor.
Zulfikar menghampiri Adila yang hanya diam dan menatap jauh kemasa lalu. Zulfikar menarik kursi duduk didepan Adila yang sedang menangis.
__ADS_1
"Dila, bidadari ku, ada apa dengan mu?" pertanyaan dengan nada lembut itu justru membuat Adila semakin terisak. Sambil mengenggam jemari Adila, Zulfikar bertanya lagi. "Kamu gak mau cerita sama saya? Dila jangan seperti ini kamu menyakiti saya." Adila yang masih terisak kini menatap sang suami. "Kak, Adila butuh kakak, jangan tinggalin Adila apapun yang terjadi." Dengan terbata Adila mulai mau berbicara, Zulfikar merengkuhnya agar Adila bersandar di dadanya. "Saya janji Dila, tidak akan meninggalkan kamu dalam keadaan apapun." Adila terus menangis. "Kak Zul janji ya sama Dila, tidak akan pernah membuat Dila kecewa, Adila sudah cukup sakit selama ini kak, Adila selalu mencoba mencintai kakak, tapi maaf Adila belum bisa sepenuhnya memberikan hati Dila sama kakak." Hanya belaian sayang yang bisa Zulfikar berikan "Diakah pemilik hati mu?" pertanyaan itu mampir begitu saja di mulut Zulfikar, sekarang Adila diam tidak mau berbohong tapi juga tidak mau mengakui. "Bukan, bukan dia, tapi kakak." Adila menghapus air mata dan menatap lekat suaminya, "Dia hanya singgah kak, pemilik hati dan hidup Dila itu kakak, kakak yang menikahi Adila, kakak pulalah pemilik hati Dila, bukan dia." Zulfikar tersenyum menatap sang istri, bahkan saat ini Zulfikar tau bahwa Dila hanya tak mau membuatnya kecewa.