
Setelah selesai merapikan beberapa file perlengkapan akreditasi, aku pulang dan menyempatkan diri mampir ke mini market untuk membeli persediaan pembalut. Ketika hendak membayar ke kasir aku melihat benda yang nyaris semua wanita pasti membelinya. Aku hanya sekilas melamunkan bagaimana jika aku membeli benda itu dan mengetesnya, ketika dua garis itu muncul kami sepasang suami istri pasti sangat bahagia. Aku pun membayar belanjaan ku, namun aku melihat seorang ibu yang mungkin usianya jauh diatas ku, dia sedang membentak seorang anak sekitar usia 6 tahunan, anak itu terus menangis tapi sang ibu malah semakin membentaknya.
Entah apa yang sedang ada diotak ku, aku berjalan kemudian berhenti tepat didepan anak itu, aku berjongkok mensejajarkan posisi kami.
Aku mengusap pipinya, "Sayang, anak pintar jangan menangis terus ya, kamu kenapa?" aku bertanya seolah tak perduli dengan wanita yang melotot disamping ku.
"Hei, kamu siapa beraninya mendekati anak saya." Aku berdiri menatap wanita itu, masih dengan intonasi sabar aku menjelaskan, bahwa apa yang dia lakukan salah.
"Maaf ibu orang tua kandungnya?"
"Eh, maksud embak ini apa ya? saya ibu kandungnya, saya yang mengandung dia dan melahirkan dia." bentak ibu itu kepada ku.
"Ibu ingat tidak, saat diamana ibu susah payah membawanya selama 9 bulan kemana pun ibu pergi, bahkan saat melahirkan pun ibu mempertaruhkan nyawa ibu untuk dia, menimang merawat penuh rasa cinta, tapi kenapa saat ini ibu malah membentak dan mencubit anak ibu sendiri yang bahkan ibu pernah bertaruh hidup atau mati hanya untuk dia." Ibu itu terdiam, perlahan dia mulai tenang, aku kembali berjongkok menghadap anak perempuan tadi,
"Kamu mau apa sayang? kamu berbuat salah pada ibu mu? atau kamu membuat ibu mu marah?" anak itu menatap ku dengan lekat, "Tidak tante, Fiska hanya mau beli mainan itu, tapi kata mamah harganya mahal, dan Fiska baru beli 5 kotak susu." aku tersenyum dan mengambil boneka kecil yang ku akui itu memang sangat lucu. Aku kembali pada belanjaan ku yang nyaris selesai dikasir.
"Mas, tolong hitung dengan yang ini juga ya, berapa semuanya?" aku menuntaskan pembayaran belanjaan ku dengan pramuniaga itu. "Semuanya jadi Rp134700, mau dibayar tunai atau debit?" jelas pramuniaga tadi. "Cas saja mas, ini." Sambil menyerahkan uang 50 ribuan 3 lembar, pramuniaga tadi mengembalikan kelebihan uang tersebut, aku datang pada anak bernama Fiska tadi, sambil menggandeng boneka dan belanjaan ku.
__ADS_1
"Nah, anak baik, lain kali jangan menangis seperti itu, ini tante kasih kamu bonekanya, kita teman ya, Fiska jangan sedih lagi, kalau mama bilang sudah cukup Fiska harus mengerti ya, tante permisi dulu." Ibu itu melihat ku dia tersenyum.
"Terimakasih ya mbak, telah menyadarkan saya, mbak dewasa sekali siapa nama mbak, dan berapa umurnya?" Aku tersenyum, menyodorkan tangan dan bersalaman. "Saya Adila ibu, saya masih 20 tahun, bukan dewasa tapi lebih mengerti anak-anak, teman saya semuanya nyaris seperti Fiska, saya mengajar di TK Al Rabbani." ibu itu lagi-lagi mengucapkan terima kasih begitu juga dengan Fiska kecil.
Sesampainya dirumah, ternyata mama dan Abang sudah pulang. "Assalamualaikum, aaa... mama Dila ridu mama." aku masuk dan langsung memeluk mama, bahkan melupakan abang yang sedang berada disofa. "Mama juga rindu Dila, oh ya Dil, kok tumben sih baru pulang?"
"iya ma, tadi siapin berkas akreditasi dulu." jawab ku yang menarik kursi lalu duduk dan minum air putih. "Kamu bawa apa Dil?" "Ini habis ke mini market yang didepan, belanja pembalut." tak lama kami berbincang di meja makan, kini menantu kesayangan mama pulang.
"Assalamualaikum." Suara kak Zul menyebar ke seluruh penjuru, suara khas motornya membuat abang menarik nafas dari tadi.
"waalaikum salam, ehh ipar gue dateng, apa kabar lu bro, makin keren aja kayanya, rambut segala di acak-acak gitu, percuma lu belum bisa naklukin hati ade gue." Sindiran abang yang mulai membuat kak Zul malas meladeninya, mereka berdua pun masuk kedalam ruang makan, kak Zul datang dan segera aku salami, dia juga mencium tangan mama, aku menyediakan minuman untuk kami semua.
"Jangan ditanya lagi ma, semenjak manusia jamuran ini pergi, kantor berantakan, semua presentasi Fikar, ditolak."
Jawab dia dengan nada hiperbolanya.
"Mah, jangan percaya, menantu mama ini orang yang paling jago naklukin klien lewat mulut manisnya, bohong aja presentasi berantakan, orang Abang aja dia yang ngajarin." Mama terkekeh melihat dua pria dewasa itu bertengkar tapi saling memuji.
__ADS_1
"Fikar, punya mama sudah sempat diproses belum?" Aku sempat heran saat mama membahas ini, tapi malah di timpali kak Zul dengan wajah masam.
"Jangan ditanya lagi ma, mama tau sendiri apa yang anak kesayangan mama beli kan?" mama terkekeh dan abang mulai ketawa dengan lepas.
"Jadi... yahhh ini sih ponakan gue pending, aduhhh udahlah download aja di Play Store biar cepet, percuma nungguin kadal yang satu ini mah ma, lama." Aku yang gak ngerti dengan pembicaraan mereka hanya diam.
"Dek, nanti kalau kamu hamil sama dia abang jamin anak kamu bakalan narsis kaya orang yang satu ini, jangan ditanya lagi ya dek, narsisnya orang ini mulai bereaksi kalau lagi sendirian." Abang mencoba menjelaskan sifat Kak Zul yang tidak aku tau.
"Fan, lu kok buka aib adek ipar lu sih depan istrinya lagi, parah nih anak." abang segera pergi takut dihajar kak Zul kare kepalan tangannya mulai menguat.
Dikamar saat kami bersiap untuk kembali kerumah Kak Zul. Aku bertanya lagi tentang apa yang sebenarnya mereka bahas tadi karena aku mulai penasaran dengan apa yang menjadi milik mama tapi belum di proses kak Zul.
"Kak, sebenarnya apa sih yang menjadi milik mama terus belum diproses, hubungannya sama apa yang Dila beli itu apa?"
"Hemmm... Jangan di bahas atau ditanya lagi ya hal itu, takut kamu kepikiran nanti malah jadi beban lagi." aku penasaran dengan sikapnya yang semakin aneh ketika ku tanyai.
Aku ada disebelahnya kini, menatap dan meliriknya. "Ayo bicara, apa kak, katanya dalam hubungan ini gak ada rahasia?" Dia hanya tertawa menatap ku,
__ADS_1
"Yakin? gak kepikiran kalo aku kasih tau, yakin gak?" aku membalasnya dengan mengangguk. "Yakin!"
"Mama sama abang itu tadi sedang menanyakan apakah kamu sudah hamil atau belum, sudah ya jangan tanya lagi." Dia segera menutup wajahnya dengan bantal, tertanda malu. Aku kecewa dengan penjelasannya, Jangan ditanya hamil atau belum, memecahkan selaput dara saja belum!!!!!