Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Ancaman


__ADS_3

Tak mengerti apa yang terjadi pada adik ipar ku Rasya, sejak pulang dari kampus Rasya terlihat murung, matanya sembab. "Dila, Rasya sudah pulang belum ya? mami gak lihat dia sedari tadi, ini sudah jam makan malam tapi kenapa dia belum kelihatan ya, mami jadi cemas." tanya mami yang kwatir dengan keberadaan putrinya.


Sambil menghidangkan makan malam aku menjelaskan pada mami. "Rasya sudah pulang sedari tadi mi, mungkin kurang enak badan, biar Dila yang antar makanan ke kamarnya ya, kak Jefrina dan mami makan duluan saja. Aku membawa nampan berisi makanan dan minum untuk Rasya.


tok... tok... tok...


"Sya? Rasya ini kak Dila, kamu di dalam Sya?" Pintu kamar itu perlahan terbuka, aku masuk dan mendapati Rasya yang tengah menangis tersedu sedu, dengan spontan Rasya memeluk ku menumpahkan rasa sedihnya. Aku mengelus rambut panjangnya.


"Ada apa Rasya, kamu kenapa? ceritakan sama kakaka?" Aku menatap sambil memengangi pundaknya. Terbata dia menjawab ku di iringi isakannya.

__ADS_1


"A.. aku gak mau pergi ke kampus lagi kak, a aku malu, malu kak." Aku menatap Rasya dengan tatapan iba, sedih dan menduga. Semoga apa yang ada dalam fikiran ku tidak benar.


"Rasya, kamu minum dulu ya, tenangin diri kamu dulu baru cerita yang jelas sama kakak." Sekian menit aku menunggunya untuk bicara, setelah lumayan tenang Rasa baru membuka mulut untuk menjelaskannya. Dia membuka ponsel dan menunjukan sesuatu disana. Aku kaget dimana sebuah video menunjukan aksi seorang wanita yang sedang menari tanpa busana, yang membuat ku kaget dan hampir saja membanting ponsel itu adalah Rasya.


"Jelaskan dengan benar Rasya! ini tidak mungkin kamu kan Sya! Aku yang tidak percaya hanya dapat mengelus dada dan beristigfar, meski nada suara ku tinggi.


Rasaya menggeleng, menangis dengan histeris, Aku tak bisa percaya jika Rasya dapat melakukan hal tersebut.


Oh jadi orang ini yang mengancam adik ku. Aku menghubungi teman lama ku yang bertugas di kepolisian, aku hendak meminta dia untuk melacak dan mengurus kasus ini.

__ADS_1


"Hallo, Ini Irma ya?"


"Oh ya... hallo Dil, kamu apa kabar? tumben ada apa?" "Gini Ir, adik ipar ku sedang kena kasus, aku boleh minta tolong kamu untuk usut kasus ini sampai tuntas gak?"


"Dengan senang hati Adila, kamu cerita apa kasusnya." Aku menjelaskan dengan detail, mengirim nomer ponsel sang pengancam itu, kami pun mengakhiri panggilan.


"Rasya, semua masalah akan selesai jika kita tau caranya, tenangkan dirimu sayang, kak Dila kan berusaha membawa kasus ini pada jalur yang benar, karena kakak yakin ini bukan kamu, ini hanya editan saja, jika dia berani menyebarkannya kakak tidak akan segan untuk benar-benar memasukannya kedalam bui."


Sekarang aku benar-benar akan menyembunyikan kasus ini dari suami dan orang rumah, ini lebih baik, sampai kasusnya mereda.

__ADS_1


"Kak, bagaimana jika tersebar, beberapa orang teman di kampus sudah mengetahuinya. Rasya tidak mau ke kampus, kak Rasya mohon berbohong lah pada mami, sekali ini saja." Rasya memohon kepada ku, tapi tidak aku tidak akan membiarkan Rasya untuk tidak pergi ke kampus, dia akan sidang bulan depan.


Aku menggeleng, "Kakak tidak setuju jika kamu harus bolos dari kampus, Rasya kamu tidak salah, tidak perlu takut atau malu, kakak tau kamu saat ini sedang tertekan, tetapi orang itu akan lebih mengancam kamu lagi Sya kalau kamu terus begini." "Rasya lihat kakak, ada Allah bersama kita, kesalahan yang kamu tidak lakukan inshaallah tidak akan pernah menjatuhkan kamu, kamu harus kuat Sya." Rasya memeluk ku, aku pun memeluknya dengan sangat erat. "Terimakasih atas segala bantuan yang kakak berikan, Rasya gak tau kalau gak ada kakak." "tidak apa sayang, sekarang kita makan ya, karena kamu butuh energi, jangan menzolimi diri kamu sendiri Sya." Kini Rasya mulai tenang dan memakan makanannya dengan baik, aku meninggalkannya untuk istirahat.


__ADS_2