Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Rebutan


__ADS_3

"Dila, pokoknya nanti setelah keluar dari rumah sakit kamu harus tinggal beberapa minggu di rumah mama, supaya mama bisa pantau kondisi kamu sayang." Ucap mama pada putri kesanyanganya.


"Emm... gimana ya ma, Semua terserah kak Zul saja." jawab Adila.


"Sayang, kalau kamu mau tinggal sama mama dulu untuk sementara waktu biar saya urus perawat untuk kamu, saya juga mungkin akan sangat sibuk dua minggu ke depan bersama Fano." Jawab Zulfikar yang sedari tadi memandangi baby Arsal yang terridur di boks.


"Begitukah? kamu sibuk ya? tapi kalau di rumah mama apa kamu akan menengok ku setiap hari?" Ucap Adila manja.


"Mungkin jika saya pulang dari kantor saja, sebenarnya saya bisa tinggal bersama mu di rumah mama."


"Tapi jarak kantor ke rumah mama kan sangat jauh, kalau lelah? bagaimana jika mama saja yang tinggal di rumah kita bee?"


"Iya, Indira kamu saja yang tinggal di rumah kami, supaya aku juga bisa melihat cucu ku yang tampan ini, lagi pula kan kamu juga sendiri di rumah." tawar mami Vena.


Setelah lama menimbang, akhirnya mama Indira setuju untuk tinggal di rumah Zulfikar.


Selang tiga hari dari perawatan pasca melahirkan Adila pun dibolehkan pulang, dengan catatan tidak ada pendarahan susulan dan rasa yeri yang berlebihan.


Sesampainya Adila di rumah, mami dan mama berebut untuk menggendong cucu kesayangannya itu.

__ADS_1


"Ve, aku juga mau gendong cucu ku ini." sambil mengelus pipi tembam si jagoan. Baby Arsal pun menjerit menangis, akibat tidur gantengnya terganggu.


"Mi, sini mungkin Arsal haus, biar Adila susui dulu." ucap Adila yang kasian pada putranya yang terus jadi bahan rebutan kedua nenek nya itu.


Dengan berat hati akhirnya baby Arsal terbebaskan dari dua wanita itu.


Adila meringis menahan sakit akibat menyusui baby Arsal.


"Baby Arsal, anak bunda yang soleh, pelan pelan minumnya, au.. seeettt emmhhh." Adila menahan perih pada kedua payudaranya yang terus dihisap baby Arsal.


"Honey? kamu kenapa kok nangis?" tanya Zulfikar yang menyadari istrinya meneteskan air mata.


Zulfikar mengusap air mata Adila.


"Sakit ya? Kalau kamu sakit cakar saya." Ucap Zulfikar sambil mengulurkan tangannya.


Adila menggenggam tangan Zulfikar, mulai mencengkram tangannya saat hisapan Arsal pada kedua putingnya semakin kencang.


"Sabar ya honey, baby butuh itu." Zulfikar mengelus kepala sang istri yang hanya mengunakan dalaman kerudung.

__ADS_1


"Baby Arsal sayang, tenang ya sesakit apapun bunda akan selalu melindungi dan memberikan hak mu nak, minum ya sampai kamu kenyang." Adila menatap putranya yang mulai lelap.


"Bayi itu kalau tidur selalu tenang ya Honey, saya jadi rindu tidur dalam posisi baby." Ucap Zulfikar saat melihat baby Arsal yang tidur dengan dekapan lembut Adila.


"Kamu rindu seperti ini ya bee, nanti malam kalau kamu mau tidur aku bisa peluk kamu kok." jawab Adila yang menatap suaminya, lalu membelai pipinya.


"Kamu sedang seperti ini, masih perduli dengan ocehan jahil saya?" tanya Zulfikar yang memang hanya mengejek jahil sang istri, menguji ke pekaan katanya.


"Kalau hanya peluk dan mengelus seperti ini saja aku masih mampu, kalau masalah mu yang lain tunggu sampai beberapa bulan ke depan ya... suami ku yang hebat."


Zulfikar dan Adila tersenyum bahagia.


"Hebat ya? yang bertaruh hidup dan mati itu kamu, sementara aku hanya penakut."


"itulah indahnya menjadi seorang perempuan, saat kecil di jaga oleh orang tuanya dari rasa sakit, baik masalah hati atau fisik namun ketika tumbuh dewasa ia selalu merasakan sakit apalagi saat menjadi seorang ibu, ya... mati pun bersedia."


"Terimakasih ya honey, bidadari ku sudah menyempurnakan hidup ku." Adila mencium kening suaminya.


"Aku pun terlengkapi karena mu."

__ADS_1


__ADS_2