Tempat Terakhir

Tempat Terakhir
Bahagia yang Tak Sempat


__ADS_3

Sepanjang waktu kami bersama, menghabiskan waktu untuk lebih jauh lagi mengenal. Aku faham sekarang harus memperlakukan Adila seperti apa agar dia bisa benar-benar sepenuhnya mencintai ku.


Aku tau saat ini Dila memang sudah berbicara masalah cinta dengan ku, aku pun tau hatinya hanya milik ku, namun aku hanya ingin Adila menetap dan tidak akan pernah berpaling dari ku untuk selamanya.


Di setiap pagi dan petang kami habiskan untuk bercengkrama, menikmati suasana pegunungan yang sejuk dan tentram, burung yang berkicau, tatapan Adila yang mengutarakan kebahagiaan dan malam nya ketika gulita kami sempatkan untuk bermunajat kepada pemilik semesta Allah SWT.


Setelah ku rasa cukup sudah waktu yang ku habiskan bersama Istri tercinta kami pun kembali ke aktifitas harian kami. Kali ini Adila membangunkan ku untuk mandi dan sarapan. "Honey, kamu habis solat tadi segera buat sarapan ya?" suara serak ku memalingkan Adila dari lemari pakaian.

__ADS_1


"Iya, maaf ya bee aku bangunin kamu, soalnya kamu harus sarapan dulu." Alasan Adila yang tau bahwa aku baru tidur setelah solat subuh dan sekarang tepat pukul tujuh pagi.


"Iya, gak papa honey, kamu bisa bantu saya bawa makanan nya kesini saja gak? saya lemas sekali." Adila tersenyum menandakan bisa. Aku enggan beranjak dari ranjang, entah mengapa badan ku terasa lemas dan tak bertenaga.


Adila datang dengan membawa senampan makanan. "Bee, ini makanan mu, mau aku suapi atau aku taruh disini saja." aku memicingkan mata "Taruh saja honey, saya sedang tidak ingin apa-apa."


Dengan segan aku membuka mulut, menelan bubur gandum yang Adila buatkan untuk ku, baru suapan ke lima rasanya perut ku menolak, aku segera masuk ke kamar mandi, dan mengeluarkan semua isi perut ku, Dila yang khawatir, juga ikut menepuk-nepuk punggung ku dan memijat tengkuk leher ku.

__ADS_1


"Bee, kamu masuk angin nih, kamu sih telaten banget kalau ngerjain tugas kantor, lalu fungsinya sekertaris apa? kalau semuanya kamu yang kerjakan?"


"Honey, sudah ya ngomelnya, saya lagi mual dan sangat pusing, lagi malas berdebat." Aku berubah menjadi seorang yang sangat sensitif pagi ini. Adila masih tetap setia memijat punggung dan leher ku.


Aku memeluk Adila mengucap maaf, namun hanya di balas usapan lembut di pipi ku. Ada apa dengan ku hari ini, apa efek masuk angin separah ini. Nafsu makan hilang, sensitifan dan kehilangan semangat.


Aku menghubungi Gunawan untuk mengatur ulang jadwal ku hari ini, karena jika aku bersih keras untuk tetap lanjut bekerja, pastilah hanya membuang waktu dan membuat Adila marah lagi. Setelah sarapan tadi hingga petang ini aku masih terus uring-uringan apalagi Dila hari ini izin untuk pergi ke rumah mamanya, karena sudah lama tidak di rapihkan dan di tinggal.

__ADS_1


Adila kembali dengan wajah pucat dan mata yang tidak seperti biasanya, mami menanyai Dila apakah kondisinya baik-baik saja. Adila hanya diam dan pergi memasuki kamar. Aku menyusulnya, "Honey, ada apa? kamu kok meremas perut seperti itu, kamu haid? sakit sekali ya?" Adila masih diam, dan meremas tangan ku, buliran keringat bercampur air mata, aku tersadar bahwa celana coklat yang di pakainya basah. "Honey, ini darah kan? kamu kenapa sayang?" Tanpa pikir panjang aku menggendongnya membawanya ke rumah sakit terdekat. "Honey, sabar ya, sebentar lagi kita sampai." Setibanya di ruang UGD kami dipinta dokter memasuki ruang tindakan. Aku kaget saat dokter meminta persetujuan ku untuk melakukan oprasi kuret, karena Adila mengalami pendarahan. "Pak, kita harus segera mengambil tindakan, transfusi akan segera dilakukan, kita harus melakukan oprasi secepatnya." Dokter menjelaskan padaku yang bingung, "Dok bagaimana bisa melakukan kuret, istri saya tidak hamil dok?" "Jadi anda belum mengetahuinya pak, istri anda telah hamil usianya baru 3 minggu, karena rahimnya lemah dan janinnya luruh begitu saja." Aku hampir menghempaskan tubuh ku jika tidak sedang duduk sekarang. Ya Allah istri ku bahkan belum tau kabar bahagia ini tapi kau ambil kebahagian darinya, salah apa kami ya Allah. Aku segera menanda tangani surat persetujuan itu. "Baiklah dok, lakukan yang terbaik untuknya." "Harap bersabar ya pak, berdoa lah meminta pertolongan Allah, kami akan berusaha semampu kami." Dokter menguatkan dan berlalu begitu saja.


__ADS_2