
Arsal berjalan menuju kelas melewati koridor, penampilannya terlihat lugu namun jangan salah pesonanya mengalahkan senior di kampusnya.
Arsal Ibrahim Arafi, seorang mahasiswa ke dokteran di Harvard University.
Pada malam itu sebenarnya Arsal sudah mendapatkan undangan khusus untuk meneruskan pendidikannya namun ia tau, ayahnya pasti melarangnya untuk belajar di sana, namun neni nya menelfon dan ayahnya pun dengan terbuka mengizinkannya untuk pergi belajar dan tinggal sementara waktu di sana.
Aditama Yusuf Arafi. Dengan senang hati ia menerima undangan pertukaran pelajar ke Inggris, namun sepintas dia bingung ayahnya pasti melarang, abangnya baru saja pergi meninggalkan Indonesia untuk menjadi seorang dokter terbaik. Langkah gontainya menerjang latai marmer rumahnya, "Ada apa Tama? bicaralah pada ayah, wajah mu begitu gelisah dan binggung?" tanya sang ayah yang menikmati kopinya di ruang keluarga.
"ini." Tama menyerahkan amplop berwarna putih itu dengan beberapa berkas dirinya.
"Setelah membacanya ayah tidak akan mengizinkan ku kan? sebaiknya aku melupakannya saja." jujur Tama, selama ini Tama mati matian belajar hanya untuk hal ini, ia hanya ingin pergi melihat Inggris, tempat yang membuat bundanya jatuh hati dan mungkin belajar atau tinggal disana sedikit lebih lama.
"Mengapa kau berpendapat seperti itu? ayah tau ini impian mu, belajar disana kan?" Tama masih diam dan sepertinya kali ini dia sudah menyerah.
"Berkemaslah, siapkan apa saja yang kau butuhkan, jika ada yang kurang bilang pada ayah, ayah akan penuhi." Tama terbelak mendengar penrnyataan ayahnya.
"Benarkah? ayah mengizinkannya? serius?" Zulfikar hanya tertawa melihat anaknya yang melompat kegirangan, maklum usia Tama baru 12 tahun minggu kemarin, dan 12 tahun juga Adila pergi meninggalkannya, berbarengan juga dengan keberangkatan Arsal ke Amerika.
Satu Bulan Berlalu....
"Tidak terasa ya yah, sudah satu bulan abang dan Mas Tama pergi, Vara iri dengan mereka yang bisa pergi karena beasiswa." gusar Vara pada ayahnya.
__ADS_1
"Haiii kamu kenapa Vara? jika kamu mau sekolah di luar sama seperti abang dan mas mu, carilah sekolah yang kamu mau dan ayah dengan senang hati membiayayi kamu." Ucap Zulfikar serius.
"Tidak mau, itu membuat akan membuat ku berjauhan dengan ayah dan bunda, sudah cukup Vara tidak bisa melihat bunda dan Vara tidak mau tidak dapat melihat ayah." Vara menangis dalam pelukan ayahnya.
" Vara, ayah dan bunda akan selalu ada buat Vara, abang dan Mas Tama, kami akan selalu menyayangi kalian semua, bahkan bunda yang tidak terlihat oleh kalian pun pasti menemani langkah kalian selama itu pada jalan yang benar."
"Ayah, boleh Vara tau, kenapa ayah tidak mencari pengganti bunda? ketika banyak teman perempuan ayah yang dengan senang hati menerima ayah."
"Vara, hati ayah bagaikan cermin, retak tak bisa utuh lagi, sayang mungkin bisa sebagian hati ayah menerima mereka namun keseluruhannya tidak, maka ayah memilih tidak, bunda mu cinta pertama ayah, cinta yang baru ayah dapat ketika menghalalkannya."
"Tapi apa ayah tidak kesepian, rumah ini terlalu besar, dan Vara pernah baca pria itu berbeda dengan wanita, pria tidak bisa hidup sendiri."
"Kata siapa? sebelum ayah menemukan bunda ayah hidup sendiri, tidak dengan oma atau aunty Jefrina dan aunty Rasya, hanya sendiri tinggal di tiap tiap negara berbeda karena bisnis."
"Ketika bunda datang, juga biasa saja, namun ketika bunda hadir lebih lama di sisi ayah, mengisi ruang kosong dan keheningan rumah ini, ketika bunda menginginkan seorang bayi, semuanya hanya bisa ayah gambarkan dalam memori, tidak bisa terungkapkan itu karena semuanya sangat indah."
"Ayah, bunda itu orang seperti apa?"
"Bunda orang yang lembut, sabar, penuh pengertian dan pertimbangan, berfikir dari segala aspek dan sisi yang berbeda, bunda sangat mencintai keluarga nya baik keluarga oma atau neni, dan tentunya bunda juga seorang yang tangguh memiliki ilmu agama yang baik." Zulfikar mengingat ingat segala hal tentang Almarhumah istrinya.
"Satu hal yang meniru dan sangat terlihat di kamu Vara."
__ADS_1
"Apa yah?"
"Mata, dan tekwondo, bunda sudah menerima sabuk hitam DAN I, tapi bunda berhenti saat hamil Abang mu."
Adivara menenggelamkan kepalanya pada dada ayahnya, di elusnya lembut rambut peri kecilnya itu.
"Ayah, terimakasih sudah menjadi ayah yang baik untuk kami, Vara akan tetap ada di sini, tidak akan pernah meninggalkan ayah, walau Vara menginginkan untuk pergi, itu mungkin hanya sebentar saja dan Vara akan tetap dengan ayah." Vara mencium pipi ayahnya.
*****************
Tamat
Sampai di sini ya kawan...
Cerita ini masih ada sambungannya, meneruskan tentang 3 anak ini di masa depan, gak jauh dari perjuangan dan romantisme kok...
Namun masih dalam tahab proses, jadi mohon bersabar...
Terimakasih selama ini sudah membaca karya saya...
Sampai berjumpa di karya saya selanjutnya.
__ADS_1
😘😙😊