
Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam, dan membuat Rania tidur nyenyak dalam mimpi lelapnya. Kini mereka telah sampai di sebuah rumah yang mewah, namun terlihat kosong. Tapi tetap rapi dan juga bersih.
Terdengar suara pintu yang tertutup dengan keras.
Brak... Rania yang belum sepenuhnya sadar terkejut mendengarnya." Astaga Bos rese itu benar-benar kelewatan!. Bagaimana mungkin dia tidak membangunkanku dan malah mengagetkanku. Huh menyebalkan." Ucap Rania.
"Apa kau akan tidur terus di dalam mobil!" Ucap Arshel. Setelah ia membuka pintu mobil tempat Rania duduk.
Dengan wajah yang cemberut, Rania sudah berusaha menahan rasa kesalnya." Dia yang memaksaku untuk ikut, dia menarikku masuk mobil, dan sekarang dia menyalahkanku karena aku tidak keluar!, Menyebalkan sekali dia. Kapan sih aku akan benar di matanya." Ucap Rania. Namun Ia juga tetap keluar dan mengikuti langkah Arshel masuk ke dalam rumah mewah itu.
Setelah masuk, Rania disuguhkan dengan pemandangan yang wow sekali. Rumah ini sangat megah meskipun hanya berlantai 2. Namun semuanya barang-barang yang tidak murah. Itu sudah terlihat mulai dari pintu utamanya saja seperti dilapisi emas.
__ADS_1
Dan Ternyata, rumah itu ada rumah kedua orangtua Arshel dan juga Kakak Farhan. Atau lebih tepatnya rumah keluarga Dinata sewaktu mereka masih hidup, dan berkumpul. Rumah ini dipersembahkan oleh ayah Arshel dan juga Kak Farhan untuk istri tercintanya, sebelum mereka mengalami kecelakaan.
"Istirahatlah dahulu!. Mari aku antarkan kamu ke kamar tamu." Ucap Arshel.
Sebenarnya Rania sudah tidak mengantuk lagi, karena ia sudah menghabiskan 3 jam perjalanannya di mobil dengan tidur. Walaupun badannya sakit semua rasanya, namun Ia juga tidak mau membantah dan akan berujung dengan perdebatan.
Dan akhirnya ia pun mengikuti dan menuruti Apa yang diperintahkan Pak Bosnya itu.
"Baik Pak." ucap Rania. Kemudian ia bergegas masuk ke dalam kamar yang sudah ditunjukkan oleh Arshel.
"Wow Rumah ini bagus sekali. Bahkan kamar tamunya aja lebih besar dari rumahku." Kak Farhan Bagaimana masa kecil Kak Farhan, Aku sangat merindukan kakak, Lihatlah Kak!" aku sekarang berada di rumahmu yang dulu pernah kamu tempati.
__ADS_1
"Kakak apa kabar?" Apakah Kakak dulu hidup bahagia di rumah ini...?" Ucap Rania yang kini ia merasa sedih kembali karena mengingat kenangan dia bersama Kak Farhan.
Setelah membersihkan diri. Kemudian Rania pun bersiap-siap untuk pergi ke meja makan, untuk makan malam seperti yang diperintahkan Arshel. Rania menggunakan baju mamanya Arshel terasa pas dibadan." Wow sepertinya ukuran baju mamanya Kak Farhan dan aku sama." Ucap Rania sambil memutar-mutar di depan cermin.
Makan malam terasa hening sekali. Hanya sendok yang berdentingan dengan piring. Arshel masih sibuk dengan dunianya, sedangkan Rania masih diliputi kebingungan dan mempertanyakan untuk apa bosnya itu, mengajaknya pergi ke sini. Rasanya sungkan untuk bertanya karena Arshel dari tadi hanya diam saja.
Setelah selesai makan. Karena saking penasarannya, Rania pun akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Arshel.
"Permisi." Maaf Pak Apakah saya boleh bertanya?" Kenapa saya dibawa ke sini?. Dan apa Ada hal lain yang tidak saya ketahui Pak." Ucap Rania dengan hati-hati karena ia takut salah berbicara.
"Tidak ada." Aku hanya ingin ke sini saja, mengajakmu. Karena aku sudah bosan makan sendiri setiap hari. Dan aku rindu rumah ini, sekalian ingin mengajakmu kesini agar aku juga ada temannya." ucap Arshel dengan entengnya.
__ADS_1
Hah.. Are you crazy...?" Batin Rania, yang memandang Arshel dengan kesal. Bagaimana tidak ia ingin berleha-leha dan beristirahat di rumah, tapi malah dipaksa oleh Pak bosnya kesini. Dan hanya itu saja jawabannya. Ingin rasanya Rania melemparkan sendal yang ia pakai kekepala bosnya itu.