Tentang Dia

Tentang Dia
TD SEASON 2 Keputusan Yang Berat


__ADS_3

πŸ’ Happy Reading πŸ’


'Tidak mungkin! Ailen kau tau sendiri kan Nadia itu sehat! tidak,,,tidak! aku tidak percaya.'' Ucap Alin menggelengkan kepalanya.


Namun mau bagaimana lagi itu sudah menjadi kenyataanya, setelah Ailen menunjukkan surat dari Dokter. Kini giliran Alin yang menangis, meraung-raung. Karena ia juga pernah merasakan kehilangan kekasihnya akibat kangker itu juga.


Alin tidak menyangka kalau sahabatnya kan mengalami hal yang sama seperti yang di alami kekasihnya dahulu. Alin menjadi Dokter, semata-mata agar ia bisa menyelematkan orang-orang yang ia sayangi.


Ia tak ingin kehilangan untuk yang ke dua kalinya. Namun kini, ia malah kecolongan. Dan baru mengetahui Nadia sakit kangker.


Nadia sendiri sudah di minta oleh Dokter untuk opname, namun Nadia meminta untuk memberinya waktu dahulu. Karena ia sendiri masih belum menerima kenyataan kalau ia saat ini sedang sakit.


Nadia masih diam duduk termenung di atas kasurnya. Ia memikirkan bagaimana jika ia tak bisa sembuh, bagaimana dangan Papanya. Dan juga padahal ia akan mengungkapkan perasaannya kepada Raka. Tapi kini, ia tak tau harus bagaimana.


Tak lama kemudian, ponsel Nadia berdering, di situ tertulis Nama Raka. Nadia pun dengan segera menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum. Ia tak ingin Raka menyadari, kalau Nadia sedang menagis.


''Halo.'' Ucap Nadia.


''Hai, Halo juga. ''Bagaimana kabar mu Nadia?'' Tanya Raka.


''Kabarku baik Raka, kamu sendiri apa kabar?'' Ucap Nadia kepada Raka.


''Aku baik-baik juga. ''Oh iya, apa kau akhir-akhir ini sibuk?'' Tanya Raka dengan hati-hati.


''Tidak juga, aku hanya sedikit kurang enak badan.'' Ucap Nadia.


''Apa kau sakit, Kenapa suaramu sedikit serak? kau tidak menangis kan!'' Ucap Raka.


''Tidak, Siapa yang menangis! kau ini selalu saja seperti itu. Menyebalkan!'' Ucap Nadia.


''Baiklah Baiklah, aku minta maaf. Aku hanya ingin bertemu denganmu sebentar saja, ada yang ingin aku katakan kepadamu.'' Ucap Raka kepada Nadia.

__ADS_1


''Benarkah?, Kenapa tidak berbicara saja di telepon?'' Tanya Nadia.


''Ini sangat penting, bagaimana bisa aku membicarakannya di telepon, sudahlah! aku tunggu besok siang di kafe tempat kita pertama kali bertemu di London.'' Ucap Raka. Kemudian Ia pun langsung mematikan teleponnya begitu saja.


Namun sebelum itu, ia juga mengirim pesan kepada Nadia. Kalau Raka sudah membelikan sebuah gaun untuk Nadia, agar Nadia memakainya saat ia bertemu dengan Raka.


''Apa-apaan dia, menelepon sendiri, marah-marah. Lalu mematikannya!. Dia pikir dia siapa?'' Ucap Nadia dengan tersenyum, meskipun hatinya sedikit kesal, namun tidak di pungkiri, saat Raka menelponnya rasanya seperti beban yang ia derita tidak terasa.


''Apakah salah jika aku merasakan ingin cinta?, Apakah salah jika aku berharap aku bisa bersama dengan orang yang aku cintai.'' Ucap Nadia.


Namun, tak lama kemudian, tiba-tiba hidungnya mengeluarkan darah. Dan lama-kelamaan pandangannya pun menjadi buram. ''Kenapa Ini?, apa yang terjadi padaku?, Kenapa pandanganku menjadi kabur?'' Ucap Nadia.


''Ia berusaha untuk berdiri, namun tak lama kemudian, Nadia pun terjatuh lalu pingsan. Suara yang gaduh membuat Alin dan Ailen segera berlari ke kamarnya Nadia.


Dan saat Alin membuka pintu kamarnya, Alin dan Ailen pun terkejut, melihat Nadia sudah terbaring di atas lantai, dengan tak sadarkan diri. Mereka berdua sangat panik, Lalu, dengan segera Ailen dan Alin membawa Nadia ke rumah sakit. Tanpa di sadari oleh Alin, sebenarnya Alin sendiri juga seorang dokter. Tapi mengapa ia lupa untuk memeriksa Nadia terlebih dahulu, dan malah ikutan panik.


Setetelah sampai di Rumah Sakit, segala peralatan pun sudah terpasang di badan Nadia. Alin pun juga sudah memeriksa keadaan sahabatnya itu. Kini Alin tengan berbicara dangan Devano, Alin berharap Devano bisa menyembuhkan penyakit Nadia.


''Aku sedang berbicara serius, bisakah kamu juga menanggapinya dengan serius juga!'' Ucap Alin.


''Baiklah-baiklah! aku akan berusaha semampu dan sebisaku, tapi semua kembali Aku serahkan pada yang memberi kehidupan.'' Ucap Devano, kemudian Devano pergi begitu saja meninggalkan Alin.


''Sungguh menyebalkan, bisa-bisanya Aku belum selesai berbicara dia sudah pergi begitu saja. Aku harap dia benar-benar berusaha. Aku tidak ingin kehilangan Nadia, sebagai seorang sahabat, aku seharusnya bisa menolongnya. Tapi aku sekarang tidak bisa berbuat apa-apa.'' Ucap Alin, sembari ia berdoa agar Tuhan memberi kesembuhan untuk Nadia.


Di sisi lain, Raka terus mencoba menghubungi Nadia, namun telepon genggam nya tak jua tersambung. ''Kemana sebenarnya Nadia?, aku sudah menghubunginya sejak pagi tadi, tapi sampai sekarang belum juga di angkat!'' Gerutu Raka.


''Kau kenapa? pagi-pagi sudah menggerutu.'' Ucap Jayden, saat ia melihat Raka tengah menggerutu kesal.


''Aku sedang mencoba menelepon Nadia, tadi malam aku sudah menelponnya. Kami akan janjian untuk bertemu nanti. Tapi dari pagi, aku sudah menghubunginya, namun tidak juga di angkat olehnya.'' Ucap Raka.


''Mungkin dia sedang sibuk, jadi jangan terlalu berpikir yang negatif. Santai saja. Lagi pula, bukankah lebih baik kamu menyelesaikan pekerjaan mu dahulu. Bukannya malah mondar-mandir tidak jelas seperti ini.'' Ucap Jayden, Seraya menepuk pundak Raka.

__ADS_1


''Aku sudah menyelesaikannya sejak tadi, karena aku rencananya akan mengajak bertemu Nadia. Tapi dianya malah tidak mengangkat telepon ku.'' Ucap Raka.


''Ya sudah, nanti biar aku mencoba menghubunginya juga, sekarang lebih baik kita makan siang dulu. Aku sudah lapar.'' Ucap Jayden, Seraya menarik tangan Raka untuk mengajaknya makan di restoran.


Namun saat Raka dan Jayden baru saja tiba di restoran, Raka tidak sengaja menabrak seseorang di sana. Hingga membuat makanan yang dibawa seseorang itu tumpah berantakan.


''Kamu ini, jalan pakai mata enggak sih?, aku sudah antri dari tadi dan sekarang makananku tumpah seperti ini.'' Ucap gadis itu, ternyata yang di tabrak oleh Raka adalah Alin.


Alin pergi ke restoran untuk memesan makanan. Karena dari semalam ia belum sempat makan, kebetulan Ailen juga sudah datang. Jadi mereka bergantian untuk menjaga Nadia.


''Maafkan saya, saya tidak sengaja.'' Ucap Raka. Kemudian ia membantu Alin untuk berdiri.


''Tunggu sebentar!, sepertinya aku pernah melihatmu? tapi di mana ya?'' Ucap Alin, Seraya mengingat-ingat.


''Aku ingat! kau kan yang ada di foto ponsel sahabatku.'' Ucap Alin. Ia begitu senang saat ia bisa mengingat apa yang ia lupakan.


''Sahabat?, mungkin anda salah orang.'' Ucap Raka, kemudian Raka pun pergi begitu saja dan menyusul Jayden.


''Sombong sekali, kenapa ya setiap cowok yang tampan pasti memiliki safat yang sombong! Ya sudahlah! lebih baik aku pesan kembali makanannya Ailen pasti sudah kelaparan! ini semua gara-gara cowok itu.'' Gerutu Alin.


-


-


-


-


-


Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman-teman. LIKE, RATEβ˜† 5, VOTE DAN KOMEN, karena itu adalah sebagai bentuk dukungan untuk Mala supaya lebih bersemangat lagi.

__ADS_1


Salam Sayang Dari Nadia doa in Nadia ya semoga ia bisa sembuh πŸ’—


__ADS_2