
π Happy Reading π
''Aku di sini dulu kak, aku mau main dulu di rumah Ma'i.'' Ucap Taqy.
''Ya sudah, nanti siang aku akan menjemputmu.'' Ucap Jayden. Lalu Rania menyuruh Taqy untuk masuk lalu menyuruhnya untuk sarapan.
Setelah puas main-main di rumah Ma'i nya Taqy pun pamit untuk pulang. Sedangkan Rania rencananya ia akan berkunjung ke makam Farhan lalu setelah itu ke panti.
Sedangkan di kantor Raka sedang termenung memikirkan kliennya, karena kliennya memintanya untuk pergi ke London. Mereka akan membangun cabang perusahaan disana. Belum lagi tadi Jayden datang untuk memberi tahu kalau perusahaannya yang kini sedang ia rintis sedang berada dalam masalah.
Dan Jayden memerlukan bantuan Raka. Raka bingung, jika harus meninggalkan rumahnya. Apa lagi, pasti tidak akan sebentar di sana.
Mau tak mau ia harus segera membicarakan masalah ini dengan Mama dan Papanya. Raka pun kemudian membereskan barang-barangnya lalu segera bergegas untuk pulang.
Sesampainya di rumah ternyata rumah masih dalam keadaan sepi, hanya para karyawan di rumah saja yang terlihat. Raka pun kemudian bertanya dengan salah satu pelayannya yang bernama Paman Jalu, yang sedang menyapu di halaman.
''Mama kemana Paman?'' Tanya Raka.
''Nyonya, katanya tadi mau pergi ke panti Tuan muda.'' Jawab Paman Jalu.
''Ke panti ya, terima kasih Paman. Kalau begitu saya pamit kembali mau menjemput Mama dulu, tolong titip bawakan tas saya ke dalam.'' Ucap Raka.
''Baik Tuan.'' Jawab Paman Jalu, kemudian Raka pun kembali melajukan mobilnya untuk menjemput Mamanya di panti.
Sesampainya di Panti, ternyata Mamanya pun terlihat sudah bersiap-siap untuk pulang. Rania terkejut melihat Raka sudah ada di sini. Bahkan ini belum jam pulang kantor.
''Kamu ada di sini Nak?'' Tanya Rania.
''Iya Ma, kebetulan pekerjaan Raka sudah selesai. Makannya Raka bisa pulang lebih cepat.'' Jawab Raka.
''Apa kamu ke sini mau menjemput Mamamu? apa kamu tidak mau mampir masuk dulu sebentar Nak, Naynay sangat rindu padamu Nak.'' Ucap Bu Ella.
''Iya Naynay, sepertinya lain kali saja. Karena Raka akan sekalian menjemput Papa di kantor.'' Ucap Raka.
''Ya sudah, Tapi ingat! lain kali harus mampir dan lebih lama di sini, kalau bisa sesekali menginaplah! Ajak Mama Papamu juga.'' Ucap Bu Ella.
''Siap Naynay, lain kali Raka akan menginap.'' Ucap Raka. Kemudian mereka pun berpamitan, dan Raka pun melajukan kendaraannya menuju AR Group, kantor Papanya.
__ADS_1
Namun saat di perjalanan, Arshel menelepon Rania, dan mengabarkan kalau ia sudah berada di rumah. Akhirnya Rania pun memberitahukan putranya untuk pulang saja, toh Papanya juga sudah pulang. Jadi mereka tak perlu lagi pergi ke AR group.
Mobil Raka sudah sampai kembali ke rumahnya. Rania pun bergegas masuk, untuk segera memasak. Karena Raka dan Arshel sangat menyukai masakan Rania, jadi selama ini Rania lah yang memasak dan di bantu para pelayannya.
Sedangkan Raka, ia pun langsung ke ruang kerja untuk menemui Papanya dan membicarakan soal ke pergiannya sebelum ia memberitahukan kepergiannya pada Mamanya.
Tok...tok..tok..
''Masuk.'' Terdengar sahutan suara Papanya dari dalam.
Raka pun masuk dan langsung duduk di sofa sebelah Papanya yang kini masih berkutat dengan laptopnya.
''Pah!'' Panggil Raka, Namun Arshel masih pokus dengan pekerjaannya hingga ia tak mendengar putranya memanggil.
''Papa!'' Panggil Raka sekali lagi, dan akhirnya Arshel pun mendengar putranya sedang memanggilnya, kemudian ia pun menoleh.
''Apa Nak? Kenapa tumben jam segini kau sudah pulang?'' Tanya Arshel pada putranya.
''Aku ingin membicarakan sesuatu hal yang penting Pah.'' Ucap Raka.
''Ya sudah, Katakanlah!'' Kata Arshel pada putranya.
''Apa! tunggu dulu kamu ke London ada meeting, atau gimana? kenapa tiba-tiba kamu mau pergi ke London?'' Tanya Arshel, pada putranya.
"Iya Pah, Hanya saja... mungkin Raka akan tinggal lebih lama di sana. Papa tau kan Raka baru membuka cabang baru? dan akhir-akhir ini, tiba-tiba terjadi masalah di sana." Ucap Raka.
"Lalu bagaimana dengan Jayden? apa dia juga akan pergi juga dan tinggal di sana juga?" Tanya Arshel pada putranya.
"Tentu saja kak Jay harus ikut, lagi pula dia yang bertanggung jawab di sana." Ucap Raka.
"Kau harus bilang dulu pada Mamamu, Tapi feeling Papa mengatakan, Sepertinya kau tidak akan diizinkan. Semangat berjuang." Ucap Arshel, sambil menepuk pundak putranya.
"Ah, Papa! Papa harus bantuin Raka untuk bicara sama mama. Raka juga tidak tega jika harus pergi meninggalkan Mama, di saat Mama baru pulih kesehatannya." Ucap Raka. Namun, tanpa di sadari mereka, ternyata Rania sudah berdiri di ambang pintu. Rania bermaksud memanggil suami dan putranya untuk makan malam.
"Ada apa dengan Mama? dan kenapa Raka harus berjuang untuk berbicara dengan Mama?" Tanya Rania, karena ia sendiri belum sepenuhnya mendengarkan percakapan suami dan putranya itu.
"Bukan apa-apa Mama, Apa makanannya sudah siap?" Tanya Raka, yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Karena Raka berpikir ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahukan Mamanya.
__ADS_1
"Makanan sudah siap, Mama ke sini untuk memanggil kalian. Ayo cepat! Nanti keburu dingin makanannya." Ucap Rania. Mereka pun kemudian makan malam bersama. Terdengar Hening bahkan Raka sebenarnya sedang tidak berselera untuk makan.
"Ada apa denganmu Nak? Apa makanannya kurang enak?" Tanya Rania pada putranya.
"Makanannya selalu enak Mama, apa pun yang Mama masak, semuanya pasti enak. Hanya saja Raka sedang tidak berselera untuk makan." Ucap Raka.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu Nak?" Tanya Rania, kemudian Rania pun berdiri menghampiri putranya.
"Mama, Raka nanti ingin berbicara sesuatu dengan Mama. Tapi setelah makan malam saja." Ucap Raka.
"Baiklah! sekarang ayo makan dulu yang benar. Jangan malas-malasan! nanti sakit malah, kalau tidak makan. Setelah selesai makan nanti baru kita bicara." Ucap Rania, kemudian mereka pun meneruskan makan malam mereka hingga selesai.
Setelah selesai makan malam, Rania pun kemudian beranjak menghampiri putranya yang kini sudah berada di kamarnya. Rania penasaran dengan apa yang akan putranya bicarakan. Sampai-sampai membuat Raka enggan untuk sekedar makan saja.
"Sepertinya sangat penting." Batin Rania.
Setelah masuk ke kamar putranya, Rania melihat Raka berdiri di balkon, entah apa yang sedang di pikirkan oleh putranya itu.
"Apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu? kenapa malah berdiri di balkon malam-malam. Udara malam sangat dingin, Ayo masuk saja!" Ajak Rania pada putranya.
"Baiklah Mama! ayo masuk," Ucap Raka, kemudian mengikuti Mamanya masuk ke dalam.
"Katakan!" Katanya kamu ingin membicarakan sesuatu dengan Mama." Ucap Rania.
"Mama, lusa Raka harus pergi ke London. Karena perusahaan baru Raka yang ada di sana sedang ada masalah. Dan kemungkinan Raka akan lama di sana." Ucap Raka.
Rania pun terkejut mendengarnya. Raka akan pergi jauh darinya, padahal dari kecil Raka belum pernah jauh dari Rania. Mungkin ini sudah saatnya Raka untuk mandiri. Dan Rania pun tidak bisa menghalanginya. Raka sudah dewasa, Raka sudah bisa menentukan Jalan hidupnya, dan Rania akan selalu mendukung apa pun keputusan putranya.
-
-
-
-
-
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak ya. Like, Rateβ5, Vote komen dan sarannya. Mala akhir-akhir ini kurang semangat. Jadi mohon dukungannya ya Teman-teman, jangan lupa ya.
Salam Sayang Dari Alex πππ