Tentang Dia

Tentang Dia
Menyerah pada takdir


__ADS_3

Mobil pun melaju dengan kencang menembus derasnya hujan kilat seakan menyertai sebuah kesedihan, Rania masih setia menatap rintik air hujan lewat kaca jendela mobil.


Walau Sebenarnya ada rasa takut, karena iya tidak ingin terlihat lemah didepan Arshel. Ia pun hanya bisa berdiam meskipun tangannya mengepal erat memegang ujung bajunya.


Mobil kini sudah memasuki pekarangan rumah Rania.


tanpa disuruh Rania pun bergegas kluar dari mobil dan langsung berpamitan pada bosnya itu.


"Trimakasih pak Arshel karna sudah mengantarkan saya sampai rumah." Ucap Rania.


Namun Arshel bukannya langsung pulang, malah ia ikut turun.


"Lo...lo...lo..looollooolooo pak, kok!! bapak malah ikut turun?. Kenapa nggak langsung pulang aja pak?" Tanya Rania.


"Apa kau akan tega membiarkan ku pulang saat hujan deras seperti ini. Aku sudah berbaik hati mengantarkanmu sampai rumah, apa kau juga tidak ingin memintaku untuk mampir atau sekedar untuk membuatkan ku minuman hangat teh atau kopi."

__ADS_1


"Pelit sekali kau!!, Bahkan pada atasanmu sendiri." Ucap Arshel dengan ketus.


"Aduh ... salah lagi aku!. Bos rese ini sebenarnya ingin apa sih?. Bukannya pulang malah membuat seakan aku orang pelit. apa dia tidak melihat aku sudah gemeteran gini." Batin Rania.


"Ehem.. .. Maafkan saya pak, bukan maksud saya seperti itu. Lagipula Saya tidak punya kopi atau pun teh. Karena saya Saya lebih suka minum susu." Ucap Rania.


"Lalu?" Walaupun tidak ada kopi ataupun teh, apa kamu akan tega langsung mengusir ku pulang saat hujan seperti ini." Ucap Arshel yang sengaja ingin tinggal lebih lama agar ia bisa mengorek informasi dari Rania tentang saudara kembarnya Farhan.


"Oh maaf Pak." Maaf, Baiklah Mari Pak masuk. Maafkan saya yang kurang sopan." Ucap Rania. Ia pun langsung mengambil kunci rumah dan membuka pintunya, lalu mempersilahkan Arshel untuk masuk ke dalam.


Iya pun tak lupa mengambil beberapa baju Farhan untuk diberikan kepada bosnya, agar Bosnya juga berganti baju karena tadi sempat kehujanan dan basah.


Setelah memberikan baju ganti untuk Arshel, Rania pun pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk mereka.


Setelah berganti baju Arshel mencium bau harum masakan dari arah dapur." Ah sudah lama sekali aku tak pernah mencicipi masakan rumah sendiri. Eh bukan rumahku! Astaga aku lupa Ini rumah karyawanku. Apa yang sedang Gadis itu lakukan?. Apakah ia sedang memasak?" Ucap Arshel kemudian ia bergegas pergi ke dapur untuk melihat Rania.

__ADS_1


Dan benar saja, ia melihat Rania sedang memasak dengan lihainya memainkan alat-alat dapur. Arshel merasa kagum Bagaimana mungkin Rania bisa ahli dalam memasak?. Bahkan harum masakannya pun sudah tercium oleh hidung Arshel, dan membuat perutnya meronta-ronta untuk segera diisi.


Karena biasanya gadis seusia Rania ataupun para gadis-gadis lainnya akan memilih untuk makan di restoran yang mahal ataupun bersenang-senang bersama teman-temannya.


"Mari Pak." Makanannya sudah siap Bapak makan terlebih dahulu setelah itu barulah pulang." Ucap Rania.


"Astaga Apa kau begitu bencinya denganku. Sampai-sampai dari tadi selalu mengusirkukau." Ucap Arshel.


"Bukan maksud saya begitu. Hoh... baiklah terserah bapak aja mari makan dulu." Ucap Rania dan mereka pun makan dengan tenang tanpa ada sepatah katapun.


Sesekali Arshel memuji masakan Rania yang ia anggap enak sekali walau hanya dalam hati.


Setelah selesai Arshel pun langsung menanyakan tentang Farhan. Asal dari mana dan bagaimana Farhan dan Rania bertemu?.


Dan Rania pun menceritakan semua tentang Farhan, dari awal pertemuan hingga saat Rania menyerah pada takdir. Kini mereka berdua diam dalam kebisuan. Arshel masih berpikir bahwa Farhan adalah saudara kembarnya yang dinyatakan tewas dalam kebakaran kecelakaan mobil dulu.

__ADS_1


__ADS_2