
Kini semua orang tampak lega , setelah mendengar penuturan dari dokter, "bahwa Rania sudah melewati masa kritisnya .
Namun dia masih terpengaruh oleh obat bius , kata dokter Rania Hanya tinggal menunggu sadar saja kok semoga tidak akan terjadi apa- apa lagi ," ucap Dokter .
Kak Vivi dan Kak Merry berniat untuk tetap Stay di rumah sakit , namun Arshel melarang dan menyuruh mereka untuk pulang saja dan beristirahat .
Sedangkan Arshel akan tetap tinggal di rumah sakit untuk menjaga Rania . Dan kini tinggallah Arshel seorang diri yang menjaga Rania .
Karna rasa lelah yang menyerang , tak terasa Arshel pun ketiduran.
Tak berselang lama Rania pun sadarkan diri dan mencoba untuk menggerakkan jari jemarinya sedikit demi sedikit .
Saat membuka mata ia pun bertanya-tanya di manakah ia berada karena yang saat ini ia lihat hanya ruangan serba putih dan bau obat-obatan yang pekat.
Badannya pun terasa remuk seperti habis dipukuli orang Sekampung .
Rania mengedarkan pandangannya, hingga akhirnya ia melihat seseorang tidur disamping tempat tidurnya sambil memegang tangan Rania .
"Siapakah dia ...? " Rania mencoba untuk melihat Siapa orang yang menjaga dirinya ,namun saat ia mencoba untuk bangun perut dan juga lengannya terasa sakit.
Hingga rintihan Rania terdengar oleh Arshel, " Hei kau sedang apa... ?" ucap Arshel.
"Pelan-pelan jangan banyak bergerak , kamu habis menjalani operasi ," ucap Arshel.
" Memangnya saya Kenapa Pak.... ? " tanya Rania.
__ADS_1
Bahkan Rania tidak ingat apa yang sudah terjadi padanya .
"Kau tadi tertembak , saat kau mencoba melindungiku .
" Apa yang kamu lakukan apa kau sadar itu sangat membahayakan nyawamu ? , jangan menjadi seorang Pahlawan Kesiangan.
" Lain kali pikirkan nyawamu sendiri ,"ucap Arshel panjang x lebar .
Dah kaya rumus matematika ajaππππ.
Rania pun merasa sedih ia berusaha menolong Arshel , namun yang ada ia malah disalahkan .Tanpa terasa air matanya pun menetes Ia pun memalingkan wajahnya ke samping , agar tidak terlihat oleh Arshel.
" Dia begitu tega sekali, " kalau tahu begini lebih baik aku membiarkannya tertembak ," ucap Rania tapi apakah aku setega itu sampai-sampai membiarkan seseorang mengalami musibah di depan mataku sendiri .
Arshel yang menyadari perkataannya yang salah , lantas ia pun meminta maaf kepada Rania .
" Maafkan aku ,"aku tidak bermaksud membuatmu bersedih , Aku hanya tidak mau terjadi apa-apa denganmu .
" Farhan sangat mencintaimu ,Aku tidak ingin orang yang dicintai kakakku terluka, " ucap Arsel namun Rania tetap diam saja.
Ia sudah terlanjur kesal, hingga malam semakin larut mereka masih berada dalam kebisuan di malam itu.
Dan tanpa terasa mereka pun terlelap dalam mimpi masing-masing.
Keesokan harinya matahari yang diam-diam mengintip dengan sinarnya , membangunkan Rania dari tidurnya .
__ADS_1
Haaaaah ( Rania menguap)
"Aduh ....aduh ternyata sakit juga , ke mana Bos cerewet itu ...???
"Pagi-pagi sudah menghilang . Oh mungkin dia sudah pulang , Biarkan saja aku malas bertemu dengannya ia akan merusak mood ku di pagi hari ,"ucap Rania.
Kemudian ia pun mencoba untuk pergi ke kamar mandi , namun saat ia akan bergerak rasa sakit kembali menyerangnya .
" Aduh kenapa sakit sekali.... ?, Kapan aku bisa sembuh Dan pulang... ? aku tidak ingin merepotkan siapapun lagi termasuk Bos cerewet itu ," guman Rania .
Lalu ia pun pelan-pelan mencoba untuk bangkit namun baru 1 2 langkah Rania sudah terjatuh karena tak sanggup menahan sakit di perutnya , saat ia mencoba untuk berjalan .
Dan dari arah pintu datanglah Arshel dengan terburu-buru menolong Rania .
" Apa yang kau lakukan ? ucap Arshel dan segera memapah Rania .
" Aku mau ke kamar mandi ," jawab Rania .
" Kenapa tidak memanggilku atau menelponku atau bisa juga menelepon suster ," ucap Arshel.
" Iya... iya aku salah ah ," Jawab Rania yang malas berdebat dengan Arshel .
Kemudian Arshel pun langsung membantu Rania kekamar mandi dengan menggendong Rania.
" Apa yang bapak lakukan , saya bisa berjalan sendiri, " ucap Rania
__ADS_1