
π Happy Reading π
''Haduh kalian ini, kalau bertemu pasti ribut. Tidak bisakah sehari saja tidak ribut! Mama pusing tahu, mendengarkannya.'' Ucap Rania sambil berkacak pinggang.
Mereka hanya terseyum saja saat Rania sudah mulai mengomel. Dan makan malam pun di mulai dengan tenang hingga selesai, tanpa ada keributan lagi.
Setelah selesai makan malam, kini Raka tengah sibuk membereskan pekerjaannya yang belum selesai. Tak lama kemudian datanglah Rania dengan membawakan 2 cangkir kopi untuk Suami dan juga putranya.
"Sampai kapan kalian akan begadang? ini sudah malam, sudah saatnya untuk tidur! di kantor bekerja, masa di rumah juga masih bekerja?" Omel Rania kepada suami dan juga putranya supaya mereka segera menghentikan pekerjaannya dan beristirahat.
"Iya iya istriku. Kau ini, semakin hari selain semakin cantik, kau juga semakin cerewet." Ucap Arshel sambil menghampiri istrinya yang kini tengah duduk di sofa lalu mencubit pipinya.
"Iss, kamu! di bilangi selalu seperti itu. Aku tau dan sadar kalau aku sangat menyukai uang. Tapi aku nggak mau kalian memforsir tenaga dan mengabaikan kesehatan kalian." Ucap Rania, ia sungguh kesal dengan suaminya jika di nasehati pasti cuma hanya iya-iya saja.
Namun setiap hari di ulangi. "Aduh, Mamaku ini tambah cantik deh kalau tidak cemberut," Ucap Raka yang kini ikut merayu Mamanya supaya tidak marah padanya juga.
"Kalian ini selalu begini, Mama akan marah kalau kalian masih bekerja! sekarang Mama mau tidur ngantuk. Ingat jika dalam waktu 5 menit belum juga berhenti Mama pastikan kalian akan tidur di sini, karena Mama akan menguncinya dari luar." Ancam Rania, kemudian ia pun pergi meninggalkan suami dan putranya, yang kini hanya menggelengkan kepala mereka, setelah mendengar titah Ibu Ratu.
Sedangkan Rania kini ia tengah menerima telepon dari Nadia. "Apa kabar Nak?" Tanya Rania pada Nadia.
"Kabar saya baik Tante, kabar Tante sendiri bagaimana? sudah baikan kan Tante?" Tanya Nadia, ia masih khawatir dengan Rania, ingat Rania itu idolanya Nadia.
''Kabar tante juga baik Sayang, kesehatan tante juga sudah mulai pulih kembali. Oh ya, bagaimana pekerjaanmu di sana? pasti betah di sana. Karena mungkin di sana banyak cowok yang lebih tampan dari pada di negara kita.'' Ucap Rania.
''Ah, biasa saja Tante, Semuanya sama bagi Nadia. Tak ada bedanya nya, perusahaan Papa yang di sini sedang banyak masalah, karena saking lamanya tidak terurus yang di sini, dan lebih mengurus yang di pusat.'' Ucap Nadia.
''Wah, kamu harus semangat ya, Tante doain semoga masalahnya segera cepat selesai.'' Ucap Rania, mencoba memberi semangat untuk Nadia.
''Iya Tante, terima kasih atas doanya. Maaf Tante malam-malam malah mengganggu istirahat Tante. Selamat beristirahat Tante, Nadia pamit undur diri. Lain kali Nadia telepon lagi.'' Ucap Nadia. Kemudian Nadia pun berpamitan dan mematikan teleponnya.
Rania tersenyum mengingat Nadia. Nadia adalah gadis yang manis, pasti sangatlah cocok jika Raka dan Nadia berpasangan. Namun Rania pun menggelengkan kepalanya mengingat sifat putranya seperti itu. Entah sampai kapan putranya itu menjauhi wanita.
__ADS_1
''Aku rasa, ini semua gara-gara Jennie. Kemudian Rania pun kembali berdiri dan melihat ke ruangan kerja putranya dan suaminya. Ternyata lampu sudah padam. Arshel terlihat sedang minum di dapur. Sedangkan Raka, mungkin sudah kembali ke kamarnya.
''Belum tidur sayang?'' Tanya Arshel, Lalu ia pun menghampiri Rania saat ia melihat istrinya berjalan menuruni tangga.
''Belum ngantuk, Kenapa kamu belum masuk ke kamar! aku sudah menunggumu dari tadi.'' Ucap Rania.
''Sebentar lagi, ini juga baru minum.'' Jawab Arshel.
''Apa Raka sudah tidur?'' Tanya Rania.
''Mungkin sudah, karena setelah kau menyuruh kami untuk segera istirahat, Raka langsung berpamitan pergi ke kamarnya.'' Ucap Arshel.
''Lihatlah putramu! jika di suruh langsung menurut, tapi kau! selalu saja ada alasannya. Inilah, itulah. Ingatlah kita sudah tidak muda lagi. Perbanyak istirahat, jaga kesehatan, kurangi pekerjaan. Toh perusahaanmu kan sudah ada yang mengurus, lagi pula Raka juga mengurusnya.'' Ucap Rania.
Haduh, jika Rania sudah mulai mengomel, Arshel tak akan mampu untuk menjawabnya lagi. Istrinya memang benar, semuanya sudah ada yang mengurus. Raka pun juga sudah mengurusnya, walaupun Raka sendiri juga memiliki perusahaannya sendiri. tapi Arshel masih sangat suka bekerja, jika untuk berleha-leha rasanya itu sangat tidak cocok untuk karakternya.
''Tapi lebih baik iyain aja dulu, dari pada Rania tidak berhenti mengomel.'' Batin Arshel.
Rania pun hanya menggelengkan kepalanya, ''Hais, Apakah aku memang secerewet ini. Perasaan, dulu aku tidak Cerewet deh. Kenapa setelah aku pikir-pikir, aku lebih sering mengomeli Mas Arshel.
Ke esokan harinya...
Pagi-pagi sekali, Raka sudah rapi. Ia akan bersiap-siap untuk pergi ke kantornya. Setelah ia mendapatkan telepon dari kliennya, bahwa pagi ini kliennya akan meminta untuk bertemu secara tiba-tiba. Karena beliau sedang ada keperluan di jam berikutnya.
Bahkan Raka tidak sempat untuk sarapan. Ia begitu sangat terburu-buru. Rania pun menitipkan bekal sarapan untuk Raka kepada suaminya.
''Bawalah bekal ini, nanti berikan kepada Raka. Tadi Raka belum sempat sarapan. Dan buru-buru pergi ke kantor.'' Ucap Rania.
''Iya Sayang. Lagi pula, mungkin Raka sedang ada rapat dengan klien. Dan mungkin mereka akan ada pertemuan di restoran. Jadi apa perlu kamu membawakan bekal makanan.'' Ucap Arshel.
''Tentu saja perlu, entah itu di makan atau tidak, bawakan saja. Mama sangat khawatir Putramu itu sangat gila kerja. Seharusnya nya dia juga meluangkan waktunya untuk kehidupan pribadinya. Bukan hanya menghabiskan waktunya untuk bekerja.'' Ucap Rania.
__ADS_1
''Ya sudah, mana? kemudian Arshel pun juga berpamitan. Tak lama setelah kepergian Arshel, Jayden dan Taqy pun datang berkunjung.
''Ma'i.'' Teriak Taqi setelah mobil mereka berhenti di halaman rumah Rania.
''Halo anak-anak, tumben pagi-pagi sudah main kesini, Apa ada hal yang sangat penting?'' Tanya Rania.
''Raka sudah pergi ke kantor ya Ma'i?'' Tanya Jayden.
''Sudah berangkat. Malahan berangkatnya pagi-pagi tadi. Apa ada keperluan penting?'' Tanya Rania.
''Ada perlu penting dengan Raka Ma'i, Tapi nanti saja, biar Jayden menyusul ke kantornya Raka. Ya sudah Ma'i Jayden pamit ke kantornya Raka dulu.'' Pamit Jayden, lalu masuk kembali ke mobilnya.
''Taqy!, kau mau ikut apa mau di sini dulu?'' Tanya Jayden.
''Aku di sini dulu kak, aku mau main dulu di rumah Ma'i.'' Ucap Taqy.
''Ya sudah, nanti siang aku akan menjemputmu.'' Ucap Jayden. Lalu Rania menyuruh Taqy untuk masuk lalu menyuruhnya untuk sarapan.
-
-
-
-
-
-
Jangan lupa tinggalin jejak ya. Like, Rateβ5, Vote komen dan sarannya. Mala akhir-akhir ini kurang semangat. Jadi mohon dukungannya ya Teman-teman, jangan lupa ya.
__ADS_1
Salam Sayang Dari Jayden πππ